Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara

10:01:05 | 02 Jan 2017
Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara
Pengrajin batik Ayu Arimbi, Sleman (dok)

SLEMAN (IndoTelko) – Lagi-lagi Telkom kembali berperan dalam mendukung industri usaha kecil dan menengah (UKM) dan pariwisata.   Adalah kelompok pembatik Ayu Arimbi, yang memproduksi jenis batik khas Sleman dari kawasan Plalangan.

Industri batik rumahan dari Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman ini sekarang sudah merambah hingga mancanegara dengan batik tulis andalannya Sinom Parijotho Salak.

Sinom Parijotho Salak terinspirasi dari tanaman parijotho yang merupakan tanaman dedaunan yang banyak tumbuh di kawasan pegunungan.  Motif andalannya adalah salak, yang berupa elemen tangkai, daun, bunga parijotho, daun salak, hingga bunga salak.

 

Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara

Motif batik andalan

Motif batik ini benar-benar asli Sleman.  Dimana salah satu warganya memenangkan lomba desain batik Sleman tahun 2012.  Berawal dari lomba itulah, Sinom Parijotho Salak ditetapkan menjadi motif khas batik Kabupaten Sleman.  

Uniknya teknik batik yang boleh dilakukan oleh para pengrajin batik maksimal dilakukan dengan teknik cap.  “Pengrajin batik di sini dilarang untuk menggunakan teknik printing.  Ini untuk mempertahankan industri batik asal Sleman khususnya Plalangan agar harganya tidak jatuh,” kata Tatik, salah seorang pengurus kelompok pembatik Ayu Arimbi kepada IndoTelko di workshopnya yang terletak di kawasan Plalangan, Sleman.

Dijelaskan Tatik, proses membuat kain Batik Tulis Sleman Sinom Parijotho Salak antara lain, pertama para pengrajin membuat motif di atas lembaran kain putih dengan menggunakan pensil atau yang disebut mal. Lalu motif-motif tersebut ditutup dengan lelehan malam atau lilin dengan menggunakan canting.  

Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara

Tatik, pengurus sentra batik Ayu Arimbi

Setelah itu, dilanjutkan dengan proses pengecatan.  Dan Ayu Arimbi menggunakan pewarna alami yang benar-benar memanfaatkan hasil alam.  Misalkan saja warna merah menggunakan kulit pohon tingi, warna ungu menggunakan daun pohon puring, warna kuning menggunakan kayu tegeran, dan warna hijau menggunakan kulit buah jolawe.  Bila proses ini selesai, maka kain bisa langsung dijemur. 

Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara

Pewarna alami ala Batik Ayu Arimbi

Kelompok Ayu Arimbi ini dipelopori oleh kaum wanita.  Aktivitas membatik ini berawal dari pelatihan yang digelar oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Diperindagkop) Sleman pada November 2013.  “Kami diajari bagaimana teknik membatik dan menghasilkan batik yang berkualitas,” kata Tatik bercerita.

Goes digital dan Internasional

Dukungan dan pendampingan dari Universitas Islam Indonesia (UII) dalam memajukan dan mengembangkan kelompok pembatik Ayu Arimbi, membuat pengrajin rumahan ini terus berkembang.

Pun dari pihak ketiga yakni Telkom.  Perusahaan plat merah ini mendukung industri batik Plalangan ini untuk goes digital dengan koneksi internet broadbandnya.  “Produksi batik kami bisa dilihat di website dan blog-blog yang kami buat,” jelas Tatik.  Ia pun sempat memamerkan instagramnya yang juga sudah dipenuhi motif-motif dan produksi batik produksi Ayu Arimbi.

Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara

Perangkat Komputer dan Koneksi internet bantuan Telkom

Hingga kini kelompok ini sudah mampu menampung 16 wanita yang merupakan ibu-ibu rumah tangga yang memang tidak memiliki aktivitas kerja rutin atau kantoran.  Kelompok ini mampu memenuhi permintaan pasar hingga ke manca negara.

Alhasil inilah yang membuat desa Pandowoharjo dikukuhkan menjadi Sentra Batik di Sleman.  Proses pengukuhan inu dilakukan Bupati Sleman pada tanggal 29 September 2016 lalu. 

“Permintaan batik dari mancanegara selalu saja ada.  Bahkan para turis banyak yang berkunjung ke kawasan ini untuk sekedar belajar membatik atau melihat proses membatik,” katanya.

Dijelaskan Tatik, industri batik di Plalangan ini ke depannya akan dijadikan sebagai desa wisata yang mambu memberikan edukasi kepada pengunjung khususnya turis mancanegara untuk belajar membatik, bermalam di homestay yang disediakan, dan mengenalkan budaya Sleman.  “Kami juga pelan-pelan mulai belajar bahasa asing agar komunikasi dengan para turis bisa mudah.  Selama ini kami banyak menggunakan bahasa tubuh,” ujarnya.   

Batik Sleman, dari Plalangan merambah mancanegara

Resmi menjadi sentra batik 

Kini hampir setiap saat turis asing berkunjung ke Plalangan dan melihat produksi batik Ayu Arimbi sekaligus membeli kain batik yang menurut mereka sangat unik.  Menurut para turis asing tersebut, mereka mulai mengenal batik Sleman yang bernuansa salak dari internet.  Ini salah satu keuntungan sebuah industri rumahan yang sudah goes digital, dan Telkom ada di tengah-tengah mereka untuk menghubungkan sentra batik Plalangan dengan berbagai penjuru dunia.  (sg)

Baca Juga:
More Stories
 
Muhammad Awaluddin
Rubrik ini diasuh oleh Chairman of Indonesia Digital Society Forum (IDSF) yang juga Presiden Indonesia Marketing Association (IMA) 2013-2015, Muhammad Awaluddin.

Awaluddin juga penulis Buku Digital EntreprenuerShift dan Digital ChampionShift.

Pembaca bisa bertanya seputar cara mengelola bisnis dan solusi-solusi Teknologi Informasi untuk transformasi digital melalui email ke alamat Redaksi@IndoTelko.id

Pengasuh akan menjawab setiap email yang masuk melalui sub kanal ini dari setiap pertanyaan yang masuk.

Jangan lupa cantumkan alamat sesuai KTP dan nomor telepon yang bisa dihubungi di email.

 
Digital Talk

Rubrik Digital Talk dipersembahkan oleh Indosat dan Ooredoo untuk berbagi pengetahuan tentang mengembangkan serta membangun usaha berbasis teknologi informasi bagi pelaku bisnis di Indonesia.