telkomsel halo

Geopolitik tekan bitcoin ke level US$79.000

05:37:00 | 10 May 2026
Geopolitik tekan bitcoin ke level US$79.000
JAKARTA (IndoTelko) — Harga Bitcoin turun 2,28% dalam 24 jam ke level US$79.637,54 pada Jumat (8/5), dipicu sentimen risk-off global setelah Iran menolak proposal perdamaian Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan pelemahan Bitcoin kali ini lebih didorong lonjakan risiko geopolitik ketimbang faktor fundamental industri kripto.

"Hal ini memicu sentimen risk-off sehingga investor cenderung sementara keluar dari aset berisiko, termasuk kripto," ujarnya.

Tekanan semakin dalam akibat likuidasi posisi long berleverage tinggi di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, sekitar US$97,53 juta posisi Bitcoin terlikuidasi. ETF Bitcoin spot di AS juga mencatat net outflow sebesar US$268,5 juta pada hari yang sama.

"Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan kecil saja dapat memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual," jelas Fyqieh.
Secara teknikal, Bitcoin gagal menembus resistance di US$82.800 dan kini menguji support di kisaran US$78.500—US$78.000. Fyqieh menilai level tersebut krusial bagi arah pergerakan jangka pendek. "Jika harga ditutup harian di bawah US$78.000, risiko koreksi lanjutan ke area US$76.300 akan semakin besar," katanya.

Di sisi lain, minat investor institusi dinilai belum surut. Net inflow ETF Bitcoin spot AS pada April 2026 mencapai US$2,44 miliar—tertinggi sepanjang tahun—dengan total aset kelolaan kumulatif sekitar US$102 miliar sejak 2024. Produk ETF BlackRock IBIT mendominasi dengan kepemilikan sekitar 812.000 BTC senilai US$62 miliar.

Data on-chain juga menunjukkan akumulasi masih berjalan, dengan wallet berisi lebih dari 1.000 BTC mencatat pembelian sekitar 270.000 BTC dalam 30 hari terakhir—akumulasi bulanan terbesar sejak 2013. Cadangan Bitcoin di exchange turut turun ke level terendah dalam tujuh tahun.

"Tekanan saat ini lebih mencerminkan reaksi jangka pendek terhadap risiko global, bukan sinyal bahwa minat institusi terhadap Bitcoin telah hilang," ujar Fyqieh.

Pasar kini mencermati sejumlah katalis, termasuk perkembangan diplomasi AS-Iran, arus dana ETF mingguan, dan arah kebijakan suku bunga The Fed. Pembahasan Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY) yang dijadwalkan masuk agenda pemungutan suara Senat pada Juni 2026 juga dinilai berpotensi menjadi sentimen positif.

GCG BUMN
"Kejelasan regulasi akan menjadi katalis penting. Jika aturan semakin jelas, investor institusi akan lebih percaya diri masuk ke aset digital," tambah Fyqieh.(ak)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan