telkomsel halo

Serangan Backdoor di Asia Tenggara meningkat

08:18:00 | 22 Apr 2026
Serangan Backdoor di Asia Tenggara meningkat
JAKARTA (IndoTelko) - Ancaman siber terhadap sektor bisnis di Asia Tenggara kian meningkat, terutama dari serangan backdoor yang memungkinkan pelaku mendapatkan akses tersembunyi ke sistem. Berdasarkan temuan Kaspersky, sepanjang 2025 tercatat lebih dari 3 juta serangan backdoor berhasil dideteksi dan diblokir di kawasan ini.

Backdoor menjadi salah satu metode paling berbahaya karena dapat memberikan akses jarak jauh tanpa sepengetahuan pengguna. Setelah masuk, penyerang mampu mengontrol sistem, mencuri data sensitif, hingga menjalankan berbagai aktivitas berbahaya secara diam-diam.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah deteksi tertinggi, mencatat lebih dari 1,5 juta insiden, disusul Vietnam. Negara lain seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina juga mencatat jumlah serangan yang signifikan, meskipun dalam skala lebih rendah.

Dari sisi tren, peningkatan serangan backdoor secara tahunan menunjukkan eskalasi yang patut diwaspadai. Malaysia mencatat lonjakan tertinggi, diikuti Indonesia, sementara beberapa negara lain menunjukkan tren yang lebih stabil atau bahkan menurun. Secara keseluruhan, serangan di kawasan Asia Tenggara meningkat sekitar 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, Kaspersky juga mencatat lebih dari 46 juta ancaman terhadap perangkat bisnis yang menyebar melalui media offline seperti USB atau file terinfeksi. Meskipun secara total mengalami sedikit penurunan, volume ancaman tetap tinggi di negara-negara dengan aktivitas digital yang besar, termasuk Indonesia.

Kondisi ini mencerminkan perubahan pola serangan siber, dari sekadar upaya masuk ke sistem menjadi mempertahankan akses dalam jangka panjang. Hal ini menuntut perusahaan untuk memperkuat kemampuan deteksi dini serta respons terhadap ancaman yang semakin kompleks.

Seiring meningkatnya adopsi kerja jarak jauh dan penggunaan perangkat yang tidak sepenuhnya terkelola, risiko serangan juga semakin meluas. Oleh karena itu, pelaku usaha didorong untuk memperkuat sistem keamanan, mulai dari pembaruan perangkat lunak secara rutin, pencadangan data, hingga penggunaan solusi keamanan yang mampu memberikan visibilitas menyeluruh terhadap infrastruktur TI.

GCG BUMN
Dengan lanskap ancaman yang terus berkembang, investasi pada keamanan siber menjadi kebutuhan utama bagi bisnis agar dapat melindungi data, menjaga operasional, serta meminimalkan potensi kerugian di masa depan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories