Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Pengguna Android dalam Jebakan Kerentanan Keamanan

9:36:58 | 22 Jun 2013
Pengguna Android dalam Jebakan Kerentanan Keamanan
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Para pengguna sistem operasi Android berada dalam jebakan kerentanan dan kelemahan kemanan karena fragmentasi dari  sistem operasi yang banyak terpasang di smartphone itu.

Fragmentasi yang dimaksud disini adalah penyebaran yang tidak merata dari sistem operasi Android. Pemicunya adalah  Android  meluncurkan beberapa versi sistem operasi dalam siklus yang tidak terlalu teratur. Dari tiap enam bulan sekali lalu diubah menjadi setahun sekali.

Hampir semua update Android harus melewati proses yakni melalui  produsen perangkat dan penyedia layanan sebelum sampai ke pengguna akhir. Sayangnya, proses ini tidak cepat atau meyakinkan, sehingga menghasilkan fragmentasi bagi beberapa versi Android yang digunakan

Trend Micro dalam rilisnya mengungkapkan, dampak dari fragmentasi ini  banyak pengguna Android dengan sistem operasi versi lama terjebak  dalam kerentanan dan kelemahan keamanan.

“Hanya 2,3% dari perangkat Android yang digunakan adalah versi terbaru. Sepertiganya  masih menggunakan Gingerbread,” kata perseroan.

Sayangnya, meski perangkat menjalankan OS Android versi terbaru tidak menjamin keamanan. Trend Micro sudah mencatat bahwa perangkat dengan sistem operasi Jelly Bean 4.2 tidak sepenuhnya terllindungi dari malware.

Mayoritas pengguna Trend Micro Mobile Security untuk Android dengan sistem operasi Jelly Bean mencapai 33,23%. Ini menunjukkan, meski mereka menggunakan sistem operasi Android yang paling amanpun masih membutuhkan perlindungan tambahan.

Tidak teroganisir
Masih menurut perusahaan keamanan ini, sistem operasi buatan Google ini terkesan tidak teroganisir dalam mengatur softwarenya, walau  sejak sistem operasi Ice Cream Sandwich mulai ada, aturan-aturan mulai diterapkan dengan tujuan agar kondisi penyebaran sistem operasi ini lebih teratur

Dikatakannya, membiarkan pengguna menggunakan sistem operasi Android yang lama  memiliki dua konsekuensi kerentanan : unpatched yang tersisa, dan fitur baru yang tidak dapat diperbaharui.
 
Pada konferensi tahun ini, pengembang Google  mengumumkan rencana untuk memperbaiki setidaknya sebagian dari masalah tersebut. Seharusnya mereka meluncurkan sebuah versi baru, bukan sebaliknya hanya mengumumkan update saja.

Jika itu yang dilakukan,  fitur baru untuk Android bisa ditambahkan,  sementara pada saat yang bersamaan pengguna tidak perlu untuk menggunakan sistem operasi yang sama sekali baru. “Tentunya ini tidak menyelesaikan semua masalah potensial karena adanya fragmentasi, namun langkah tersebut sudah menuju arah yang benar,” analisa dari Trend Micro.

Diungkapkan Trend Micro, fragmentasi Android merupakan masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu dekat, namun ini tidak berarti pengguna tidak dapat berbuat apa-apa.

Ketika membeli perangkat Android, mereka dapat mengetahui sistem operasi yang digunakan. Mereka dapat mencatat opsi keamanan yang tersedia untuk mereka. Pengguna juga dapat memilih untuk membeli perangkat Android dari Google. Hal ini mengurangi keterlambatan dalam update karena Google yang mengarahkan mereka langsung ke produknya.

Jika pengguna sudah memiliki sebuah perangkat Android, mereka tidak harus menunggu produsen dan layanan penyedia pembaruan untuk melindungi perangkat mereka. Menginstal aplikasi keamanan seperti Trend Micro  Mobile Security untuk Android juga efektif dapat memblokir eksploitasi yang dapat mengeksploitasi kerentanan Android.

Sekadar catatan, menurut riset CCS Insight pasar ponsel dunia  pada tahun ini diperkirakan mencapai 1,86 miliar unit dimana 53% diantaranya smartphone.

Pasar  smartphone diyakini tetap kompetitif, sebab tiada sistem operasi yang dominan seperti Android milik Google atau iOS milik Apple Inc.

Di Indonesia, Frost & Sullivan memperkirakan pada tahun ini  penjualan ponsel di Indonesia diperkirakan mencapai 60,4 juta unit, dengan pangsa smartphone 37% atau setara 22,3 juta atau unit.  Pada tahun ini penjualan mobile device di Indonesia akan mencapai Rp 50 triliun.

Secara value, pasar smartphone dengan harga lebih Rp 4 juta seperti iPhone  juga meningkat dan diperkirakan berkontribusi 30% terhadap total penjualan handset di Indonesia.(ak) 

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year