telkomsel halo

Serangan Spyware di Asia Tenggara naik 18%

07:57:00 | 07 May 2026
Serangan Spyware di Asia Tenggara naik 18%
JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky mencatat lonjakan serangan spyware yang menyasar organisasi di Asia Tenggara sepanjang 2025. Total lebih dari 800 ribu serangan berhasil digagalkan, tepatnya 818.939 insiden, atau meningkat 18% dibandingkan tahun sebelumnya.

General Manager ASEAN dan Asia Emerging Country Simon Tung menilai tren ini menunjukkan pergeseran pola ancaman siber. Pelaku kini tidak sekadar mengganggu operasional, tetapi juga aktif mengumpulkan intelijen strategis dari jaringan perusahaan.

Spyware sendiri merupakan perangkat lunak berbahaya yang bekerja secara tersembunyi untuk mengumpulkan data pengguna. Ancaman ini berpotensi memicu kebocoran informasi sensitif, penyalahgunaan data, hingga penurunan kinerja sistem dan jaringan.

Secara tahunan, peningkatan tertinggi terjadi di Singapura dengan lonjakan 111%, diikuti Filipina (85%) dan Malaysia (75%). Indonesia mencatat kenaikan 35%, sementara Vietnam naik 8%. Berbeda dengan negara lain, Thailand justru mengalami penurunan sebesar 53%.

Salah satu kasus yang disorot adalah operasi siber bertajuk Operation ForumTroll yang terungkap pada Maret 2025. Kampanye ini memanfaatkan celah zero-day pada browser Google Chrome untuk menyusup ke organisasi di sektor media, pemerintahan, pendidikan, dan keuangan.

Pelaku menggunakan email phishing yang dipersonalisasi, menyamar sebagai undangan forum internasional, untuk mendapatkan akses awal. Setelah itu, mereka menyebarkan malware seperti LeetAgent dan Dante yang memungkinkan pemantauan sistem secara diam-diam dan berkelanjutan.

Menurut Kaspersky, kampanye ini menegaskan peran spyware dalam praktik spionase siber modern. Dengan kemampuan beroperasi tanpa terdeteksi, pelaku dapat mengumpulkan data sensitif, memantau komunikasi internal, hingga membangun profil intelijen organisasi dalam jangka panjang.

GCG BUMN
Untuk menekan risiko, perusahaan disarankan memperkuat pertahanan siber, mulai dari pembaruan sistem secara rutin, pembatasan akses layanan jarak jauh, hingga pemanfaatan solusi keamanan berbasis intelijen ancaman. Selain itu, pencadangan data secara berkala dan terisolasi juga menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis saat terjadi insiden. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories