Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Tower Bersama Belum Lirik Pasar Luar Negeri

11:48:13 | 29 Jul 2013
Tower Bersama Belum Lirik Pasar Luar Negeri
Helmy Yusman Santoso (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) –PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) belum tertarik untuk melakukan ekspansi ke luar negeri karena menilai pasar dalam negeri jauh lebih menarik.

“Kami belum ada niat bermain di luar negeri, pasar Indonesia lebih menarik,” kata Direktur dan Corporate Secretary Tower Bersama  Helmy Yusman Santoso di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, Indonesia dengan sepuluh operator yang aktif menjadikan potensi penyewaan terhadap menara telekomunikasi lebih besar ketimbang di luar negeri yang pemainnya hanya dibawah lima. “Di luar negeri paling maksimal ada lima. Kalau operator sedikit tentu tenancy ratio rendah. Kita ini kan mengincar tingkat sewa,” katanya.

Diungkapkannya, saat ini penyewa utama menara adalah operator telekomunikasi. Durasi sewa menara biasanya 8 tahun-10 tahun, dengan masa perpanjangan hingga lima tahun.
Sementara terkait dengan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS dan naiknya biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, Helmy mengungkapkan, kemungkinan untuk biaya pemeliharaan akan ada koreksi dengan penyewa.

“Kita akan koreksi sesuai dengan inflasi nantinya. Kalau harga sewa tak mungkin diubah karena itu kontrak jangka panjang,” katanya.

Sebelumnya, riset Morgan Stanley Hong Kong Periode April 2013 menyatakan Average Revenue Per User (ARPU) di Indonesia untuk segmen bawah akan meningkat menjadi Rp 17 ribu, sementara di menegah atas meningkat menjadi Rp 40 ribu- Rp 45 ribu per bulan.

Alhasil, potensi peningkatan ARPU di kisaran 10-30% berkat variatifnya harga dan bonus yang ditawarkan operator.

Masih dalam kajian tersebut, dalam tiga sampai lima tahun ke depan pendapatan data non SMS diperkirakan mencapai Rp 28 triliun hingga Rp 55 triliun dengan sumbangan 25% sampai 40% dari total pendapatan layanan nirkabel.

Saat ini pendapatan data non SMS di negara Asia seperti Hong Kong bagi total omzet nirkabel di kisaran 30%-40%, sementara Indonesia 25%-30%. Secara total, pendapatan seluler Indonesia akan terus tumbuh 10% setiap tahunnya.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengembang Menara Telekomunikasi (Aspimtel)  Peter Simanjuntak mengatakan, pada masa mendatang akan banyak perusahaan menara melantai di bursa untuk memperbesar usahanya dan mendukung ekspansi.

“Untuk memperbesar aset itu kan organik dengan bangun menara baru dan anorganik seperti aksi akuisisi. Ini semua butuh dana, mencari ke pasar lebih cepat jika statusnya perusahaan yang tercatat di bursa saham,” katanya.

Berdasarkan data Aspimtel,   permintaan menara baru setiap tahun mencapai 6.000 unit. Sekitar 60% dari permintaan tersebut didorong dari kebutuhan   Telkomsel dan  XL Axiata. Sementara permintaan menara dari operator CDMA cenderung stagnan.

Permintaan terhadap menara telekomunikasi disebabkan masih banyak daerah yang belum terjangkau layanan operator (blank spot). Selain itu, ada strategi dari operator untuk memperluas cakupan layanan, terutama layanan data, hingga ke daerah pelosok atau rural area.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year