JAKARTA (IndoTelko) Ketika anak mulai hidup mandiri dan meninggalkan rumah, banyak orang tua memasuki fase baru yang dikenal sebagai empty nest syndrome. Kondisi ini dapat memunculkan perasaan kehilangan, kesepian, hingga kecemasan akibat perubahan peran dan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena tersebut umumnya dialami oleh orang tua yang selama bertahun-tahun menjadikan pengasuhan anak sebagai fokus utama aktivitas dan identitas diri.
Meski merupakan respons emosional yang wajar, empty nest syndrome dapat berdampak lebih luas jika berlangsung dalam jangka panjang. Stres berkepanjangan berpotensi memengaruhi kesehatan fisik, mulai dari gangguan tidur, perubahan pola makan, penurunan energi, hingga melemahnya sistem kekebalan tubuh.
Memasuki usia senja, risiko berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung juga meningkat. Kondisi ini membuat kesiapan kesehatan dan finansial menjadi semakin penting untuk mengantisipasi kebutuhan perawatan di masa depan.
Direktur Bisnis Individu IFG Life, Fabiola Noralita, mengatakan setiap tahap kehidupan membutuhkan persiapan yang berbeda, termasuk ketika orang tua memasuki fase setelah anak-anak hidup mandiri.
“Memasuki fase empty nest, masyarakat perlu mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik dari sisi kesehatan, mental, maupun finansial, agar dapat menjalani tahap kehidupan berikutnya dengan lebih tenang dan percaya diri,” ujarnya.
Menurut IFG Life, perlindungan kesehatan dan jiwa menjadi salah satu aspek penting dalam perencanaan masa depan. Asuransi kesehatan dapat membantu mengurangi beban biaya pengobatan yang tidak terduga, sementara asuransi jiwa memberikan perlindungan finansial bagi pasangan atau keluarga apabila terjadi risiko meninggal dunia.
Selain perlindungan finansial, masyarakat juga didorong untuk menjaga kualitas hidup melalui pola hidup sehat, memperluas aktivitas sosial, dan menekuni kegiatan yang bermakna.
IFG Life menilai fase ketika anak mulai hidup mandiri dapat menjadi momentum bagi orang tua untuk kembali memprioritaskan kesehatan, kesejahteraan, dan perencanaan keuangan jangka panjang.
“Perlindungan tidak hanya memberikan manfaat ketika risiko terjadi, tetapi juga membantu masyarakat menjalani hidup dengan lebih tenang dan fokus pada hal-hal yang bermakna,” tutup Fabiola. (mas)