telkomsel halo

Begini kehidupan setelah era Work From Home

11:47:10 | 05 Apr 2021
Begini kehidupan setelah era Work From Home
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) - Berikut adalah tren urban yang didorong oleh kehadiran pandemi, yang kemungkinan besar akan meningkatkan kualitas hidup seluruh penduduk kota. Dengan pertumbuhan teleworking, gaya hidup kita telah berubah begitu pula tampilan rumah, kantor, dan kota tempat kita tinggal. Tentunya, perubahan ini akan didukung oleh teknologi yang terlindungi demi mewujudkan masa depan yang lebih aman.

Banyak krisis telah menyebabkan masyarakat mencari peluang baru, dan tidak terkecuali pandemi yang diikuti dengan peralihan ke model WFH (Work From Home). Hal ini kemungkinan akan mempercepat tren yang mendasari kehidupan urban dan meningkatkan kualitas hidup penduduk perkotaan. Meskipun pandemi belum berakhir dan tidak ada satu pun yang mengetahui  secara pasti apa yang akan terjadi selanjutnya, kami di Kaspersky telah mengamati kemunculan beberapa tren, seiring upaya perusahaan dalam membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman melalui solusi inovatif untuk melindungi kota, bisnis, dan masyarakat.

Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky Chris Connell membagikan pandangan tentang bagaimana lingkungan hidup kita telah diatur untuk menghadapi perubahan mengikuti pengaruh teleworking dan bagaimana dunia fisik akan berinteraksi dengan virtual, serta teknologi apa yang akan memberdayakan pergeseran ini; dan apa yang bisa dilakukan untuk membuat proses ini menjadi lebih aman.

Rumah: Selalu Menjadi Tempat Kembali

Belum pernah terjadi sebelumnya, dimana hampir semua orang berada dalam kondisi yang sama, sehingga menjadikan pengalaman pandemi ini benar-benar mendunia. Sudah dua tahun berturut-turut, kita menyaksikan kerja jarak jauh berlangsung 'secara massal', dan bagaimana berbagai sektor ekonomi benar-benar didorong oleh perubahan tersebut. Salah satunya jelas adalah e-commerce, karena proses mengunjungi toko secara fisik yang lebih rumit. Fenomena pandemi di seluruh dunia telah menyebabkan volume paket online yang lebih tinggi, yang juga dibuktikan dengan peningkatan layanan pengiriman. Orang-orang terbiasa menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, sehingga toko gelap, pengiriman makanan, dan digitalisasi keseluruhan dari pengalaman perdagangan akan terus tumbuh dan menjadikan pembayaran nirsentuh sebagai norma baru.

Kehidupan perkotaan sangat bervariasi tergantung pada pola kerja, waktu luang, dan konsumsi warga sekitar. Jadi dengan sebagian besar dari kita tinggal dan bekerja di rumah, COVID-19 telah menjadi katalisator untuk percepatan bangunan cerdas dan teknologi rumah pintar yang sudah diterapkan ke dalam industri real estat. Saat ini, hal-hal seperti entri tanpa kunci, elevator yang diaktifkan dengan suara, layanan kamar digital, notaris jarak jauh, dan parkir valet menjadi semakin berharga, karena konsumen merangkul tren teknologi hands-off yang kini akan dibawa ke setiap rumah. Perpaduan sempurna antara dunia digital dan fisik ini dapat diamankan melalui teknologi yang menggunakan pendekatan 'kekebalan siber' atau dikenal juga sebagai cyber immunity.

Dalam hal keamanan pribadi rumah pintar, elemen keamanan tertentu menjadi angat penting - seperti mengonfigurasi jaringan Wi-Fi rumah dengan benar atau melindungi perangkat dan panel kontrol dengan kata sandi unik yang kuat. Dengan begitu, para pelaku kejahatan siber tidak akan dapat dengan mudah memaksakan 'kunci' ke rumah pengguna. Dan seiring pertumbuhan penetrasi digital, konsumen turut menerapkan kebiasaan dan tindakan pencegahan yang baru setiap hari.

Menurut penelitian Kaspersky baru-baru ini, 48% pengguna online melindungi jaringan Wi-Fi dengan kata sandi, 58% menggunakan perangkat lunak keamanan internet (tidak termasuk perangkat lunak bawaan) dan mayoritas (65%) setuju bahwa perangkat lunak antivirus diperlukan untuk 'kebersihan digital' yang baik - seperti halnya mencuci tangan sebelum makan.

