Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
telkomsel halo

Bisnis Menara Menjadi Domain Pemain Infrastruktur

8:35:55 | 18 Apr 2013
Bisnis Menara Menjadi Domain Pemain Infrastruktur
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Bisnis menara diyakini di masa mendatang akan menjadi domain dari penyedia infrastruktur seiring operator kian fokus dalam mengakuisisi dan melayani pelanggan.

“Jika masa lalu operator menikmati margin tinggi dari mahalnya harga ritel ke pelanggan. Dampaknya mereka berani membangun menara sendiri dan dijadikan bagian dari belanja modal. Tetapi di masa sekarang hal itu tak bisa dilakukan lagi,” ungkap Presiden Direktur Tower Bersama Herman Setya Budi

Dikatakannya, pada masa sekarang operator lebih fokus pada mengakuisisi dan melayani pelanggan sehingga masalah pembangunan menara akan diserahkan ke pemain infrastruktur.

Menurutnya, persaingan bisnis operator adalah memang di area pelayanan  pelanggan. Adanya  perusahaan infrastruktur independen dipercaya   dapat menghadirkan biaya lebih efisien bagi industri.

“Itu bisa dilihat dari tren operator menjual menara ke penyedia menara. Operator tak rugi karena dari asetnya bisa kembali menjadi uang. Sementara penyedia menara harus mencari margin dari menara yang dibeli dengan mencari penyewa lainnya. Saat ini sudah ada keseimbangan untuk harga sewa di industri, taka da yang dominan sehingga bisa pasang sewa tinggi,” ungkapnya.

Diungkapkannya, berdasarkan analisa konsultan pada tahun ini diperkirakan ada 10 ribu BTS yang akan dibangun seluruh operator di Indonesia. Namun, bagi perusahaan menara seperti Tower Bersama,   angka tersebut belum mencerminkan jumlah permintaan sebenarnya.

“Masalahnya kan di satu menara itu bisa dipasang BTS dari beberapa operator. Akhir tahun 2012 rasio kolokasi dari Tower Bersama adalah 1, 75 kali. Kolokasi yang meningkat tersebut membuat perusahaan memiliki skala ekonomis yang juga lebih baik. Hal tersebut terlihat dari peningkatan laba bersih dan EBITDA,” tambah  Direktur Keuangan Tower Bersama Helmy Yusman Santoso

Dijelaskannya, karena kondisi yang dinamis, tidak seperti perusahaan lain yang dapat menentukan belanja modalnya dari awal tahun, maka pemain menara biasanya harus melihat terlebih dulu   permintaan operator.  

Perusahaan dapat memenuhi permintaan tersebut dengan membangun menara baru atau kolokasi pada tower-tower yang sudah ada.  Sedangkan nilai belanja modal dari pembangunan menara baru dan kolokasi sangat berbeda jauh.
     
“Cara lainnya adalah anorganik dengan mengakuisisi menara milik operator. Nah, di akusisi ini kan tidak bisa diprediksi kapan pengumuman dari operator untuk melepas menara,” katanya.

Helmy menambahkan, perseroan juga tengah melakukan kajian untuk mendiversifikasi usaha tak sebatas kepada infrastruktur menara saja. "Kita juga ingin bermain di serat optik karena ini salah satu infrastruktur yang banyak juga permintaannya di pasar," katanya.

Siap Akuisisi
Lebih lanjut Herman menegaskan, perseroan selalu siap ikut dalam perburuan membeli menara milik operator jika ada yang melepasnya tahun ini.

“Kami  tak khawatir dengan adanya pemain baru. Kehadiran pemain baru dengan dukungan private equity itu akan membuat industri ini lebih dinamins,” katanya.

Kala ditanya tentang kemungkinan untuk perseroan berkonsolidasi dengan anak usaha Telkom, Mitratel, Herman menegaskan, secara resmi belum ada pembicaraan.
“Kita tidak  tahu rencana Telkom terhadap Mitratel, termasuk isu back door listing. Tetapi seperti saya tegaskan tadi, jika memang ada peluang dan itu resmi kami siap. Kita ada dana standby,” katanya.

Sekadar diketahui, Telkom tengah mengaji membawa  PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) melalui jalur  back door listing ketimbang Intial Public Offering (IPO).

Praktik Backdoor listing biasanya saham dari satu perusahaan diambil alih oleh perusahaan yang telah tercatat di bursa saham sehingga secara tidak langsung menjadi bagian dari emiten yang tercatat di pasar modal.

Telkom sudah menunjuk  Barclays Capital untuk memuluskan aksi ini. Saat ini Mitratel mengelola sebanyak 3.000 unit menara,  dan sedang dalam proses mengambialih sekitar 14.000 unit menara milik  Telkomsel yang juga anak usaha Telkom.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year
Financial Analysis
XL kurangi kepemilikan di PDGDC