telkomsel halo

Migrasi pelanggan 2G ke 4G tak mudah

10:45:11 | 15 Sep 2017
Migrasi pelanggan 2G ke 4G tak mudah
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) - Keinginan pemerintah untuk mempercepat proses migrasi pengguna jaringan 2G ke jaringan 4G  diperkirakan masih akan melalui jalan yang cukup panjang.

Masalah terbesar saat ini yang dihadapi adalah masih banyaknya pengguna yang memakai jaringan 2G di Indonesia.

Tak dapat dipungkiri, tren digital yang semakin masif di Indonesia menjadi bukti bahwa kebutuhan akan internet cepat semakin dibutuhkan. Konten digital yang menjamur dan semakin tumbuh membuat kebutuhan data semakin pun meningkat.

Tren digital ini lama kelamaan membuat orang semakin banyak yang beralih dari jaringan 2G ke 3G atau 4G. Namun kenyataannya, saat ini sekitar 60% – 70% masyarakat Indonesia masih menggunakan layanan 2G, yang hanya digunakan untuk voice dan SMS saja.

Diperkirakan, pasar layanan 2G akan migrasi ke 3G atau 4G membutuhkan waktu hingga lima tahun. Untuk memuluskan proses migrasi pengguna 2G menuju 4G, maka perlu diperhatikan ketersediaan handset 4G yang murah.

Menurut Dosen PENS dan Pengamat Telekomunikasi dari  Mastel InstituteNonot Harsono untuk menyikapi kemajuan teknologi seluler dari 2G, 3G, hingga 4G, sungguh bijak jika dimulai dengan melihat permasalahan yang dihadapi di lapangan pada saat mau mengambil langkah ke depan.

Ia mengatakan, apakah masyarakat memang harus didorong agar menggunakan teknologi terbaru 4G? Jika memang perlu, maka pemerintah dan pelaku usaha harus berupaya menciptakan kebutuhan sehingga masyarakat perlu menggunakan 4G.

Nonot menambahkan, bila angka 60% hingga 70% pengguna ternyata belum beralih ke 4G itu benar adanya, maka itupun masih mungkin karena ada dua penyebab. Pertama, karena supply layanan 4G penetrasinya masih kecil, baik coverage maupun kepemilikan handset 4G pada pengguna yang mungkin karena willingness to buy atau daya beli dari mayoritas lapisan masyarakat masih kurang. Kedua, kebutuhan masyarakat  akan layanan 4G memang belum tumbuh.

Menurutnya, penyebab yang kedua masih lebih besar dari yang pertama, yakni kebutuhan masyarakat  akan layanan 4G memang belum tumbuh. Kalau disimak lebih cermat,  sebenarnya bagi pengguna, nilai tambah yang didapat dari 4G dibanding 3G adalah peningkatan kenyamanan dan kepuasan dari user experience (UX), atau biasa diistilahkan dengan "convenience and satisfaction".

“Jangan-jangan orang Indonesia sebagian besar belum butuh itu (4G), yang penting bisa komunikasi verbal. Belum lagi ada yg merasa gaptek dan enggan untuk mencoba hal yang baru,“ ujar pria yang sekarang menjadi salah satu anggota Dewan Pengawas di Balai Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI) itu.

Perangkat 4G dengan harga terjangkau memang sangat dibutuhkan untuk memuluskan rencana migrasi pengguna 2G ke 4G. Idealnya, range harga ponsel 4G agar bisa diterima pasar menengah bawah berkisar US$ 250. Karena daya beli rata-rata pengguna 2G yang kebanyakan dari kelas menengah bawah hanya maksimal mampu membeli handset seharga US$ 125.

Ponsel 4G murah di Indonesia bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Karena saat ini, beberapa vendor dan pabrikan ponsel telah mulai memproduksi ponsel 4G murah dengan kisaran harga Rp 500 ribu. Saat ponsel 4G sudah menjadi sangat terjangkau, maka akan bisa mengatasi keengganan pengguna 2G bermigrasi ke 4G karena alasan handset yang mahal.

Pengguna ponsel di Indonesia diharapkan dapat segera melakukan migrasi secepatnya ke 4G, sehingga tidak tertinggal jauh dari perkembangan teknologi di era digital saat ini. Namun harus diakui, melakukan perpindahan teknologi dari 2G ke 4G merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh Indonesia untuk bisa melangkah ke tahapan teknologi berikutnya.

Besarnya jumlah pengguna teknologi 2G juga merupakan salah satu penyebab terhambatnya Indonesia dalam hal tren teknologi. Padahal Indonesia bisa menjadi sebuah pasar yang memiliki peluang yang besar untuk bisa mencoba merasakan perubahan telekomunikasi yang cepat.

Agar migrasi dari 2G ke 4G bisa berlangsung cepat, maka harus dilakukan edukasi bagi para pengguna 2G mengenai kelebihan perangkat dengan teknologi 4G. Tentunya ini akan dijalankan dengan bantuan dari para operator. Namun ini juga bukanlah sebuah proses yang gampang untuk dilakukan, khususnya apabila menghadapi pengguna dari pedesaan yang belum sanggup membeli ponsel 4G.

Masyarat harus mendapat edukasi tentang beberapa kelebihan teknologi 4G yang ada di feature phone. Seperti misalnya baterainya lebih tahan lama jika dibanding smartphone. Kemudian bisa menggunakan aplikasi WhatsApp Call dan chatting menjadi pengganti telpon dan SMS. Bisa menggunakan aplikasi jejaring sosial lebih cepat, seperti Facebook. Dan juga pengguna bisa menikmati video call lewat aplikasi WhatsApp.

Di sisi lain, perlu adanya ketegasan dari pemerintah untuk membuat peraturan yang bisa membatasi atau menghentikan pemakaian frekuensi 2G. Jika kedua point diatas tersebut bisa dilaksanakan, maka proses migrasi dari 2G ke 4G diyakini bisa lebih cepat.

Menurut Nonot, tantangan pemerintah dan para penyedia jaringan 4G adalah bagaimana menciptakan the real needs dari 4G yang bukan sekedar untuk convenience dan satisfaction; misalnya utk alat bantu dalam menjalankan bisnis. Bisa saja pemerintah membuat program pembinaan e-UKM yang lebih nyata dengan pelatihan literasi teknologi dan subsidi gadget. Konon ada lebih dari 100 ribu UKM yang bisa diprovokasi untuk menggunakan teknologi 4G hingga seramai demam batu akik.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh GfK, penjualan ponsel di Indonesia sekarang ini sudah mencapai 60%, dimana sejumlah perangkat sudah memiliki kemampuan 4G. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa Indonesia akan mampu dengan cepat beralih ke teknologi 4G.

Pada akhirnya, jika 2G akan dimatikan secara perlahan, maka kita akan mencapai kondisi telekomunikasi yang lebih baik. Apalagi jika sudah ada perangkat yang bisa menggantikan ponsel 2G murah yang ada sekarang. Dari sisi penyeberan jaringan juga akan lebih baik, karena semua wilayah yang selama ini hanya terjangkau jaringan 2G akan berubah menjadi jaringan 4G dengan daya tampung pengguna yang jauh lebih besar.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sendiri beberapa waktu lalu mengakui bahwa ongkos produksi sebuah jaringan 2G sangat mahal. Dia menilai beban biaya telekomunikasi itu bisa lebih ringan jika terjadi peralihan teknologi ke 3G maupun 4G.(tp)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year