telkomsel halo

Outsourcing Data Center Masih Minim

11:48:36 | 04 Jul 2013
Outsourcing Data Center Masih Minim
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Outsourcing data center di Indonesia masih minim karena perusahaan lebih memilih membangun sendiri infrastruktur ketimbang menyewa ke pihak lain.

“Alasan keamanan menjadikan perusahaan banyak membangun sendiri data center. Riset kami menunjukkan 56% perusahaan di Indonesia lebih memilih membangun sendiri data center ketimbang menyewa,” ungkap Head of Indonesia Operations  International Data Corporation (IDC) Sudev Bangah, belum lama ini.

Dijelaskannya, selain faktor keamanan, pertimbangan lainnya adalah ketersediaan, performa, kurangnya pemahaman mengenai teknologi cloud, dan kurangnya budaya outsourcing teknologi informasi (TI) menjadi pemicu maraknya perusahaan membangun sendiri pusat data.

“Padahal  cloud computing tak bisa dihindari  karena satu dari empat pilar teknologi informasi dan komunikasi yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan bisnis perusahaan. Selain cloud, ada juga pilar mobility, social business, dan big data analytics,” jelasnya.

Diungkapkannya, dari riset, di Indonesia hanya 13% perusahaan yang mengerti mengenai pentingnya layanan cloud data center dan baru 16% perusahaan melakukan outsourcing data center.

Dikatakannya,  outsourcing  penting dilakukan sebab rata-rata perusahaan tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan dalam kurun waktu 18 bulan-24 bulan sejak membangun data center. Padahal dalam kurun waktu tersebut, sekitar 95% responden riset di Indoensia mengetahui bahwa data center yang dimilikinya tidak cukup menampung perubahan yang terjadi.

"Saat ini belanja teknologi informasi di Indonesia masih didominasi belanja hardware. Kami memperkirakan belanja TI di Indonesia mencapai US$ 14,7 miliar tahun ini, turun dari estimasi semula US$ 15,8 miliar," katanya.

Menurutnya,  penurunan belanja TI tersebut disebabkan kondisi makroekonomi Indonesia, pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi dan inflasi yang terjadi di kuartal I 2013.

Namun, belanja untuk IT services akan meningkat, seiring dengan meningkatnya kebutuhan ekspansi data center, cloud, managed services untuk data center, virtualisasi, dan mobility.

Sebelumnya, Presiden Direktur Multipolar Technology Harijono Suwarno  mengungkapkan   Indonesia baru memiliki kapasitas data center sekitar 100 ribu meter persegi. Padahal, di Singapura sudah 1,2 juta meter pesegi dan  Malaysia 800 ribu meter persegi.  
 
Data dari Schneider mengungkapkan  jumlah pengapalan data center fisik (hardware) di dunia terus meningkat dari 5 juta unit di 1996 menjadi 35 juta unit di 2013. Namun secara value, nilai penjualan data center fisik terus menurun dan diperkirakan menjadi US$ 40 miliar pada 2013. Di sisi lain, cost untuk manajemen, serta cooling data center fisik meningkat hingga US$ 250 miliar.(ak)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year