telkomsel halo

Pelecehan digital banyak dilakukan orang terdekat korban

06:08:00 | 17 Jun 2026
Pelecehan digital banyak dilakukan orang terdekat korban
JAKARTA (IndoTelko) Pelanggaran atau pelecehan yang difasilitasi teknologi (tech-enabled abuse) ternyata lebih banyak melibatkan orang-orang yang dikenal korban dibanding pelaku anonim di internet. Temuan tersebut terungkap dalam studi global terbaru Kaspersky yang melibatkan 7.600 responden di 19 negara.

Hasil riset menunjukkan hampir separuh korban pelecehan online mengaku pelakunya berasal dari lingkungan sosial mereka sendiri. Teman menjadi kelompok yang paling banyak disebut sebagai pelaku dengan porsi 15%, diikuti pasangan saat ini sebesar 10%, rekan kerja 8%, anggota keluarga 7%, serta mantan pasangan 6%.

Sebaliknya, hanya 40% responden yang menyebut pelaku merupakan orang yang tidak mereka kenal.

Kaspersky mencatat sejumlah negara dengan tingkat kasus pelecehan online oleh orang terdekat yang lebih tinggi dibanding rata-rata global, termasuk Indonesia, Amerika Serikat, Inggris, Italia, Spanyol, dan India.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ancaman digital tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dapat muncul dari hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, baik dalam lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan.

Studi yang sama juga menemukan adanya perbedaan signifikan berdasarkan kelompok usia. Generasi Z menjadi kelompok yang paling banyak mengalami pelecehan berbasis teknologi, dengan hampir 60% responden mengaku pernah menghadapi setidaknya satu bentuk pelanggaran online dalam 12 bulan terakhir.

Tingkat pemahaman terhadap istilah tech-enabled abuse juga lebih tinggi di kalangan generasi muda. Sebanyak 81% responden Gen Z menyatakan familiar dengan istilah tersebut, sementara pada kelompok Baby Boomers angkanya hanya mencapai 64%.

Dari sisi gender, perempuan melaporkan tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Sebanyak 62% perempuan mengaku merasa tidak aman saat beraktivitas di dunia digital, sedangkan pada laki-laki angkanya tercatat 54%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan ruang digital tidak dirasakan secara setara oleh semua kelompok pengguna. Bagi sebagian perempuan, internet tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan produktivitas, tetapi juga ruang yang menghadirkan tekanan emosional dan risiko keamanan yang lebih besar.

Di Indonesia, Kaspersky mencatat sebanyak 917 deteksi unik stalkerware sepanjang periode 2024 hingga 2025. Stalkerware merupakan perangkat lunak yang digunakan untuk memantau aktivitas seseorang tanpa persetujuan mereka dan sering dikaitkan dengan kasus pengawasan dalam hubungan personal.

Temuan lain menunjukkan tingkat kekhawatiran masyarakat Indonesia terhadap keamanan digital masih cukup tinggi. Hanya 21% responden yang merasa sebagian besar aman saat beraktivitas online, sementara 79% lainnya mengaku setidaknya pernah merasakan ketidakamanan di ruang digital.

Meski demikian, tingkat kesadaran terhadap isu tech-enabled abuse tergolong tinggi. Sebanyak 61% responden Indonesia menyatakan memahami istilah tersebut dan 93% mengaku pernah mendengarnya.

Principal Security Researcher Kaspersky GReAT, Tatyana Shishkova, mengatakan ancaman yang berasal dari orang terdekat sering kali lebih sulit dikenali dibanding serangan siber konvensional.

Menurutnya, pelaku biasanya memanfaatkan akses yang telah dimiliki sebelumnya terhadap perangkat, akun, atau data pribadi korban sehingga aktivitas tersebut tidak selalu terlihat sebagai ancaman.

“Kasus-kasus seperti ini sering tersembunyi dalam interaksi sehari-hari, perangkat yang dipercaya, maupun akses bersama terhadap akun dan data. Karena itu, peningkatan kesadaran serta penerapan praktik keamanan digital yang baik menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko,” ujarnya.

Associate Professor University College London sekaligus Head of Gender and Tech Research Lab, Dr. Leonie Maria Tanczer, menambahkan bahwa pelecehan berbasis teknologi sering kali berakar dari relasi yang telah terjalin sebelumnya.

Menurutnya, lingkungan digital dapat mempercepat eskalasi konflik karena memungkinkan tindakan pengawasan, intimidasi, atau kontrol dilakukan secara terus-menerus dengan intensitas yang lebih tinggi.

Untuk mengurangi risiko, Kaspersky mendorong pengguna meningkatkan keamanan akun melalui penggunaan kata sandi yang kuat, mengaktifkan autentikasi dua faktor, membatasi akses terhadap perangkat dan akun pribadi, serta secara berkala memeriksa aplikasi dan izin yang terpasang pada perangkat.

Perusahaan juga mengingatkan pentingnya mengenali tanda-tanda awal pelecehan digital, mendokumentasikan insiden yang terjadi, serta mencari bantuan dari orang terpercaya maupun lembaga pendamping apabila menjadi korban.

GCG BUMN
Seiring meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap teknologi digital, Kaspersky menilai literasi keamanan siber dan pemahaman terhadap bentuk-bentuk pelanggaran online menjadi elemen penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi semua pengguna. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories