JAKARTA (IndoTelko) - Kebiasaan orang tua membagikan foto, video, dan informasi anak di media sosial atau yang dikenal sebagai sharenting ternyata berpotensi menurunkan kewaspadaan terhadap keamanan digital. Temuan tersebut terungkap dalam riset bersama Kaspersky dan Singapore Institute of Technology (SIT).
Dalam studi bertajuk Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data, peneliti menemukan bahwa semakin sering orang tua membagikan kehidupan anak mereka di media sosial, semakin rendah motivasi mereka untuk menerapkan langkah-langkah perlindungan digital.
Deputy Director Teaching and Learning Academy SIT, Jiow Hee Jhee, menjelaskan bahwa analisis penelitian menunjukkan adanya kesenjangan perilaku. Ketika eksposur digital anak meningkat akibat aktivitas berbagi konten, upaya perlindungan terhadap data dan privasi justru tidak bertambah secara seimbang.
Riset yang melibatkan 152 responden dari sembilan negara di Asia Pasifik dan Mesir itu juga mengungkap dilema antara kenyamanan dan keamanan. Sebanyak 87% responden menyadari bahwa membatasi akses media sosial hanya untuk keluarga dan teman dekat dapat mengurangi risiko privasi. Namun, hampir separuh responden menganggap pengaturan tersebut cukup menyita waktu.
Temuan serupa terlihat pada pengelolaan izin berbagi data dan penghapusan metadata atau lokasi geografis dari unggahan. Meski mayoritas orang tua memahami manfaat langkah tersebut dalam melindungi privasi, banyak yang menilai prosesnya merepotkan.
Senior Manager Cyber Safety Education Asia Pacific Kaspersky, Trishia Octaviano, menilai faktor kenyamanan masih menjadi tantangan utama dalam penerapan keamanan digital. Menurutnya, banyak orang tua memahami pentingnya perlindungan privasi, namun enggan melakukan pengaturan tambahan karena dianggap membutuhkan waktu dan usaha.
Meski demikian, mayoritas orang tua tetap percaya diri dalam mengelola privasi digital keluarga. Lebih dari 80% responden yakin mampu membatasi penyebaran informasi pribadi, menghindari unggahan yang berpotensi mempermalukan anak, serta mengatur privasi akun media sosial dengan baik.
Namun di sisi lain, sebanyak 72% responden mengakui tetap rentan terhadap ancaman peretasan meskipun telah melakukan pengaturan privasi pada akun media sosial mereka.
Sebagai langkah mitigasi, Kaspersky menyarankan orang tua untuk rutin meninjau pengaturan privasi akun, menghapus akun lama yang tidak digunakan, menghindari membagikan lokasi yang sering dikunjungi anak, serta memantau aktivitas digital anak secara aktif. Penggunaan aplikasi kontrol orang tua juga dinilai dapat membantu menjaga keamanan dan privasi keluarga di dunia digital.
Menurut Jiow, pola pikir orang tua terhadap aktivitas sharenting memiliki pengaruh besar terhadap tingkat perlindungan privasi digital anak. Karena itu, edukasi mengenai risiko berbagi informasi secara berlebihan di media sosial perlu terus diperkuat agar kesadaran keamanan digital dapat berjalan seiring dengan aktivitas berbagi konten. (mas)