telkomsel halo

Bitcoin tertekan, investor kripto waspadai geopolitik

06:57:00 | 30 May 2026
Bitcoin tertekan, investor kripto waspadai geopolitik
JAKARTA (IndoTelko) - Pasar aset kripto global kembali mengalami tekanan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu aksi jual pada aset berisiko, termasuk kripto.

Berdasarkan data CoinGecko, kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 4% dalam 24 jam terakhir menjadi US$2,48 triliun. Bitcoin sempat merosot dari level US$76 ribu ke bawah US$73 ribu sebelum kembali bergerak stabil pada perdagangan berikutnya.

Ethereum turut mengalami koreksi lebih dari 5% hingga turun di bawah US$2 ribu. Sementara sejumlah aset kripto utama lain seperti Solana, XRP, BNB, Dogecoin, dan Hyperliquid melemah antara 6% hingga 14%.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan tekanan pasar saat ini dipicu kombinasi faktor geopolitik, kondisi makroekonomi global, serta melemahnya minat investor institusional.

“Investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian global, sehingga tekanan jual di pasar kripto semakin besar,” ujarnya.

Data CoinGlass mencatat lebih dari US$900 juta posisi kripto terlikuidasi di pasar derivatif dalam 24 jam terakhir. Sebagian besar berasal dari posisi long yang sebelumnya mengantisipasi kenaikan harga.

Gelombang likuidasi tersebut terjadi setelah Bitcoin kehilangan area support di kisaran US$75 ribu dan Ethereum turun di bawah level US$2.100.

Kondisi pasar juga diperburuk kenaikan harga minyak dunia akibat memanasnya hubungan Washington dan Teheran. Harga minyak WTI tercatat naik 2,6% hingga menembus US$91 per barel, sedangkan Brent mendekati US$96 per barel.

Kenaikan harga energi memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi yang bertahan lebih lama dan kemungkinan tertundanya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

“Pasar kripto membutuhkan likuiditas yang lebih longgar untuk mendorong pemulihan. Jika inflasi tetap tinggi dan pemangkasan suku bunga tertunda, tekanan terhadap aset spekulatif bisa berlanjut,” kata Fyqieh.

Di sisi lain, minat institusional terhadap aset kripto juga mulai melemah. ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih sekitar US$733 juta dalam sehari, menjadi penarikan terbesar sejak Februari 2026.

Arus keluar tersebut memperpanjang tren negatif ETF Bitcoin spot menjadi delapan hari perdagangan berturut-turut. Sementara ETF Ethereum spot juga mencatat arus keluar selama 12 hari beruntun.

Secara kumulatif, dana keluar dari ETF Bitcoin spot AS dilaporkan mencapai US$2,33 miliar dalam dua pekan terakhir.

Tekanan pasar turut membuat kapitalisasi Bitcoin turun ke sekitar US$1,09 triliun dan keluar dari daftar 10 aset terbesar dunia berdasarkan kapitalisasi pasar.

Meski demikian, Fyqieh menilai posisi Bitcoin masih cukup kuat di tengah dominasi aset lain seperti emas dan saham teknologi global.

“Kapitalisasi pasar Bitcoin yang masih berada di kisaran US$1 triliun menunjukkan aset ini tetap memiliki posisi penting dalam pasar global,” jelasnya.

Ke depan, pasar diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik, arah suku bunga AS, pergerakan harga minyak, serta arus dana ETF kripto.

GCG BUMN
Investor juga diimbau lebih disiplin dalam mengelola risiko di tengah tingginya volatilitas pasar, terutama bagi pelaku yang menggunakan leverage dalam transaksi aset digital. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories