Igloo tutup pendanaan Seri B US$46 juta

13:20:51 | 09 Jan 2023
Igloo tutup pendanaan Seri B US$46 juta
Co-Founder dan CEO Igloo, Raunak Mehta
JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan insurtech, Igloo, mengumumkan kesuksesannya menggalang dana tambahan senilai US$27 juta, yang menutup babak pendanaan Seri B sebesar US$ 46 juta.

Pendanaan Seri B untuk Igloo diawali dengan dana sebesar US$ 19 juta pada Maret 2022 dipimpin oleh Cathay Innovation, dengan tambahan investasi dari ACA dan sejumlah investor sebelumnya termasuk OpenSpace.

Babak pendanaan kali ini terdiri dari konsorsium investor berpengaruh termasuk BlueOrchard, Women’s World Banking Asset Management (WAM) dan Finnfund. InsuResilience Investment Fund II, yang diprakarsai oleh Bank Pembangunan Jerman KfW atas nama Kementerian Federal Kerjasama & Pembangunan Ekonomi Jerman (BMZ) yang dikelola oleh investor berpengaruh seperti BlueOrchard Finance Ltd., memimpin pendanaan lanjutanini bersama dengan WAM, Finnfund, La Maison, dan investor utama Seri B, Cathay Innovation.

“Dukungan dari para investor menunjukkan nilai dari proposisi teknologi kami dalam mempermudah akses asuransi dan lebih terjangkau untuk masyarakat yang belum terlayani, khususnya pekerja gig dan UMKM. Sebagai firma insurtech terdepan di Asia Tenggara, membangun ekosistem yang berkelanjutan menjadi prioritas utama bagi kami. Sekarang kami siap untuk memanfaatkan keahlian dan meningkatkan pertumbuhan di seluruh wilayah serta terus memperkuat portofolio produk dan layanan dalam mengatasi kesenjangan asuransi tradisional," kata Co-Founder dan CEO Igloo, Raunak Mehta.

Menurut Head of Private Equity Investments Asia BlueOrchard, Mahesh Joshi dengan keahlian, kemampuan, dan teknologi untuk mengembangkan produk-produk dan solusi yang secara langsung menguntungkan kelompok target perseroan.

"Igloo merupakan perusahaan yang tepat untuk mendukung misi kami dalam upaya melindungi dan meningkatkan ketangguhan komunitas-komunitas yang rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kami bangga mendukung Igloo yang merupakan perusahaan dengan model bisnis yang menguntungkan, berkelanjutan dan peduli akan lingkungan sosial," katanya.

Babak pendanaan seri ini membuktikan kepercayaan para investor terhadap performa cemerlang Igloo yang secara konsisten membawa cakupan asuransi ke segmen uninsured dan underinsured yang berjumlah besar di Asia Tenggara.

Menurut Google, dengan Temasek dan Bain & Co, dalam the e-Conomy SEA Report, menyatakan bahwa asuransi digital merupakan salah satu sektor yang terlihat tumbuh cepat dalam layanan keuangan digital, dengan pertumbuhan sebesar 64% year on year (yoy) dan diprediksi mencapai US$ 400 juta pada 2022.

Sektor ini juga diprediksi akan tumbuh hingga US$ 1 miliar pada 2025. Kehadiran insurtech dinilai dapat secara positif meningkatkan penetrasi, inklusi, dan literasi digital khususnya dalam industri asuransi di Indonesia. Data ini juga menunjukkan Indonesia sebagai salah satu negara berkembang potensial untuk industri insurtech.

Dana tambahan tersebut memungkinkan Igloo memiliki pondasi finansial selama beberapa tahun ke depan dan akan digunakan untuk menarik talenta engineering, produk, desain dan pengolahan data terbaik dari seluruh dunia, mengingat 50 persen tim Igloo difokuskan untuk penelitian dan pengembangan. Igloo juga sedang dalam proses mengidentifikasi dan mengamankan berbagai peluang merger dan akuisisi untuk membantu perusahaan mewujudkan visi ‘Asuransi untuk Semua’ (Insurance for All) sesegera mungkin.

Sejalan dengan komitmen Igloo dalam mendukung industri asuransi tanah air, Igloo telah menunjuk Henry Mixson sebagai Country Manager Igloo di Indonesia. Henry telah berpengalaman selama lebih dari 10 tahun di industri teknologi dan fintech. Sebelum bergabung dengan Igloo, Henry sempat menjabat sebagai Country Manager dan Regional Head of Credit Aspire Financial Technology dan merupakan anggota dari tim pendiri inti di Tunaiku/Amar Bank.

“Saya sangat senang bergabung dengan Igloo dan berharap dapat berkontribusi dalam misi perusahaan ini untuk menyediakan asuransi bagi semua. Saya optimis bahwa Igloo berada dalam jalur yang tepat dan memiliki posisi yang kuat dengan inovasi teknologinya untuk menyediakan asuransi yang sesuai kebutuhan dan terjangkau bagi setiap level masyarakat.” ungkap Country Manager Igloo Indonesia, Henry Mixson.

Di bawah kepemimpinan Henry, Igloo menargetkan peningkatan pertumbuhan perusahaan hingga tiga kali lipat pada 2023 dengan meluncurkan lebih banyak produk, menjalin kemitraan, menemukan lebih banyak mitra distribusi, dan membantu lebih banyak pelanggan sesuai kebutuhannya.

Hingga saat ini, Igloo telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 55 perusahaan di tujuh negara dan lebih dari 15 produk dalam rangkaian produknya yang terus berkembang. Perusahaan telah memfasilitasi lebih dari 300 juta polis dan meningkatkan premi bruto sebesar 30 kali lipat sejak 2019. Sejak awal didirikan, Igloo membuat asuransi lebih mudah diakses dan terjangkau melalui data dan teknologi di Asia Tenggara, dan merupakan satu-satunya insurtech di kawasan ini dengan semua ekonomi besar yang berkontribusi terhadap kinerjanya.

Baru-baru ini, Igloo meluncurkan produk Asuransi Indeks Cuaca parametrik pertamanya di Vietnam, salah satu dari lima negara pengekspor beras terbanyak.

Memanfaatkan kontrak pintar (smart contract) berbasis blockchain, produk ini mengotomatisasi pembayaran klaim yang dihitung menggunakan nilai yang telah ditetapkan sebelumnya untuk kerugian yang disebabkan cuaca atau bencana alam. Ke depannya, Igloo juga berencana untuk memperluas jangkauan produknya ke Indonesia sebagai negara penghasil padi terbesar ke-3 di dunia, untuk melindungi para petani padi yang belum tersentuh layanan asuransi.(wn)

Artikel Terkait
Telkom DES
More Stories
CCSI