Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Lewat kemitraan strategis Eyos bidik pasar digitalisasi ritel

04:37:00 | 07 Okt 2021
Lewat kemitraan strategis Eyos bidik pasar digitalisasi ritel
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan teknologi ritel global yang menyediakan solusi berbasis data untuk merek global, nasional, dan peritel lokal, Eyos baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk memperluas bisnisnya di pasar Indonesia dengan komitmen investasi lebih besar, inovasi fitur produk, merekrut tenaga kerja, dan menjalin kemitraan strategis dengan merek nasional dan peritel lokal. eyos berambisi untuk mengembangkan bisnisnya dua kali lipat pada tahun 2022.
 
Eyos adalah platform berbasis big data pertama di dunia yang dirancang bagi peritel lokal, merek nasional, dan merek global untuk mendigitalisasi operasional mereka. Di pasar Indonesia, perusahaan akan fokus untuk membangun kesadaran merek dan mengembangkan bisnis dengan dua lini bisnis solusi yakni eyos connect dan eyos syntify. Eyos juga bersiap untuk meluncurkan eyos retail pada tahun 2022. 
 
Sebagian besar industri ritel Indonesia terfragmentasi dan fragmentasi ini diprediksi meningkat selama beberapa tahun ke depan, sehingga menyulitkan peritel/toko untuk tumbuh. Selain itu, pandemi telah menekan bisnis peritel yang berakibat pada penurunan jumlah pengunjung dan volume transaksi yang signifikan. Hal ini mendorong banyak peritel, terutama pedagang kecil di daerah pedesaan untuk beralih ke platform digital yang bisa membantu mereka memperluas jaringan pelanggan dan mengelola stok mereka secara efisien selama pandemi. 
 
Pemerintah memperkirakan potensi ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 124 miliar pada tahun 2025 dengan 30 juta UMKM memasuki ekosistem digital pada tahun 2024. Eyos menilai, transformasi digitalisasi UMKM dan warung ini menjadi potensi pertumbuhan tinggi bagi bisnis Eyos masa depan. 
Apalagi pertumbuhan penetrasi internet dan pesatnya digitalisasi UMKM, termasuk warung saat ini begitu tinggi.
 
Pengalaman Eyos yang telah membantu merek barang kemasan atau consumer packaged goods (CPG) dan peritel lokal dengan cara menyajikan solusi dan insights berbasis data transaksi pembelian. Misal, adanya pengetatan mobilitas yang memaksa warga beraktivitas di rumah untuk menekan penyebaran COVID-19, terjadi peningkatan permintaan bahan makanan pokok seperti mi instan, minyak goreng dan susu. Dengan menganalisis data konsumen, eyos memungkinkan merek untuk memahami tren permintaan produk dan pola perilaku konsumen, sehingga merek bisa melakukan promosi sesuai di toko atau ritel dan mengukur akurat return on investment (ROI). 
 
Hingga kini Eyos Indonesia telah bekerja sama dengan produsen merek seperti Unilever, Danone, Godrej, PZ Cussons, dan J&J. Eyos membantu merek mengolah data transaksi ritel dan menghubungkan langsung ke peritel independen, seperti Pamelia Supermarket, Swalayan Aneka Jaya, Grand Hero, Jumbo Mart Group, Super TOP, KitaMart dan ribuan warung yang dimiliki secara independen. Akibatnya, pengecer lokal ini dapat menawarkan promosi real- time langsung dari produsen di kasir mereka tanpa biaya. Bagi peritel dan warung, keberadaan eyos juga memberikan pemahaman transaksi untuk meningkatkan bisnis mereka. 
 
Menurut Country Manager eyos Indonesia, Soon Lee Lim, Eyos percaya bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi peritel lokal untuk mengembangkan bisnis mereka dan mendapatkan lebih banyak peluang dari ledakan ekonomi digital Indonesia. Sejak memasuki pasar Indonesia pada tahun 2018, eyos telah melihat pertumbuhan kuat di industri ritel dan perubahan perilaku konsumen.
 
Ia mencontohkan, penjualan dari pengecer independen di jaringan eyos seperti minimarket dan supermarket tumbuh stabil pada Agustus 2021 dibandingkan Juni 2021, sebelum PPKM. Informasi saja, eyos merupakan entitas hasil merger antara perusahaan berbasis data, Emporio Analytics dan yReceipts, pada akhir 2020. Merger dua entitas ini dilatarbelakangi potensi besar pengolahan data yang belum dimanfaatkan untuk memberikan pemahaman transaksi di industri kebutuhan barang pokok atau fast moving consumer goods (FMCG). Hal ini disebabkan minimnya infrastruktur otomasi data di mayoritas peritel independen. (sg)
 
telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year