telkomsel halo

Ini Resep agar Medioker tetap Bertahan

23:18:39 | 22 Feb 2013
Ini Resep agar Medioker tetap Bertahan
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) –  Lembaga konsultan Frost & Sullivan belum lama ini mengeluarkan hasil penelitiannya terhadap industri telekomunikasi Indonesia.

Diperkirakannya, pada 2012 pendapatan dari industri seluler Indonesia sekitar  Rp 134,5 triliun   naik 16,6% dibandingkan 2011 sebesar Rp 113,1 triliun.  

Sedangkan pada tahun ini diperkirakan nilai pasar dari industri seluler  terjadi pertumbuhan  sekitar 10,8%   atau mencapai  Rp 149,7 triliun .

Untuk  penetrasi SIM card, diperkirakan telah mencapai 119 persen di 2012 dan akan mencapai 144,1% di 2016. Rata-rata penggunaan kartu SIM mencapai 2 SIM per pengguna.

Sementara Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) memberikan perhitungan yang lebih konservatif yakni   pertumbuhan industri seluler di Indonesia tak jauh dari 8%  dengan rata-rata Average Revenue Per User (ARPU) sekitar Rp 23 ribu.  

Penguasaan Pasar
Head of ICT Consulting Frost & Sullivan Indonesia Dev Yusmananda mengungkapkan, komposisi penguasaan pasar di daerah gemuk tak berubah.

“Tiga besar masih mendominasi pangsa pasar di perkotaan. Ketiganya adalah Telkomsel, Indosat, dan XL dengan penguasaan hampir 70%,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Rinciannya, Telkomsel pangsa pasarnya di kota-kota besar adalah 36,7%, Indosat (17,4%), dan XL (15,5%).

Nah, bagaimana nasib pemain lapis kedua atau medioker?

Operator Tri ternyata menguasai 6,8% pangsa pasar di perkotaan, disusul Axis dengan 5,8%.

Berikutnya disusul para pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA).  PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) menjadi penguasa pangsa pasar untuk pemain berbasis CDMA di kota-kota besar dengan penguasaan 8,6%, TelkomFlexi (4.8%), Smartfren (4.1%). Sedangkan Ceria hanya 0,2% dan StarOne Indosat (0,1%).

Frost & Sullivan memperkirakan   belanja modal yang besar untuk layanan data akan menekan sekitar 5%  dari margin EBITDA tiga operator lapis pertama.  Sementara net margin ketiga operator tersebut juga tertekan sebesar 2%-3%.

“Tahun ini  operator lapis pertama akan mengalami stabilisasi margin EBITDA, seiring dengan meningkatnya monetisasi layanan data. Sementara net margin operator lapis pertama ini baru stabil pada 2014. Operator lapis kedua diperkirakan mengalami waktu stabilisasi lebih lama ketimbang operator lapis pertama,” ungkap Partner Frost & Sullivan Nitin Bhat.

Diperkirakannya,  masa monetisasi layanan data akan berlangsung dari 2013 hingga 2015. Kunci dari monetisasi layanan data operator adalah tren meningkatnya penetrasi smartphone menjadi sekitar 30%   di 2015 dari 9 persen di 2012.

Resep
Menurutnya,  para pemain lapis kedua lebih tertekan pada tahun ini baik dari sisi net margin atau Earning Before Interest Tax Depreciation and Amortization (EBITDA).

“Tekanan margin EBITDA dan net margin akan lebih besar di pemain lapis kedua.  Diperkirakan lebih dari 3% untuk net margin,” katanya.
 
Dijelaskannya, operator lapis kedua menghadapi tantangan berat, sebab belanja modal untuk layanan datanya sama besar dengan operator lapis pertama. Sementara dari sisi harga, layanan data harus kompetitif dari operator lapis pertama. Inilah pemicu   skala ekonomi operator lapis kedua masih negatif.

Saat ini   rata-rata pendapatan operator lapis kedua berada di level   Rp 1,5 triliun- Rp 2 triliun  per tahun. Bandingkan dengan tiga besar yang menguasai 70%  pangsa pasar dengan pendapatan per tahun di atas  Rp 20 triliun.  

Disarankannya,   operator lapis kedua   menjalankan skema sewa menara dibandingkan membangun menara sendiri. Operator hanya melakukan pembelian atau pembangunan menara, apabila  terdapat permintaan yang kuat.

Selain itu, sebaiknya  operator lapis kedua tidak bersaing dari sisi pelanggan dengan operator lapis pertama. Artinya, operator lapis kedua harus memiliki target segmen yang khusus. Operator lapis kedua juga bisa menjalankan skema frekuensi sharing dengan operator lapis pertama, atau skema mobile virtual network operator (MVNO).(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year