telkomsel halo

Konflik Timur Tengah tekan Bitcoin ke US$62 ribu

05:58:00 | 21 Jun 2026
Konflik Timur Tengah tekan Bitcoin ke US$62 ribu
JAKARTA Harga Bitcoin kembali terkoreksi tajam dan turun ke kisaran US$62.000 pada perdagangan Jumat (19/6), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen negatif tersebut memicu aksi jual di pasar aset digital dan memperbesar gelombang likuidasi pada perdagangan derivatif.

Bitcoin sempat merosot hampir 5% secara intraday hingga menyentuh level US$62.601. Pelemahan ini turut menyeret mayoritas aset kripto utama ke zona merah.

Data CoinGlass mencatat total likuidasi pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai sekitar US$579,43 juta. Posisi long mendominasi dengan nilai likuidasi sebesar US$496,62 juta, sementara posisi short tercatat sekitar US$82,81 juta. Secara keseluruhan, lebih dari 139.000 trader terdampak oleh gejolak pasar tersebut.

Bitcoin menjadi kontributor terbesar dengan nilai likuidasi mencapai US$191,49 juta, disusul Ethereum sebesar US$135,46 juta. Sejumlah aset digital lain, seperti XRP, Solana, Cardano, dan HYPE, juga mengalami tekanan signifikan.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai penurunan harga Bitcoin mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

“Ketegangan geopolitik mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto. Kondisi ini diperburuk oleh tingginya penggunaan leverage yang memicu likuidasi berantai dan memperbesar tekanan jual,” ujarnya.

Menurut Fyqieh, level US$60.000 menjadi area krusial yang akan menentukan arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Selama mampu bertahan di atas level tersebut, peluang konsolidasi dan pemulihan masih terbuka.

Namun, apabila tekanan jual terus berlanjut dan harga menembus level tersebut dengan volume tinggi, risiko koreksi yang lebih dalam diperkirakan meningkat.

“Area US$60.000 menjadi support psikologis penting. Jika mampu dipertahankan, Bitcoin berpotensi membangun momentum pemulihan secara bertahap. Sebaliknya, penembusan di bawah level itu dapat membuka ruang pelemahan lebih lanjut,” kata Fyqieh.

Meningkatnya volatilitas pasar dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan baru ke wilayah Lebanon Selatan. Perkembangan tersebut terjadi di tengah upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di kawasan.

Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini menghadapi area resistensi di kisaran US$64.000 hingga US$66.000. Jika berhasil menembus zona tersebut, peluang kenaikan menuju level US$74.000 hingga US$76.000 semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan menembus area itu berpotensi membuat pergerakan harga tetap terbatas pada rentang US$60.000 hingga US$65.000.

Sinyal dari data on-chain menunjukkan tekanan bearish masih mendominasi. Rasio Realized Profit/Loss 30 hari tercatat berada di bawah level 1, mengindikasikan realisasi kerugian masih lebih besar dibandingkan pengambilan keuntungan.

Selain itu, indikator Short-Term Holder MVRV juga masih berada di bawah titik impas, yang menunjukkan sebagian investor jangka pendek belum kembali mencatatkan keuntungan.

Meski demikian, sejumlah indikator mengisyaratkan mulai terbentuknya area akumulasi di sekitar level US$60.000. Likuiditas beli pada order book pasar spot dilaporkan meningkat, menandakan adanya minat investor untuk menyerap tekanan jual pada level yang lebih rendah.

Fyqieh mengingatkan investor untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko di tengah kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.

“Volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Investor perlu menerapkan manajemen risiko yang ketat, menggunakan leverage secara konservatif, dan terus memantau level support utama sebelum mengambil keputusan investasi,” tutupnya.

GCG BUMN
Ke depan, arah pergerakan Bitcoin akan dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik, arus dana institusional, sentimen pasar global, serta kemampuan harga bertahan di atas level support US$60.000. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories