JAKARTA (IndoTelko) Salesforce memperkenalkan Headless 360, pendekatan baru yang memungkinkan seluruh kapabilitas platformnya diakses melalui Application Programming Interface (API), Model Context Protocol (MCP), maupun Command Line Interface (CLI) tanpa bergantung pada antarmuka browser. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan membangun konsep Agentic Enterprise, yakni lingkungan bisnis yang memanfaatkan agen kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan proses kerja secara lebih mandiri.
Co-Founder Salesforce, Parker Harris, mengatakan paradigma penggunaan platform bisnis kini mulai bergeser. Jika sebelumnya aktivitas bisnis dijalankan melalui interaksi pengguna dengan aplikasi, kini agen AI dapat mengakses data, alur kerja, dan logika bisnis secara langsung tanpa melalui antarmuka pengguna.
“Headless 360 dirancang agar seluruh layanan Salesforce dapat dimanfaatkan secara terbuka oleh agen AI, sehingga organisasi mampu membangun otomatisasi bisnis dalam skala yang lebih luas,” ujarnya.
Melalui Headless 360, Salesforce menghadirkan tiga kapabilitas utama, yakni akses langsung ke platform melalui API dan MCP, lapisan pengalaman baru yang memungkinkan agen AI berinteraksi melalui berbagai kanal seperti Slack, WhatsApp, layanan suara, hingga platform kolaborasi lain, serta mekanisme tata kelola untuk mengawasi perilaku agen AI selama proses pengembangan maupun operasional.
Bagi pengembang, Salesforce menyediakan lebih dari 60 tool MCP dan berbagai kemampuan pemrograman yang telah dikonfigurasi untuk mendukung integrasi dengan agen coding berbasis AI, seperti Claude Code, Cursor, Codex, dan Windsurf. Perusahaan juga memperluas kemampuan Agentforce Vibes 2.0 melalui dukungan multi-model AI yang memungkinkan agen memahami konteks bisnis secara lebih mendalam.
Di sisi pengembangan aplikasi, Salesforce menghadirkan DevOps Center MCP yang memungkinkan otomatisasi proses pengembangan dan deployment menggunakan perintah berbasis bahasa alami. Perusahaan mengklaim pendekatan tersebut dapat memangkas siklus pengembangan hingga 40%.
Selain itu, Salesforce meluncurkan Agentforce Experience Layer, lapisan antarmuka yang memungkinkan agen AI menampilkan panel keputusan, kartu informasi, dan alur kerja secara konsisten di berbagai platform, termasuk Slack, ChatGPT, Claude, Gemini, dan Microsoft Teams.
Untuk mendukung tata kelola AI, Salesforce memperkenalkan sejumlah perangkat baru seperti Testing Center, Custom Scoring Evaluations, Agent Script, Observability, Session Tracing, dan A/B Testing guna membantu organisasi memantau performa agen AI di lingkungan produksi.
Perusahaan juga menghadirkan Agent Fabric sebagai pusat orkestrasi yang memungkinkan organisasi mengelola berbagai agen AI, model bahasa besar (LLM), serta perangkat pendukung dalam satu lingkungan terintegrasi.
Menurut Salesforce, keberhasilan implementasi AI enterprise tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model AI, tetapi juga oleh ketersediaan konteks bisnis, alur kerja, tata kelola, dan mekanisme keamanan yang mendukung operasional perusahaan.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Salesforce turut memperluas AgentExchange sebagai marketplace yang kini menampung ribuan aplikasi, agen AI, server MCP, dan layanan mitra yang dapat diintegrasikan langsung ke dalam platform Salesforce.
Melalui Headless 360, Salesforce menargetkan dapat mempercepat adopsi AI enterprise dengan menghadirkan platform yang memungkinkan agen AI bekerja lebih mandiri tanpa mengabaikan aspek tata kelola, keamanan, dan kontrol organisasi. (mas)