Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya

Revolusi Digital Bergulir, Ini Dampaknya bagi Industri Keuangan

09:58:59 | 15 Feb 2016
Revolusi Digital Bergulir, Ini Dampaknya bagi Industri Keuangan
Infografis oleh DBS (dok)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Revolusi digital yang mulai bergulir di Indonesia sejak internet cepat 4G dilansir tahun lalu dipercaya bisa mengubah berbagai sektor perekonomian, termasuk keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi revolusi digital akan memunculkan lahirnya industri peer to peer lending (P2P) yang dianggap generasi keempat sumber pembiayaan.

“Kalau di negara-negara maju P2P sudah biasa. Di Indonesia sudah ada yang mulai masuk membidik sektor pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)  yang selama ini sulit mengakses dana pinjaman melalui perbankan, pasar modal, dan lembaga pembiayaan,” ungkap Peneliti Eksekutif Senior dari Departemen Pengembangan Kebijakan Strategis Otoritas Jasa Keuangan Hendrikus Passagi pekan lalu.

Menurutnya, P2P menjadi alternatif bagi mereka yang sulit mengakses dana pinjaman dari ketiga industri tersebut karena persyaratan kolateral, pemeringkatan, dan penjaminan yang wajib dipenuhi.

Pemilihan P2P dengan platform online akan mempermudah penyediaan informasi kepada publik. Dengan demikian diharapkan mampu meminimalisir asimetrik informasi.

"Ini sekaligus menjadi kekuatan utama dalam revolusi sumber pembiayaan generasi keempat di abad ke-21. Pihak pemberi pinjaman dapat berasal dari luar negeri sehingga jumlah dana yang tersedia sangat besar dan komunikasi langsung antar pihak akan membuka peluang pasar lintas wilayah maupun ekspor bagi UMKM," jelasnya.

Ditambahkannya, sebenarnya portal milik P2P  hanya menjalankan fungsi interfacing, atau mempertemukan kedua belah pihak. Tujuannya agar mereka saling memahami profil dan preferensi risiko yang dapat diterima.

Karena itu, pengelola portal menayangkan permintaan pinjaman dari UMKM setelah melalui proses credit screening, atau evaluasi kelayakan peminjam. Kemudian penelusuran informasi di seluruh jaringan media sosial, dan kunjungan ke lapangan.

Disarankannya, pemerintah dan otoritas perlu segera menyusun peraturan perundang-undangan yang spesifik karena UU perbankan, pasar modal, dan Perpres lembaga pembiayaan belum dapat mengakomodir karakteristik khusus dari jenis layanan P2P.

Selain itu perlu diatur agar seluruh dana pinjaman yang diperoleh wajib ditempatkan pada escrow account di bank kustodian selama proses pemberian pinjaman berlangsung guna mencegah tindak pidana fraud. Selain itu, platform milik P2P tentu diwajibkan juga aturan di  UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sebelumnya, OJK telah mendorong naiknya literasi keuangan dengan menghadirkan  produk Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) atau branchless banking.

Dalam program ini infrastruktur telekomunikasi dimanfaatkan sebagai platform dan pengantar data. Sepanjang 2015 ada 24.865 agen dan berhasil menjaring 1.094.362 nasabah serta mengumpulkan dana pihak ketiga sebanyak Rp 41,3 miliar.

Sembilan bank bermain di Laku Pandai yakni  Bank BRI, Mandiri, BCA, BTPN, BTN, BNI, BRI Syariah, BPD Kaltim, dan Bank Sinarmas.  

Berdasarkan survei nasional literasi keuangan Indonesia tahun 2013, tingkat literasi di Indonesia masih rendah sebesar 21,80%   dan tingkat inklusi masyarakat keuangan Indonesia sebesar 59,74%.

Dalam kajian dari DBS, teknologi digital memunculkan revolusi bagaimana bisnis dilakukan. Perubahan ini terjadi dengan kecepatan, bentuk dan dampak yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Laporan yang dirilis oleh McKinsey memperkirakan, dibutuhkan waktu 80 tahun bagi teknologi uap untuk memberikan kontribusi lebih dari 1% pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

Bakti
Teknologi listrik membutuhkan waktu 40 tahun dan teknologi informasi dan komunikasi tradisional butuh waktu 20 tahun. Sedangkan era teknologi digital saat ini akan membawa dampak yang sama hanya dalam waktu 15 tahun.

telkom sigma
DBS mencatat ada tiga dampak signifikan yang dibawa oleh teknologi digital terhadap dunia bisnis yakni  kecepatan, akses dan kesempatan lebih besar bagi konsumen, cara baru melakukan business intelligence, terakhir prioritas pada Infrastruktur digital, bukan lagi fisik.(id)

Artikel Terkait
Telkom DES
More Stories
Indonesia Digital Network
Financial Analysis
XL kurangi kepemilikan di PDGDC