telkomsel halo

80% perusahaan masih terkendala akses data untuk maksimalkan AI

06:06:00 | 24 Apr 2026
80% perusahaan masih terkendala akses data untuk maksimalkan AI
JAKARTA (IndoTelko) - Cloudera merilis survei global terbaru bertajuk The Data Readiness Index: Understanding the Foundations for Successful AI, yang mengungkap mayoritas perusahaan masih menghadapi tantangan serius dalam membangun fondasi data untuk implementasi AI skala besar.

Survei yang melibatkan hampir 1.300 pemimpin TI global ini menunjukkan paradoks: meski 96% organisasi mengaku telah mengintegrasikan AI ke proses bisnis inti dan 85% memiliki strategi data yang jelas, sekitar 80% menyatakan inisiatif AI mereka masih terhambat keterbatasan akses data di berbagai lingkungan.

Di Indonesia, kesenjangan antara keyakinan dan kesiapan terlihat jelas. Seluruh responden (100%) mengaku sangat yakin terhadap data organisasi mereka, namun hanya 26% yang menyatakan data mereka sudah sepenuhnya terkelola. Kondisi ini memunculkan fenomena “AI readiness illusion” atau ilusi kesiapan AI.

Chief Technology Officer Cloudera, Sergio Gago, mengatakan banyak perusahaan sebenarnya bukan kesulitan mengadopsi AI, melainkan mengoperasionalkannya di luar tahap eksperimen.

“AI hanya seefektif data yang mendukungnya. Tanpa akses mulus ke seluruh data, organisasi membatasi akurasi, kepercayaan, dan nilai bisnis yang dapat dihasilkan AI,” ujarnya.

ROI AI Masih Sulit Dicapai

Meski AI kini makin luas digunakan, banyak perusahaan belum mampu meraih return on investment (ROI) yang konsisten. Kendala utama yang disebut responden meliputi:

    kualitas data (22%)
    pembengkakan biaya (16%)
    integrasi buruk ke alur kerja yang ada (15%)
Selain itu, 73% responden mengaku kendala performa infrastruktur menghambat inisiatif operasional, menandakan sulitnya menskalakan AI di lingkungan yang terfragmentasi.

Masalah Tata Kelola dan Visibilitas Data

Sebanyak 84% responden yakin data mereka akurat dan lengkap. Namun optimisme itu sering menutupi persoalan mendasar seperti silo data, kualitas data yang tidak konsisten, dan akses terbatas.

Kurang dari satu dari lima responden (18%) menyatakan data mereka sepenuhnya terkelola, sementara 71% menyebut sebagian besar data sudah dikelola.

Di Indonesia, hampir setengah (48%) pemimpin TI menyebut keterbatasan visibilitas data sebagai hambatan utama. Selain itu:

    52% menyebut resistensi budaya berbagi data sebagai kendala
    31% menilai hasil AI kurang optimal akibat kualitas data buruk
    26% masih menghadapi silo data
Country Manager Indonesia Cloudera, Sherlie Karnidta, menilai adopsi AI di Indonesia cukup kuat, tetapi kesiapan data masih menjadi tantangan besar.

“Untuk melampaui tahap eksperimen dan mewujudkan ROI bisnis yang bermakna, organisasi harus menghilangkan silo dan memprioritaskan visibilitas data menyeluruh,” ujarnya.

Telekomunikasi Paling Siap, Tapi Masih Terkendala Infrastruktur

Kesiapan data berbeda di tiap industri. Di sektor telekomunikasi:

    54% memiliki visibilitas penuh atas lokasi data
    51% dapat mengakses seluruh data kapan saja
Bandingkan dengan sektor jasa keuangan:

    30% memiliki visibilitas penuh
    24% memiliki akses penuh
Dan sektor publik

    31% memiliki visibilitas penuh
    16% memiliki akses penuh
Meski unggul dalam kesiapan data, 60% responden sektor telekomunikasi tetap mengaku performa infrastruktur menghambat operasional.

Kesiapan Data Jadi Penentu Masa Depan AI

Seiring enterprise AI bergerak dari eksperimen menuju eksekusi, kesiapan data menjadi faktor pembeda utama antara perusahaan yang memimpin dan tertinggal.

GCG BUMN
Cloudera menegaskan organisasi yang mampu mengakses dan mengelola seluruh data mereka secara penuh, di mana pun data berada, akan lebih siap menghadirkan AI yang andal, terukur, dan bernilai bisnis tinggi. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories