JAKARTA (IndoTelko) - Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menilai integrasi teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan penguatan kedaulatan digital akan semakin menentukan arah perkembangan industri satelit nasional ke depan.
Hal itu mengemuka dalam Asia Pacific Satellite Conference (APSAT) 2026 yang digelar di Fairmont Hotel Jakarta pada 1213 Mei 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-22, forum internasional tersebut mengangkat tema pengembangan ekosistem satelit masa depan melalui penguatan sovereign infrastructure, AI, inovasi, dan integrasi teknologi.
Konferensi ini dihadiri Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), operator satelit, regulator, akademisi, hingga pelaku industri dari berbagai negara Asia Pasifik.
Ketua Umum ASSI periode 20262029, Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan industri satelit kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelengkap jaringan terestrial, melainkan telah menjadi bagian penting dalam menopang ketahanan infrastruktur digital nasional.
“Peran satelit sekarang semakin luas, mulai dari mendukung konektivitas hingga menjaga keberlanjutan layanan digital nasional,” ujarnya.
Menurut Risdianto, posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau memberikan peluang besar bagi pengembangan layanan berbasis satelit. Potensi pasar yang besar, pengalaman industri, serta kebutuhan konektivitas dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia di ekosistem satelit regional.
Ia menambahkan, pengembangan industri satelit membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, regulator, akademisi, lembaga riset, hingga mitra internasional.
“Kuncinya adalah bagaimana seluruh pemangku kepentingan bisa berjalan dalam arah yang sama agar pengembangan industri satelit nasional lebih berkelanjutan,” katanya.
ASSI juga menilai penguatan industri satelit relevan dengan target Visi Indonesia Emas 2045, terutama dalam mendukung pemerataan akses digital, konektivitas wilayah 3T, mitigasi bencana, hingga penguatan ekonomi digital nasional.
Di sisi lain, industri satelit global juga menghadapi tantangan baru, mulai dari perkembangan konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, keamanan siber, hingga isu keberlanjutan ruang angkasa.
Menurut Risdianto, dinamika geopolitik dan geoekonomi global membuat isu kedaulatan digital menjadi semakin penting bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
“Indonesia perlu terus membangun kapasitas nasional, baik dari sisi teknologi, regulasi, maupun SDM agar industri satelit dapat tumbuh sehat dan kompetitif,” ujarnya.
Ia menilai integrasi AI, cloud, IoT, fixed broadband, jaringan seluler, dan satelit akan membentuk ekosistem digital baru yang semakin saling terhubung. Kondisi ini sekaligus membuka peluang investasi dan inovasi baru di sektor digital.
Melalui APSAT 2026, ASSI berharap tercipta ruang kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, industri, dan komunitas riset untuk mempercepat pengembangan teknologi satelit nasional dan memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Pasifik. (mas)