Kantor: Seperti Apa Tempat Kerja Di Masa Depan

Jutaan karyawan kerah putih (white-collar) yang telah menikmati kesempatan untuk bekerja dari mana saja merasa perlu untuk membuat kantor virtual di rumah, tempat mereka dapat berkonsentrasi penuh. Dan, saat dunia mulai mempertimbangkan model kerja hibrida, sebagian besar pekerja kemungkinan besar akan pergi ke kantor hanya dua atau tiga hari seminggu. Ini semua memengaruhi real estat komersial dengan tata letak kantor terbuka baru dengan ruang rapat, kantor pribadi kecil, meja panas, dan ruang kerja bersama.

Para pekerja dapat memperoleh sejumlah manfaat dari konsep kerja hibrida ini, seperti penghematan sewa, biaya overhead yang lebih rendah, lingkungan kerja yang sesuai permintaan, dan tidak ada lagi perjalanan harian yang panjang. Dengan paradigma ruang kerja 'pop-up' ini, pekerjaan virtual akan tersedia bagi siapa saja yang menginginkannya. Namun, kebutuhan untuk pengaturan dukungan TI juga turut menambah beban karyawan. Salah satu saran sederhana yang dapat diterapkan yaitu mulailah dengan mengaktifkan VPN  - tidak peduli apakah Anda bekerja di rumah atau di jaringan Wi-Fi publik - untuk melindungi data, menyembunyikan alamat IP, dan memastikan tindakan online tidak terganggu.

Pusat Kota: Bagaimana Lingkungan Kehidupan Berubah

Narasi 'kematian pinggir kota atau death of the suburbs ' telah dilacak sekian kali oleh para ahli demografi dan sosiolog, tetapi karena COVID-19, kami sekarang mengamati kembali hadirnya urbanisasi dan kehidupan pinggir kota, karena jutaan orang kini mulai beralih dari apartemen mereka di kepadatan pusat kota menuju lokasi yang jauh lebih hijau, dengan lebih sedikit kontak sesama manusia. Namun, kesimpulan lain yang diajarkan pandemi kepada kita adalah bahwa masyarakat masih menginginkan adanya pertemuan tatap muka, karena komunikasi dan hidup bersama adalah kodrat dasar seorang manusia. Beberapa orang masih ingin pergi menuju bar dan restoran, mereka membutuhkan kontak mata saat melakukan rapat dan merasa terhubung dengan rekan satu tim lain agar produktif - dan itulah mengapa kota besar akan selalu diinginkan.

Paket Semangat Kemerdekaan
Tampilan kota masa depan kita tidak tertulis di atas batu, tetapi beberapa tren urban telah dipicu pada tahun lalu. Misalnya, konsep kota 15 menit menjadi kenyataan, di mana warganya dapat mengakses kebutuhan sehari-hari dengan berjalan kaki atau menghirup udara segar dalam konteks teleworking. Mal-mal besar telah membuka jalan bagi toko bahan makanan lokal, dan alih-alih perlu mengemudi atau menggunakan transportasi umum untuk mencapainya, mereka dapat menempuhnya dengan bersepeda. Akhirnya, orang-orang dapat menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan mereka dan memprioritaskan kebutuhan gaya hidup berdasarkan keterjangkauan, infrastruktur komersial, kapasitas rekreasi, taman, atau apa pun yang paling bernilai.

Ini semua adalah kecenderungan perkotaan yang bertahan lama, dan kebiasaan pasca pandemi nampaknya akan membentuk lingkungan masa depan yang nyaman layaknya perkotaan namun tetap dalam lingkungan yang ramah keluarga. Ini termasuk konsep pengembangan real estat serba guna, yang memasangkan perumahan dengan kantor, atap dan balkon hijau, halaman besar dan taman bermain, restoran, dan bahkan ritel.

“Saat merencanakan ruang lingkup kehidupan, para pengembang perlu menyediakan infrastruktur bagi masyarakat, yang dapat menciptakan peluang untuk berkomunikasi dan rekreasi, meningkatkan rasa kebersamaan, serta mendukung pengembangan dan kesehatan manusia. Teknologi yang mampu membersihkan ruang publik, memungkinkan akses tanpa kontak, atau mewujudkan pariwisata dari rumah dengan bantuan VR dan AR memungkinkan membawa kita lebih dekat ke masa depan rumah pintar dan kota pintar. Melalui misi perusahaan untuk menuju masa depan, kami percaya bahwa siapa pun dapat memperoleh manfaat dari teknologi dan meyakini bahwa solusi keamanan siber akan menjaga proses ini,” tutup Connel.(ak)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year