JAKARTA (IndoTelko) - Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat dinilai membawa peluang besar sekaligus tantangan baru bagi manusia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengingatkan adanya risiko konsekuensi tak terduga dari pemanfaatan AI, terutama ketika teknologi tersebut mulai mampu memahami perilaku dan membangun interaksi dengan manusia.
Peringatan tersebut disampaikan Nezar dalam acara Philo Connect di Jakarta Barat, Rabu (19/8). Ia menyebut AI kini telah berkembang jauh melampaui fungsi sebagai alat teknologi karena mulai digunakan dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertanian, hingga sektor industri.
Menurutnya, kemampuan AI dalam mengolah data, membuat prediksi, serta membantu proses pengambilan keputusan menghadirkan persoalan baru yang tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga aspek etika.
“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” ujar Nezar.
Ia menilai perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap pemikiran kritis dan pertimbangan moral semakin penting. Bahkan, ke depan, keahlian di bidang filsafat diperkirakan memiliki peran strategis dalam memastikan keputusan berbasis AI tetap mempertimbangkan nilai kemanusiaan.
Nezar menjelaskan, meski AI mampu mempelajari dan menjelaskan berbagai teori filsafat, teknologi tersebut belum mampu melakukan proses refleksi filosofis seperti manusia.
“AI bisa menjelaskan filsafat tapi belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat,” katanya.
Tantangan tersebut diperkirakan semakin besar ketika teknologi berkembang menuju embodied AI atau physical AI, seperti robot humanoid yang dapat berinteraksi secara langsung dengan manusia. Dengan dukungan model bahasa besar (large language model), robot masa depan berpotensi melakukan percakapan, mengenali karakter pengguna, hingga membangun hubungan sosial berbasis teknologi.
Kondisi itu, menurut Nezar, perlu menjadi perhatian karena manusia dapat mulai membangun tingkat kepercayaan tertentu terhadap mesin.
“Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” ungkapnya.
Karena itu, pembahasan mengenai AI tidak dapat hanya berfokus pada kemampuan teknologi, tetapi juga harus mencakup arah pemanfaatan dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Nezar menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis agar masyarakat mampu menentukan batas dan tujuan penggunaan AI di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. (mas)