telkomsel halo

Kaspersky catat tren positif dan dorong adopsi SOC

07:41:00 | 10 Apr 2026
Kaspersky catat tren positif dan dorong adopsi SOC
JAKARTA (IndoTelko) - Kaspersky mengungkapkan peningkatan signifikan lanskap ancaman siber di Indonesia, baik dari sisi kompleksitas maupun volume. Sepanjang tahun lalu, tercatat lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web serta 39,7 juta ancaman terhadap perangkat berhasil dideteksi dan diblokir. Selain itu, sekitar 20% perusahaan di Tanah Air dilaporkan mengalami serangan rantai pasokan.

Di tengah tekanan ancaman yang terus berkembang, Kaspersky juga mencatat kinerja bisnis yang tetap bertumbuh. Secara global, perusahaan membukukan penjualan mendekati US$836 juta pada 2025 atau naik 4% secara tahunan, dengan kontribusi utama berasal dari segmen B2B yang meningkat 16%.

Kawasan Asia Pasifik menunjukkan tren serupa dengan pertumbuhan 4% YoY. Segmen B2B tumbuh 12%, sementara enterprise melonjak 22%. Bahkan, lini non-endpoint mencatat kenaikan hingga 40%. Di sisi konsumer, pertumbuhan pelanggan baru mencapai 19%, mencerminkan meningkatnya kesadaran terhadap keamanan digital.

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia, menilai kinerja ini tidak terlepas dari percepatan transformasi digital, adopsi cloud, serta pemanfaatan AI di kawasan. Menurutnya, posisi Kaspersky semakin strategis untuk mendukung keamanan ekosistem digital yang terus berkembang.

Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar prioritas dengan pertumbuhan bisnis 3% YoY. Segmen B2C bahkan mencatat lonjakan signifikan hingga 48%. Kaspersky juga memperkuat komitmennya dengan menunjuk Defi Nofitra sebagai Country Manager pertama di Indonesia.

Seiring meningkatnya ancaman, organisasi di Indonesia mulai beralih ke pendekatan keamanan yang lebih proaktif, salah satunya melalui pembangunan Security Operations Center (SOC). Berdasarkan riset Kaspersky, 58% pengambil keputusan TI di Indonesia meyakini SOC dapat meningkatkan keamanan, sementara 65% perusahaan berencana mengintegrasikan AI untuk memperkuat kapabilitas tersebut.

Namun demikian, implementasi SOC masih menghadapi sejumlah kendala, seperti keterbatasan data pelatihan berkualitas, minimnya talenta AI, serta kurangnya solusi yang sesuai di pasar. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mempercepat transformasi keamanan siber di dalam negeri.

Defi Nofitra menegaskan bahwa organisasi tidak lagi dapat mengandalkan sistem keamanan yang terpisah. Menurutnya, SOC terintegrasi yang didukung teknologi seperti SIEM dan intelijen ancaman real-time menjadi kunci untuk mendeteksi dan merespons serangan secara lebih cepat dan akurat.

Menjawab kebutuhan tersebut, Kaspersky menghadirkan SOC generasi baru yang mengintegrasikan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi, respons, dan otomatisasi. Pendekatan ini juga membantu meningkatkan visibilitas sistem TI, sekaligus menekan waktu deteksi dan respons terhadap insiden.

GCG BUMN
Melalui penguatan teknologi dan layanan tersebut, Kaspersky menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan siber Indonesia di tengah dinamika ancaman yang semakin kompleks. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories