Cara Indonesia Mencetak Seribu Startup Hingga 2020

04:55:36 | 17 Nov 2015
Cara Indonesia Mencetak Seribu Startup Hingga 2020
Ilustrasi (dok)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Indonesia memiliki ambisi yang besar dalam mengembangkan ekonomi digital.

Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) telah mencanangkan ingin mencetak sekitar seribu startup dengan tiga masuk dalam kategori Unicorn (valuasi US$ 1 miliar) di 2020.

“Kita bisa jika melihat potensi yang ada. Anak-anak muda sangat bagus inovasinya. Sekarang mengarahkan inovasi itu sesuai dengan kebutuhan bisnis dan masyarakat,” kata Menkominfo Rudiantara, kemarin.

Menurutnya, salah satu kelemahan terbesar adalah kebanyakan produk yang dibuat dan disebarkan bukanlah produk yang dapat menyelesaikan masalah yang sebenarnya. (Baca juga: Indonesia dan Startup)

Sedangkan pada sisi jumlah dan kualitas harus diakui wirausahawan Indonesia masih kalah jumlah dan kapasitas. Hal itu lebih disebabkan minimmya dukungan dari ekosistem pemungkin pertumbuhan wirausahawan.

“Padahal, 95% bisnis di Indonesia adalah startup di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Saya punya cita-cita untuk mengumpulkan dana US$ 1 miliar untuk mengembangkan startup di Indonesia,” paparnya.  

Program  
Diungkapkannya, instansinya  telah mengumpulkan stakeholders untuk memberikan mentoring mengenai Program Pengembangan Teknoprenur di Indonesia.

Dalam pertemuan itu dibahas mengenai berbagai aspek pengembangan startup. Mulai dari proses ideation dengan pelaksanaan seminar hingga bootcamp dan dilanjutkan penyelenggaraan inkubator atau akselerator.

Dalam rapat dibicarakan bagaimana secara spesifik bagaimana program ini bisa di-scale up menjadi sebuah program nasional.

“Nanti akan diawali dengan menginisiasi penyelenggaraan di 50 kota yang ada di Indonesia. Salah satu pertimbangannya adalah kota yang memiliki kesiapan jaringan telekomunikasi, jumlah anak muda potensial, dan jumlah universitas atau akademi yang dapat mendukung pengembangan teknoprenur,” katanya.

Rencananya, siklus kegiatan  dirancang berlangsung selama enam bulan sehingga dalam setahun dapat dilaksanakan selama dua kali putaran. Kegiatan akan diinisiasi di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Medan, Balikpapan dan Makassar.  “Kita akan rancang  10 kegiatan maksudnya dua kali di Jakarta untuk mendorong 2000 talks, 1000 Workshop, 500 Hackathon dan terbentuk 10 Team Bootcamp,” jelasnya.

Dalam proses workshop, seluruh tanggapan atau masukan dari peserta  akan dirumuskan ke dalam rangkaian kalimat (wording) yang akan disisipkan sesuai dengan substansinya.Hasil dari pembahasan akan difinalisasi, dan kemudian akan dilaporkan kepada para peserta.

Ditambahkannya, pihaknya akan membuat venture capital (VC) yang akan menangani dana untuk mendukung para startup nantinya. Sistem dari VC tersebut, yaitu pinjaman bukan suntikan dana.“Jadi VC akan membawahi para startup yang siap didanai, dan memberikan beberapa bantuan dana,” tambahnya.

Lebih lanjut dikatakannya, semua upaya itu pada dasarnya merupakan upaya Indonesia untuk mengubah mindset, pola pendidikan untuk generasi muda dengan berbasis  entrepreneurship atau kewirausahaan.

“Entrepreneurship dimulai dengan mindset, menciptakan solusi untuk berbagai permasalahan melalui serangkaian program untuk membantu mereka menemukan kematangan, peningkatan skill, berbagi pengetahuan, dan pengembangan ide,” jelas Rudiantara.

Sementara Dirjen Aplikasi Informatika, Bambang Heru Tjahjono, mengungkapkan bahwa startup lokal diperkirakan mampu menyumbang satu persen Produk Domestik Bruto (PDB).

“Bergelimangnya startup dapat menciptakan dua persen dari total jumlah penduduk Indonesia untuk menjadi wirausahawan ,” katanya.

Sebelumnya, dari ajang teknologi Tech in Asia banyak startup anak negeri ini yang diminati. Di ajang tersebut  85% pengunjung berasal dari Indonesia. Tiga negara asing dengan jumlah pengunjung terbanyak adalah Singapura, Hong Kong dan Thailand.

Dari total pengunjung yang hadir, 29% di antaranya merupakan startup, 7 investor dengan dana investasi lebih dari US$ 1 miliar, dan 12% dari total pengunjung adalah berbagai pihak yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai ekosistem yang berada di Indonesia maupun di wilayah Asia secara umum.

Di area eksibisi Bootstrap Alley, anjungan startup Indonesia menempati urutan pertama (76%) yang paling banyak diminati, dan diikuti oleh Singapura (10%) dan Malaysia (5%). Untuk jenis industri vertikal, eCommerce menempati urutan teratas (26%), diikuti oleh Gaya Hidup (8%) dan enterprise (7%).

Tercatat 4.207 pengunjung hadir mengunjungi Tech in Asia Jakarta 2015 dan berinteraksi dengan inovasi-inovasi strategis yang ditampilkan oleh 235 startup peserta eksibisi.

Geliat startup di Indonesia menjadikan lembaga keuangan seperti Bank Mandiri ikut mendirikan Venture Capital , Mandiri Capital.

telkom sigma
Mandiri Capital hadir membawa modal awal sebesar Rp 500 miliar dan akan fokus pada startup yang mengembangkan layanan pembayaran inovatif yang relevan dengan industri eCommerce.(id)

Artikel Terkait