telkomsel halo

Kaspersky: Separuh orang dewasa pernah alami kekerasan digital

06:59:00 | 24 May 2026
Kaspersky: Separuh orang dewasa pernah alami kekerasan digital
JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky mengungkap hampir separuh orang dewasa di dunia pernah mengalami tech-enabled abuse atau pelanggaran yang difasilitasi teknologi, meski sebagian besar tidak menyadarinya.

Berdasarkan riset terbaru Kaspersky, sebanyak 45,7 persen responden mengaku mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan digital dalam 12 bulan terakhir. Namun, hanya 32 persen yang memahami arti dari istilah tech-enabled abuse tersebut.

Kekerasan digital mencakup berbagai tindakan seperti pelecehan online, penguntitan siber, pencurian identitas, pemantauan tanpa izin, hingga pengucilan digital melalui media sosial maupun perangkat elektronik.

“Kurangnya pemahaman membuat banyak pengalaman kekerasan digital tidak dikenali, tidak dilaporkan, bahkan dianggap normal,” ujar Profesor Madya UCL Computer Science sekaligus Head of Gender and Tech Research Lab, Dr. Leonie Maria Tanczer.

Riset yang melibatkan 7.600 responden di berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan korban rata-rata mengalami 2,7 bentuk pelanggaran digital sekaligus. Bentuk yang paling umum adalah pengucilan digital dengan tujuan menyakiti korban serta pesan bernada ofensif.

Kaspersky juga menemukan sekitar 8,5 persen responden pernah mengalami penguntitan digital (cyberstalking), sementara 5,4 persen menjadi korban doxing atau penyebaran data pribadi tanpa izin.

Ancaman lain yang disorot ialah maraknya stalkerware, yaitu aplikasi mata-mata yang dapat dipasang diam-diam di perangkat korban untuk memantau lokasi, pesan, panggilan, hingga aktivitas internet.

Sepanjang 20242025, lebih dari 34 ribu pengguna di dunia terdeteksi terdampak stalkerware. Secara total, Kaspersky mencatat lebih dari 127 ribu pengguna telah menjadi korban dalam lima tahun terakhir.

Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT, Tatyana Shishkova, mengatakan stalkerwareberbahaya karena bekerja diam-diam di latar belakang sehingga korban sering tidak menyadari perangkat mereka sedang dipantau.

“Sebagian besar korban tetap tidak menyadari bahwa setiap gerakan dan aktivitas mereka sedang dimonitor,” ujarnya.

Kaspersky mengimbau pengguna meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda perangkat disusupi, seperti baterai cepat habis, penggunaan data tidak wajar, aplikasi asing, atau pengaturan perangkat yang berubah tanpa diketahui.

GCG BUMN
Pengguna juga disarankan memakai aplikasi keamanan digital terpercaya, memperkuat kata sandi akun, serta mencari bantuan organisasi pendamping jika mencurigai adanya pengawasan digital. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories