telkomsel halo

Salesforce dorong Indonesia menuju Agentic Enterprise

05:57:00 | 27 Apr 2026
Salesforce dorong Indonesia menuju Agentic Enterprise
JAKARTA (IndoTelko) - Salesforce memanfaatkan ajang Agentforce World Tour Jakarta 2026 untuk menunjukkan bagaimana perusahaan di Indonesia dapat membangun masa depan berbasis AI agentic atau Agentic Enterprise.

Dalam riset terbaru Salesforce, kepercayaan pekerja profesional atau knowledge workers di Indonesia terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dibandingkan kebijakan perusahaan. Sebanyak 68% responden mengaku penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari meningkatkan kepercayaan mereka dalam memanfaatkan AI untuk pekerjaan, sementara 70% merasa lebih percaya diri menggunakan alat AI di kantor.

Survei yang dilakukan YouGov untuk Salesforce tersebut melibatkan 1.002 knowledge workers di Indonesia guna memetakan persepsi mereka terhadap AI dan agentic AI.

Meski adopsi AI diprediksi semakin luas, tantangan berupa kesenjangan keterampilan masih menjadi hambatan. Hampir seluruh responden memperkirakan akan menggunakan AI dan agen AI dalam pekerjaan mereka, dan kurang dari 3% yang menyatakan tidak berencana memakainya.

Namun demikian, 37% responden mengaku ingin memahami keterampilan yang perlu dikembangkan di era AI. Sayangnya, hanya 33% yang menyebut perusahaan mereka telah memberikan pelatihan terkait penggunaan agen AI.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu fenomena Shadow AI, yakni penggunaan alat AI tanpa persetujuan perusahaan yang berpotensi memunculkan risiko keamanan data, ketidakakuratan informasi, hingga persoalan kepatuhan.

“Kepercayaan terhadap AI di Indonesia tumbuh dari bawah ke atas, dipicu rasa ingin tahu pribadi yang kini melampaui strategi perusahaan,” ujar Area Vice President & President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro.

Menurutnya, perusahaan perlu melampaui sekadar menyediakan akses ke alat AI dengan membangun tata kelola yang tepercaya, sistem tingkat perusahaan yang aman, dan dukungan keterampilan agar karyawan dapat memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.

Hal senada disampaikan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI, Silmy Karim, yang menilai teknologi informasi menjadi kunci percepatan transformasi nasional.

Riset tersebut juga mengungkap perubahan ekspektasi konsumen Indonesia yang semakin AI-first. Sebanyak 51% responden mengharapkan layanan lebih cepat dan efisien, 54% menginginkan akurasi lebih tinggi dan minim kesalahan, sementara 52% berharap solusi yang lebih inovatif dan cerdas dari perusahaan.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Salesforce memperkenalkan Agentforce sebagai platform terpadu yang menghubungkan manusia, agen AI, aplikasi, dan data dalam satu sistem. Platform ini dirancang untuk membantu organisasi bergerak dari penggunaan AI individu menuju kolaborasi skala perusahaan.

Acara ini dihadiri lebih dari 800 pelanggan dan mitra, serta menghadirkan berbagai sesi keynote, demo produk, dan diskusi industri. Sejumlah pelanggan seperti Mandiri InHealth, AXA Mandiri, Bank Syariah Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, dan Indo Kompresigma turut berbagi pengalaman transformasi digital bersama Salesforce.

GCG BUMN
Vice President & CTO Solutions ASEAN Salesforce, Gavin Barfield, menegaskan bahwa model bahasa besar (LLM) saja belum cukup untuk menghadirkan nilai bisnis nyata tanpa dukungan platform terpadu yang mampu menyatukan data, manusia, dan agen AI secara efektif. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories