JAKARTA (IndoTelko) - PT TBS Energi Utama Tbk menggandeng Bank DBS Indonesia untuk mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui peluncuran Climate Transition Plan (CTP) yang menargetkan netralitas karbon pada 2030.
CTP yang diluncurkan pada akhir 2025 ini menjadi pengembangan dari strategi TBS2030, dengan pendekatan lebih komprehensif dalam menurunkan emisi sekaligus mentransformasi portofolio bisnis. Dukungan pembiayaan berkelanjutan dari Bank DBS Indonesia dinilai memperkuat kredibilitas rencana tersebut, sekaligus membuka akses pendanaan yang lebih luas bagi TBS.
Melalui dokumen ini, TBS menjadi salah satu perusahaan energi di Indonesia yang secara terbuka memformalkan strategi dekarbonisasi dalam bentuk Climate Transition Plan. Langkah ini memberikan transparansi bagi investor dan pemangku kepentingan terkait arah transformasi bisnis perusahaan.
Transformasi tersebut mencakup pergeseran fokus dari energi fosil menuju tiga pilar utama, yakni pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan mobilitas listrik. Penyusunan CTP juga mengacu pada standar global seperti European Sustainability Reporting Standards (ESRS) untuk memastikan keselarasan dengan praktik internasional.
Sebagai bagian dari implementasi, TBS telah melakukan divestasi dua aset pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara pada 2024, yang sebelumnya menyumbang mayoritas emisi operasional perusahaan. Selain itu, perusahaan menargetkan penghentian aktivitas tambang batu bara pada 2027 sebagai langkah lanjutan menuju dekarbonisasi.
Direktur TBS, Juli Oktarina, menegaskan bahwa CTP menjadi panduan strategis dalam mengurangi ketergantungan pada batu bara sekaligus mengarahkan investasi ke sektor rendah karbon. “Didukung investasi hingga US$600 juta dan kolaborasi dengan DBS, kami memastikan transisi ini berjalan terukur dan dapat dieksekusi,” ujarnya.
Sejumlah inisiatif telah dijalankan, termasuk pengembangan bisnis pengelolaan limbah melalui akuisisi perusahaan regional, pembangunan pembangkit energi terbarukan seperti PLTS terapung di Batam, serta ekspansi ekosistem kendaraan listrik melalui platform Electrum.
Ke depan, TBS menargetkan hampir 80% pendapatan berasal dari bisnis non-batu bara pada 2030, berbanding terbalik dengan kondisi 2022 yang masih didominasi sektor fosil. Komitmen ini juga diperkuat dengan pelaporan emisi yang telah mengacu pada standar internasional dan regulasi Otoritas Jasa Keuangan.
Dari sisi pembiayaan, Bank DBS Indonesia berperan sebagai mitra strategis melalui berbagai skema transition financing, termasuk dukungan blended finance untuk pengembangan kendaraan listrik. Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menyatakan bahwa kolaborasi ini tidak hanya mencakup pendanaan, tetapi juga pendampingan dalam penyusunan strategi transisi yang kredibel.
Kemitraan antara sektor keuangan dan industri ini dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong percepatan dekarbonisasi, sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060. (mas)