telkomsel halo

Memahami kecerdasan buatan

09:21:55 | 15 Feb 2018
Memahami kecerdasan buatan
JAKARTA (IndoTelko) – Pada hari kasih sayang  ini, jutaan orang di seluruh Asia – dan seluruh dunia – akan menyatakan perasaan mereka dan merayakan hubungan istimewa dengan orang-orang yang mereka cintai.

Pada era modern ini, tidaklah aneh bila melihat beberapa orang yang akan menyatakan perasaan mereka kepada sebuah chatbot.

Di Tiongkok contohnya, sangat mungkin bagi orang untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’ kepada seorang wanita bernama ‘Xiaoice’, dan Ia adalah sebuah robot percakapan dengan Kecerdasan Buatan (AI).

Di Indonesia, kita  juga dapat mengucapkan selamat hari kasih sayang kepada Rinna, chatbot yang ditenagai oleh EQ dan Artificial Intelligence. Berkat AI, kita kini menyaksikan sebuah pergeseran paradigma dalam teknologi, dari sebuah dunia dimana kita harus memahami komputer kepada dunia dimana komputer mengenal dan mengerti maksud kita.

“Kecerdasan Buatan (AI) tidak hanya mengubah drastis bagaimana kita hidup, bekerja, dan bermain tetapi mengubah hubungan kita dengan teknologi. Di Microsoft, kami telah berinvestasi untuk Kecerdasan Buatan selama lebih dari 25 tahun, dan kami yakin dengan peluang-peluang yang akan didapat melalui Kecerdasan Buatan, dan bagaimana Kecerdasan Buatan dapat memperkuat akal manusia untuk menciptakan masa depan yang lebih baik lagi. Kini kami sedang mengembangkan Conversational AI, seperti robot percakapan, sebuah era baru dimana pengalaman digital kini dapat menyerupai bagaimana manusia berinteraksi dengan sesamanya. Dan terdapat banyak hal yang bisa disukai mengenai pengembangan baru ini,” ujar Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee kemarin.

Dalam rangka merayakan bulan kasih sayang Februari ini, Microsoft menyoroti perjalanan cintanya dengan Kecerdasan Buatan, mulai dari cinta pertamanya, ketika cinta bertumbuh, hingga cinta yang mendalam untuk teknologi.

Teknologi ini muncul dari pergeseran besar pada komputasi, sesuatu yang digerakkan oleh kemajuan teknologi Kecerdasan Buatan dan tercipta dari perilaku yang paling alami dari pada yang lainnya pada manusia – percakapan.

Perjalanan
Visi Microsoft adalah memungkinkan komputer untuk melihat, mendengar, berbicara, dan memahami manusia yang sudah dimulai sejak 25 tahun lalu ketika Bill Gates membangun Microsoft Research.

Pada tahun 2016, Microsoft menjadi perusahaan pertama yang mencapai keserupaan dengan manusia pada teknologi pengenalan ucapan, memungkinkan komputer untuk menerima percakapan sama seperti manusia.

Tepat bulan lalu, peneliti Microsoft menciptakan teknologi yang menggunakan kecerdasan buatan untuk membaca sebuah dokumen.

Pecapaian seperti itu sangatlah penting bagi pemakaian komputer untuk semua orang; karena ketika komputer bisa berbicara secara “manusia”, setiap manusia bisa berbicara dengan komputer. Dengan ini Microsoft Research sudah mengantongi banyak penghargaan terhormat nasional dan internasional, termasuk Turing Award.

Chatbot
Karya Microsoft seputar chatbot dengan cepat berkembang dengan peluncuran Xiaoice di Tiongkok. Robot pintar dengan logat bahasa yang alami ini diprogram untuk berperilaku layaknya seorang perempuan 18 tahun yang bersifat empatik, humoris, dan ramah.

Xiaoice telah berbicara dengan lebih dari 100 juta pengguna, dengan rata-rata 23 percakapan per sesinya. faktanya, telah terhitung sebanyak 25% pengguna sudah menyatakan cintanya kepada Xiaoice. Xiaoice juga merupakan chatbot kecerdasan buatan pertama yang memiliki pekerjaan sungguhan di penyiaran TV.

Mengikuti kesuksesan Xiaoice, versi lokal kini tersedia di empat negara lainnya – Rinna di Jepang dan Indonesia, Ruuh di India, dan Zo di Amerika Serikat. Dengan menyerupai gadis sekolahan, Rinna kini sudah bercakap-cakap dengan 25% jumlah penduduk di negara tersebut.

Di Indonesia, Microsoft bekerja sama dengan LINE Indonesia memperkenalkan chatbot sosial berbasis EQ bernama Rinna. Teknologi Kecerdasan Buatan seperti Cortana menyediakan kegunaan yang baik bagi pengguna, seperti asisten pribadi.

Namun, Rinna akan mampu berkomunikasi dengan pengguna menggunakan EQ (Emotional quotient) yang ditambahkan pada IQ (intelligence quotient), belajar dan menyesuaikan dengan kebiasaan dan percakapan yang biasa dilakukan oleh pengguna. Dengan lebih dari 1.4 juta pengguna di Indonesia, Rinna sangat suka bermain games dengan pengguna, termasuk Othello, teka-teki silang, dan permainan tradisional ABC-5 Dasar.

Kekuatan
Saat ini, banyak pembicaraan seputar Kecerdasan Buatan tersendat oleh keragu-raguan dan kekhawatiran – mulai dari menggantikan tenaga kerja manusia hingga memperlebar kesenjangan sosial. Namun, terbukti dari chatbot yang ada bahwa banyak hal yang bisa dicintai tentang Kecerdasan Buatan, dan hal ini telah memberikan baik hubungan fungsional maupun emosional kepada jutaan orang di seluruh dunia.

“Melampaui percakapan dan pertemanan, Kecerdasan buatan juga menawarkan dampak yang berkelanjutan dan positif bagi dunia dengan menggerakan perkembangan ekonomi dan sosial dunia. Dari garis depan pendidikan sampai kepada advokasi kellingkungan hingga kesehatan, Kecerdasan Buatan akan menjadi sangat penting dalam menciptakan terobosan-terobosan teknologi bagi kemanusiaan dan memberikan banyak solusi yang memungkian setiap orang dan organisasi di planet ini untuk mencapai lebih banyak lagi,” tambah Haris.(pg)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year