telkomsel halo

Kaspersky deteksi lebih dari 92 ribu serangan malware berkedok layanan AI

07:41:00 | 04 Jun 2026
Kaspersky deteksi lebih dari 92 ribu serangan malware berkedok layanan AI
JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap lonjakan ancaman siber yang memanfaatkan popularitas kecerdasan buatan (AI). Sepanjang Januari hingga awal Mei 2026, solusi keamanan Kaspersky mendeteksi lebih dari 92.000 serangan malware dan aplikasi tidak diinginkan yang menyamar sebagai layanan maupun agen AI populer.

Temuan tersebut dipaparkan dalam konferensi tahunan Kaspersky HORIZONS yang berlangsung di Roma, Italia. Para pelaku kejahatan siber diketahui memanfaatkan nama besar platform AI untuk mengelabui pengguna agar mengunduh file berbahaya.

Dari seluruh serangan yang terdeteksi, aplikasi ChatGPT palsu menjadi kedok yang paling banyak digunakan dengan porsi mencapai 49 persen. Sementara itu, layanan AI Claude dan Gemini masing-masing menyumbang sekitar 18 persen dari total ancaman yang ditemukan.

Peneliti Kaspersky juga mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agen AI, termasuk versi palsu dari sejumlah alat AI yang tengah berkembang pesat seperti OpenClaw. Malware tersebut mencakup trojan perbankan, spyware, eksploitasi, hingga downloader yang dapat menginstal muatan berbahaya tambahan ke perangkat korban.

Pada Mei 2026, Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) turut mengungkap kampanye baru yang dikaitkan dengan kelompok Advanced Persistent Threat (APT) Silver Fox. Dalam kampanye tersebut, pelaku menyebarkan aplikasi Claude palsu untuk sistem operasi Windows, macOS, dan Linux.

Aplikasi palsu itu ditujukan kepada pengguna yang mencari akses ke layanan AI. Setelah dijalankan, program berbahaya tersebut diam-diam menginstal malware yang memungkinkan pelaku memperoleh akses jangka panjang ke perangkat korban sekaligus mencuri informasi sensitif.

Kepala Unit Rusia dan CIS di Kaspersky GReAT, Dmitry Galov, mengatakan kehadiran agen AI di lingkungan perusahaan mengubah konsep kepercayaan dalam sistem digital modern.

“Pengenalan agen AI ke lingkungan perusahaan mengubah sifat kepercayaan itu sendiri. Setiap tindakan otomatis kini menjadi bagian dari rantai sistem dan pertukaran data yang lebih luas. Karena itu, keamanan tidak lagi hanya berfokus pada perlindungan titik akhir, tetapi juga bagaimana mengendalikan kecerdasan, izin, dan keputusan yang menyebar di seluruh proses yang digerakkan AI,” ujar Galov.

Ia menambahkan, para pelaku kejahatan siber saat ini semakin aktif memanfaatkan layanan AI populer sebagai umpan untuk mencuri data pribadi maupun dana milik korban.

“Pengguna perlu menyadari bahwa layanan AI yang sedang populer sering dimanfaatkan sebagai sarana penipuan. Dalam lanskap ancaman yang terus berkembang, solusi keamanan yang andal menjadi bagian penting dari kehidupan digital,” katanya.

Untuk meminimalkan risiko serangan, Kaspersky menyarankan perusahaan menggunakan solusi keamanan yang mampu memberikan perlindungan real-time, visibilitas ancaman, investigasi, serta respons insiden secara menyeluruh. Organisasi juga dianjurkan memanfaatkan layanan keamanan terkelola dan intelijen ancaman guna meningkatkan kemampuan deteksi terhadap ancaman siber yang terus berkembang.

Sementara bagi pengguna individu, Kaspersky mengimbau agar hanya menggunakan layanan AI dari penyedia terpercaya yang memiliki rekam jejak kuat dalam aspek privasi dan keamanan. Pengguna juga diminta menghindari penggunaan bot AI anonim atau tidak dikenal yang berpotensi digunakan untuk mengumpulkan data pribadi.

GCG BUMN
Selain itu, penggunaan solusi keamanan digital tetap menjadi langkah penting untuk mencegah akses ke situs phishing serta memblokir instalasi malware yang dapat membahayakan perangkat maupun data pengguna. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories