JAKARTA (IndoTelko) - AMD semakin menegaskan perannya dalam mendukung eksplorasi luar angkasa melalui teknologi komputasi berperforma tinggi yang dirancang untuk kebutuhan misi modern. Seiring ambisi NASA beralih dari misi jangka pendek menuju kehadiran berkelanjutan di Bulan dan eksplorasi ruang angkasa dalam, kebutuhan akan komputasi otonom kini menjadi elemen krusial.
Dalam berbagai misi seperti Artemis II dan NISAR, teknologi komputasi dan inferensi AI menjadi fondasi utama. AMD mengandalkan pengalaman lebih dari dua dekade dalam mendukung misi antariksa, mulai dari rover Mars hingga satelit observasi Bumi, untuk menghadirkan pemrosesan data secara real-time langsung di wahana (edge). Pendekatan ini memungkinkan pengolahan data dalam jumlah besar menjadi informasi yang dapat segera digunakan, dengan latensi lebih rendah dan ketahanan sistem yang lebih tinggi.
Portofolio AMD yang mencakup CPU, GPU, FPGA, serta SoC adaptif memberikan fleksibilitas bagi berbagai kebutuhan misi. Teknologi ini memungkinkan sistem luar angkasa beroperasi secara cerdas dan otonom, bahkan dalam kondisi ekstrem dengan keterbatasan komunikasi ke Bumi.
Implementasi teknologi tersebut juga terlihat dalam kolaborasi industri. Blue Origin, misalnya, memanfaatkan AMD Versal AI Edge Gen 2 untuk pengembangan komputer penerbangan yang akan digunakan pada lander Mark 2 dalam misi pendaratan Bulan. Sementara itu, NEC mengintegrasikan teknologi AMD dalam pengembangan konstelasi satelit komunikasi optik guna meningkatkan konektivitas dan pemrosesan data antar-satelit.
Kemampuan komputasi di edge menjadi semakin penting seiring meningkatnya jarak misi dari Bumi. Teknologi SoC adaptif AMD yang tahan radiasi memungkinkan pemrosesan data langsung di orbit maupun permukaan Bulan, sehingga mengurangi ketergantungan pada bandwidth komunikasi yang terbatas. Hal ini menjadi kunci bagi operasi yang membutuhkan respons cepat dan otonomi tinggi.
Selain itu, pendekatan komputasi adaptif berbasis FPGA memungkinkan sistem diperbarui secara dinamis setelah peluncuran. Operator dapat memperbarui algoritma, menerapkan model AI baru, serta mengoptimalkan performa sistem sepanjang siklus hidup misi tanpa perlu intervensi fisik.
Pada misi seperti NISAR, yang merupakan kolaborasi antara NASA dan ISRO, teknologi AMD digunakan untuk memproses data radar dalam jumlah besar langsung di orbit. Pendekatan ini memastikan hanya data yang paling relevan yang dikirim ke Bumi, sehingga meningkatkan efisiensi sekaligus mempercepat pengambilan keputusan untuk kebutuhan seperti pemantauan iklim dan respons bencana.
Rekam jejak AMD juga terlihat dalam misi penting lainnya, termasuk rover Perseverance di Mars serta misi OSIRIS-REx. Teknologi FPGA AMD digunakan untuk mendukung navigasi hingga analisis sampel, menunjukkan keandalan sistem dalam lingkungan ekstrem.
Dengan standar ketahanan tinggi terhadap radiasi serta dukungan siklus hidup jangka panjang, AMD menghadirkan platform komputasi yang mampu memenuhi kebutuhan misi antariksa multi-dekade. Ke depan, perusahaan ini terus memposisikan diri sebagai penyedia teknologi inti untuk mendukung eksplorasi luar angkasa yang semakin kompleks, sekaligus memperkuat fondasi bagi era baru inovasi berbasis AI di luar Bumi. (mas)