JAKARTA (IndoTelko) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria meminta Aceh memperkuat sumber daya manusia (SDM) di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) untuk menghadapi persaingan teknologi dan geopolitik global.
Menurut Nezar, posisi Aceh yang berada di ujung barat Indonesia dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka memberikan nilai strategis sekaligus tantangan. Jalur tersebut merupakan salah satu choke point penting dalam perdagangan dan geopolitik kawasan.
“Kita langsung berada di hotspot dan choke point Selat Malaka. Potensi konfliknya juga sangat tinggi. Kita semua harus bersiap, harus belajar dari bangsa-bangsa yang mengadopsi teknologi dan belajar keras untuk menguasai ilmu pengetahuan,” ujar Nezar saat memberikan kuliah tamu di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Universitas Syiah Kuala (USK), Sabtu (5/9).
Nezar menilai posisi geografis tersebut harus diimbangi dengan kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Aceh, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi wilayah strategis, tetapi juga perlu memiliki SDM yang mampu menguasai teknologi yang semakin menentukan kekuatan sebuah negara.
“Kita yang paling pertama, siapapun yang akan masuk ke Selat Malaka ketemu kita dulu. Jadi, kita harusnya menjadi pengawal yang terkuat di Selat Malaka,” tegasnya.
Untuk membangun kapasitas tersebut, perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting. Nezar mendorong Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri (UIN) di Aceh untuk memperkuat pendidikan STEM dan menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi teknologi.
Ia menyarankan penguatan pendidikan STEM menjadi agenda prioritas dalam 5 hingga 15 tahun ke depan, seiring meningkatnya persaingan global berbasis teknologi.
“Dibutuhkan pengetahuan, dibutuhkan sains yang mumpuni, teknologi juga yang kuat. Saya yakin dengan adanya USK dan UIN di sini, mungkin kita arahkan anak-anak mahasiswa atau anak-anak didik kita ini untuk bisa lebih mendalami STEM,” katanya.
Meski demikian, Nezar menekankan penguatan STEM tidak berarti mengurangi pentingnya ilmu sosial. Keduanya harus berjalan berimbang agar Indonesia memiliki kemampuan teknologi sekaligus pemahaman terhadap dinamika sosial dan geopolitik.
“Bukan berarti ilmu sosial tidak penting. Ilmu sosial juga sama pentingnya, tapi kita harus balance karena penguasaan ilmu sosial dengan STEM ini gap-nya terlalu jauh. Sebaiknya seimbang,” ujarnya.
Menurut Nezar, persaingan kekuatan nasional kini semakin ditentukan oleh penguasaan sains, teknologi, energi, semikonduktor, kecerdasan artifisial (AI), dan komputasi. Indonesia memang memiliki modal berupa sumber daya alam, pasar domestik dan populasi besar, serta potensi energi, tetapi kemampuan komputasi masih perlu diperkuat.
Ia juga menyoroti kontribusi ekonomi digital Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih sekitar 10%, jauh di bawah sejumlah negara seperti China, Amerika Serikat dan Jepang yang disebut berada di kisaran 50%.
Karena itu, penguatan kemampuan teknologi dan SDM menjadi bagian penting dari strategi meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Bagi Aceh, investasi pada SDM STEM diharapkan dapat menjadi fondasi jangka panjang agar posisi geografis yang strategis di Selat Malaka dapat diimbangi dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi. (mas)