Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Margin EBITDA XL Masih dalam Tekanan

14:10:21 | 13 Apr 2013
Margin EBITDA XL Masih dalam Tekanan
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko)  – PT XL Axiata Tbk (XL) memperkirakan  margin Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) pada tahun ini akan tertekan seperti tahun  lalu sebagai dampak besarnya  investasi di jasa  data.

Pada 2012, EBITDA XL sebesar  Rp 9,7 triliun atau naik 45% dibandingkan 2011 sebesar Rp 9,3 triliun. Namun,  EBITDA margin hanya  46%  atau turun 5%  dibandingkan 2011 sebesar 51%.

“Perkiraannya untuk  EBITDA margin sama seperti tahun lalu, masih dalam tekanan karena kita memang besar investasi di data,” ungkap  Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi di Jakarta, kemarin.

Diungkapkannya, pada tahun ini perseroan berencana menggelontorkan belanja modal  sebesar  Rp 8 triliun – Rp 9 triliun. Alokasinya paling banyak untuk  menambah  6.000-7000 unit BTS, sebesar 70-80 persen di antaranya merupakan BTS NodeB (3G).  Dengan begitu jumlah BTS XL hingga akhir tahun 2013 akan mencapai sekitar 45.000-46.000 unit BTS 2G dan 3G.

Direktur Keuangan XL Axiata Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin menambahkan pemicu penurunan EBITDA margin perseroan pada 2012 karena penerapan penagihan SMS berbasis biaya interkoneksi yang menjadikan tak bisa memprediksi berapa harus dikeluarkan untuk membayar dan pendapatan yang akan diterima dari jasa SMS.

Sebelumnya, penagihan SMS berbasis Sender Keep  All (SKA) dimana operator pengirim berhak terhadap semua rupiah dari SMS yang dikirimkan pelanggan. SMS berbasis interkoneksi antara operator pengirim dan penerima harus berbagi pendapatan.

“Dampak dari SMS berbasis interkoneksi itu menekan EBITDA margin sekitar 3% hingga 4%. Pemicu lainnya adalah strategi membangun jaringan data dengan massif sementara pendapatan baru datang beberapa tahun lagi,” jelas Adlan.

Diprediksinya, untuk tahun ini XL tetap akan mengalami tekanan EBITDA margin namun penurunan tidak akan  sebesar lima persen layaknya tahun lalu.
Terkait dengan penurunan tipis yang dialami oleh laba XL pada tahun lalu, Adlan menjelaskan, pendorongnya adalah kerugian kurs dari pembelian belanja modal dimana dominan dalam dollar Amerika Serikat.

Pada tahun lalu  anak usaha Axiata ini menyatakan meraih keuntungan hanya sebesar  Rp 2,765 triliun   atau turun 2%  dibandingkan 2011 sebesar Rp 2,83 triliun.

“Pembayaran kepada vendor seperti Ericsson dan Huawei itu dalam dollar AS. Kita tidak  lakukan lindung nilai karena jangka waktu pembayaran pendek. Di semester II-2012, pergerakan dollar AS lumayan cepat berubah dari 8.800 rupiah menjadi 9.500 rupiah,  ini yang membuat terjadi rugi kurs,” jelasnya.

Kerugian dari selisih kurs dialami XL pada 2012 sebesar Rp 299 miliar  atau naik 108% dibandingkan 2011 sebesar  Rp 144 miliar.
 
Ditegaskannya, untuk pinjaman tak menekan laba bersih perseroan karena utang dalam bentuk dollar AS sebanyak 805  dilakukan lindung nilai. Pada tahun ini total utang XL yang jatuh tempo diperkirakan Rp 4,3 triliun.

Produktivitas
Pada kesempatan sama, Direktur XL Willem Lucas Timmermans mengungkapkan, perseroan pada tahun ini ingin lebih meningkatkan produktivitas dari BTS yang dimiliki agar pendapatan dari satu aset tersebut bisa maksimal.

“Kita akui revenue per BTS XL masih nomor tiga tertinggal dari kompetitor. Ini karena kita sedang fokus  membangun kapasitas. Tahun ini kita ingin kapasitas itu terisi,” katanya.

Sekadar diketahui, pada 2011 revenue per BTS dari Telkomsel diperkirakan sebesar Rp 1,143 triliun, Indosat (Rp 798 miliar), dan XL ( Rp 468 miliar). Di 2012, Telkomsel dengan menggunakan kalkulasi kinerja kuartal III-2012 revenue per BTS sebesar Rp 781 miliar, Indosat dengan kinerja 2012 sebesar Rp 1,036 triliun, dan XL Rp 753 miliar.

Terkait dengan ancaman digelarnya 3G di frekuensi 900 MHz oleh Indosat yang diprediksi bisa menggerus pasar data XL, Willem menegaskan, jasa data permainannya masih di perkotaan.

“Jika bicara perkotaan itu artinya kapasitas. Frekuensi 2,1 GHz masih lebih baik dan bisa diandalkan ketimbang 900 MHz. kalau bicara pasar rural, memang 900 MHz itu bagus untuk jangkuan, tetapi saya rasa kompetitor tetap akan deploy di perkotaan, karena pasarnya di situ,” jelasnya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom Digital Solution
Kuota Ketengan
More Stories
Data Center Service Provider of the year
Kuota Ketengan