JAKARTA (IndoTelko) - Pemerintah Kabupaten Tabanan menggandeng perusahaan teknologi transportasi TransTRACK untuk meningkatkan keselamatan layanan Angkutan Trans Siswa melalui penerapan sistem pemantauan berbasis Global Positioning System (GPS).
Sebanyak 244 armada Trans Siswa kini telah dilengkapi perangkat GPS yang terhubung dengan sistem pemantauan Dinas Perhubungan Kabupaten Tabanan. Teknologi tersebut memungkinkan pengawasan perjalanan kendaraan secara real-time, mulai dari posisi armada, riwayat perjalanan, hingga kesesuaian dengan trayek yang telah ditentukan.
Implementasi teknologi ini menjadi bagian dari Program Ayo Selamat Sekolah yang bertujuan memperkuat kesiapan operasional angkutan pelajar menjelang tahun ajaran baru. Program tersebut juga melibatkan sejumlah pihak, seperti Dinas Kesehatan Kabupaten Tabanan, Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Tabanan, serta instansi terkait lainnya.
Layanan Trans Siswa saat ini melayani 103 trayek yang tersebar di 10 kecamatan di Kabupaten Tabanan. Transportasi gratis tersebut diperuntukkan bagi pelajar tingkat SD dan SMP sebagai upaya mendukung akses pendidikan yang lebih aman dan terjangkau.
Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, mengatakan pemanfaatan teknologi telematika menjadi langkah penting dalam meningkatkan pengawasan dan keselamatan transportasi, khususnya untuk layanan yang membawa pelajar.
“Teknologi dapat memberikan visibilitas armada secara real-time sehingga pengelolaan operasional menjadi lebih optimal, transparan, dan berbasis data. Hal ini sekaligus memberikan rasa aman bagi pelajar, pengemudi, dan pemerintah sebagai penyelenggara layanan,” ujar Anggia.
Menurutnya, data perjalanan dari sistem GPS tidak hanya berfungsi untuk memantau lokasi kendaraan, tetapi juga dapat menjadi dasar evaluasi guna meningkatkan kedisiplinan pengemudi serta memastikan armada berjalan sesuai rute yang telah ditetapkan.
Selain GPS, TransTRACK juga mengembangkan teknologi pendukung keselamatan lain berupa Driver Monitoring System berbasis Artificial Intelligence (AI). Sistem tersebut dirancang untuk membantu mendeteksi perilaku berkendara berisiko, seperti kelelahan maupun gangguan konsentrasi pengemudi.
Penerapan teknologi ini dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan, tes NAPZA, serta edukasi keselamatan bagi 244 pengemudi Trans Siswa. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko kecelakaan yang masih banyak dipengaruhi faktor manusia, seperti kelalaian, kelelahan, dan perilaku berkendara tidak aman.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, sepanjang 2025 tercatat 8.498 kecelakaan lalu lintas terjadi di Bali dengan jumlah korban mencapai ribuan orang. Kondisi tersebut mendorong pentingnya penguatan sistem keselamatan transportasi melalui kombinasi teknologi dan peningkatan disiplin pengemudi.
Anggia berharap implementasi GPS pada Angkutan Trans Siswa Kabupaten Tabanan dapat menjadi contoh pemanfaatan teknologi digital dalam meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di daerah lain.
“Tujuan akhirnya adalah membantu pemerintah mengambil keputusan berdasarkan data, meningkatkan disiplin operasional, dan memastikan setiap pelajar dapat melakukan perjalanan dengan lebih aman,” tutup Anggia. (mas)