JAKARTA (IndoTelko) Perkembangan AI agent di lingkungan perusahaan mulai mengubah cara organisasi menjalankan proses bisnis. Ketika agen AI tidak lagi hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga memahami konteks, mengambil keputusan, menjalankan tindakan, dan berinteraksi dengan sistem lain, kebutuhan terhadap keamanan dan kontrol ikut meningkat.
Menjawab tantangan tersebut, Salesforce memperkenalkan Enterprise AI Harness, sebuah arsitektur yang dirancang untuk menjadi fondasi bagi perusahaan dalam mengoperasikan AI secara lebih aman, terukur, dan terkontrol.
Salesforce menilai perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar model AI. Agen yang bekerja di lingkungan korporasi harus dapat mengakses data yang relevan, memahami aturan bisnis, menjalankan tindakan melalui berbagai sistem, sekaligus tetap berada dalam batas kewenangan dan kebijakan perusahaan.
Enterprise AI Harness menyatukan enam kapabilitas utama, yakni Trusted Context, Trusted Agency, Trusted Action, Trusted Governance, Trusted Security, dan Trusted Models.
Trusted Context memungkinkan AI memahami data, metadata, pengetahuan, memori, sinyal real-time, serta proses bisnis perusahaan. Sementara Trusted Agency memberikan kemampuan kepada agen untuk melakukan penalaran, menyusun rencana, mempertahankan memori, berkolaborasi, dan mengorkestrasi pekerjaan.
Di sisi eksekusi, Trusted Action menghubungkan agen dengan aplikasi, API, workflow, perangkat, dan proses bisnis sehingga AI dapat menjalankan tindakan secara langsung. Sementara Trusted Governance dan Trusted Security memberikan lapisan pengawasan terkait kebijakan, identitas, izin, privasi, kualitas data, hingga keamanan saat AI beroperasi.
Adapun Trusted Models memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menggunakan model AI yang berbeda sesuai kebutuhan pekerjaan, dengan mempertimbangkan akurasi, performa, biaya, dan kebutuhan bisnis.
Salesforce juga memperkenalkan AI Control Plane, yang berfungsi sebagai pusat pengelolaan AI dan agen di lingkungan perusahaan. Melalui lapisan ini, perusahaan dapat mengetahui agen AI yang beroperasi, menetapkan identitas dan kebijakan, memantau kinerja serta perilaku, mengelola siklus hidup, hingga mengendalikan biaya.
President, Chief Platform and Engineering Officer Salesforce, Rohan Kumar, mengatakan keunggulan perusahaan di era agentic AI tidak semata-mata ditentukan oleh model yang digunakan.
“Yang membedakan sebuah perusahaan adalah konteks tepercaya miliknya sendiri yang diberikan kepada kecerdasan tersebut—dimulai dari pelanggan—serta kemampuannya mengubah konteks itu secara aman menjadi tindakan,” ujarnya.
Salesforce membangun Enterprise AI Harness dengan memanfaatkan teknologi yang telah ada dalam portofolionya, termasuk Data 360, Informatica, MuleSoft dan Agent Fabric, Tableau, Agentforce, Salesforce Guardian, serta Salesforce Platform.
Arsitektur tersebut juga dirancang terbuka dan tidak bergantung pada satu antarmuka. Kapabilitasnya dapat diakses melalui MCP, API, Skills, dan Plug-ins, sehingga dapat digunakan dalam berbagai pengalaman AI maupun aplikasi yang sudah digunakan perusahaan.
Pendekatan ini menjadi penting karena penggunaan AI di perusahaan tidak lagi terbatas pada satu aplikasi atau satu model. Agen dapat bekerja lintas sistem dan melibatkan teknologi dari berbagai penyedia.
Salesforce menyebut sejumlah teknologi yang menjadi fondasi Enterprise AI Harness telah tersedia saat ini. Sementara kapabilitas baru dan pengalaman terpadu direncanakan mulai diluncurkan pada awal tahun fiskal 2028.
Dengan semakin luasnya adopsi agentic AI, pendekatan tersebut menunjukkan pergeseran fokus perusahaan dari sekadar memilih model AI menuju pembangunan infrastruktur, konteks, keamanan, dan tata kelola yang memungkinkan agen AI bekerja secara mandiri tanpa kehilangan kontrol korporasi. (mas)