Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Indosat Santai Tanggapi Konsolidasi XL-Axis

23:53:47 | 19 Aug 2013
Indosat Santai Tanggapi Konsolidasi XL-Axis
Alexander Rusli (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – PT Indosat Tbk (Indosat) mengaku santai saja menghadapi rencana konsolidasi antara PT XL Axiata Tbk (XL) dengan PT Axis Telekom Indonesia (Axis) walau banyak kalangan beranggapan dampak dari aksi korporasi itu bisa menggerus pangsa pasar anak usaha Saudi Telecom Company (STC) tersebut.

“Santai saja kita. Untuk jangka pendek jika konsolidasi keduanya (XL-Axis) terjadi belum akan menggoyang pangsa pasar Indosat,” ungkap President Director & CEO Indosat Alexander Rusli di Jakarta, belum lama ini.

Sekadar diketahui, jika melihat dari pangsa pasar layanan 3G di pasar, saat ini Telkomsel pangsa pasar  sekitar 42%, Indosat 16,7%, XL Axiata 15,9%, Hutchison 3 Indonesia (Tri) 5,4 %, dan Axis Telekom Indonesia 2,1%.

Diprediksi jika kedua operator melakukan konsolidasi pangsa pasar dari sisi pelanggan bisa mencapai sekitar 25% dan menjadi ancaman serius bagi Indosat yang selama ini menduduki posisi nomor dua di pasar seluler nasional.

Indosat di kuartal kedua 2013  hanya meraih pendapatan Rp 5,9 triliun atau naik 2,3% dibandingkan kuartal I-2013 sebesar Rp 5,7 triliun. Layanan seluler yang menjadi mesin utama pendapatan selama kuartal pertama 2013 hanya meraih pendapatan Rp 4,8 triliun naik 1,5% dibandingkan kuartal pertama 2013 Rp 4,7 triliun.

Sedangkan XL pendapatan per kuartal  tumbuh  sekitar 5% yakni dari Rp 5,022 triliun di kuartal pertama 2013 menjadi Rp 5,269 triliun di kuartal kedua 2013. Indosat memiliki sebanyak 55,9 juta pelanggan, sementara XL 54,1 juta pelanggan. Axis sendiri sekitar 17 juta pelanggan.

Menurut Alex, jika pasar pelanggan yang tersedia masih seperti sekarang, maka konsolidasi XL-Axis tak akan menganggu posisi Indosat yang di nomor dua di industry seluler. “Kalau pasar masih sebesar ini, jangka pendek tak akan ada gangguan dari aksi konsolidasi itu. Paling lima tahun ke depan mulai terasa gangguannya, tetapi Indosat kan terus berubah juga menghadapi dinamika,” katanya.

Masih menurut Alex, keunggulan dari hasil konsolidasi XL-Axis nantinya adalah di kepemilikan sumber daya terbatas alias frekuensi yang lumayan longgar sehingga dari sisi investasi lebih murah.

“Nah, kalau investasinya kecil itu bisa menawarkan tarif lebih kompetitif ke pelanggan. Tetapi itu kan tidak seketika, mereka harus re-planning site dan sebagainya. Indosat sendiri dari sisi frekuensi lumayan oke, apalagi jika modernisasi jaringan selesai,” katanya    

Saat ini komposisi kepemilikan frekuensi XL sendiri saat ini adalah 15 MHz atau setara tiga blok (8, 9, dan 10) di spektrum 2,1 GHz untuk layanan 3G. Sedangkan untuk 2G, XL juga punya di 1.800 Mhz dan 900 MHz, masing-masing 7,5 MHz. Sementara Axis menduduki dua blok 3G di 2,1 GHz, yakni blok 11 dan 12. Sementara untuk 1.800 MHz memiliki lebar pita 15 MHz.

Jika konsolidasi antara keduanya terjadi dan XL hanya mengembalikan satu blok 3G maka anak usaha Axiata ini akan memiliki empat blok frekuensi 3G dan di 1.800 MHz menjadi 22,5 MHz atau setara dengan alokasi yang dimiliki Telkomsel.Banyak analis beranggapan, konsolidasi antara XL-Axis akan mendorong efisiensi beban usaha operator hingga 20%.

Kabar terakhir dari rencana konsolidasi ini adalah Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akan mengeluarkan kajian teknis tak lama lagi setelah mengeluarkan restu secara prinsip pada akhir Juli 2013.

XL mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi pendanaan untuk membiayai akuisisi seperti right issue, pinjaman dana dari pemegang saham, menerbitkan obligasi, atau mencari pinjaman usai ditandatangani Conditional Sales Purschase Agreement (CSPA).

Axis diprediksi memiliki nilai pasar sekitar US$ 1 miliar. Saham Saudi Telecom  diperkirakan bernilai US$ 880 juta  atau setara Rp 8,6 triliun. STC memiliki saham langsung di Axis sebesar  80,1% dan tak langsung 3,725%.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year