Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

Tren Industri

OTT Lokal Masih Kurang “Joss”

21:41:10 | 26 Dec 2012
OTT Lokal Masih Kurang “Joss”
Ilustrasi (Dok)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (indotelko) – Pemain Over The Top (OTT) lokal ternyata belum bisa berbicara banyak di era data walau sudah diberikan kesempatan untuk menggarap pasar.

“OTT lokal kurang bisa mengikat pelanggan secara kuat. Jika pun dalam kemunculan pertamanya ada reaksi dari pasar, tetapi setelah momentum itu lewat, pelanggan biasa saja. Bahasa gaulnya kurang “Joss” karena daya gigitnya masih kurang,” ungkap Direktur Sales Axis Telecom  Syakieb Sungkar kala menjadi pembicara di seminar OTT: Friend or Foe belum lama ini.

Menurutnya, pemain OTT global seperti Facebook, Google, WhatsApp, dan lainnya sulit dibendung kehadirannya di Indonesia.
“China saja sempat memblokir Google, tetapi yang rugi masyarakatnya juga.  Karena sulit dilawan, lebih baik kita  berkolaborasi dengan OTT global, sembari menunggu OTT lokal tumbuh kuat,” katanya.

Diakuinya, memang tidak mudah untuk membangun layanan OTT lokal karena dibutuhkan effort yang sangat besar.  

“Guna membangun ekosistem OTT lokal harus ada juga kesadaran operator untuk tidak mengikat mereka secara eksklusif agar pasarnya lebih besar. Bisanya kalau OTT lokal diikat eksklusif,  ujung-ujungnya bisa mati juga," katanya.

Director & Chief Commercial Officer Indosat Erik Meijer menambahkan, para pelaku usaha konten harus memanfaatkan kondisi geografis dan psikografis masyarakat Indonesia agar hasil kreasinya bisa diterima pasar.

“Saat ini digital lifestyle masyarakat sudah berubah. Jika dulu dikenal 4 level of intimacy to communication,  sekarang dengan adanya Facebook dan sejenisnya berubah menjadi 10 level. Belum lagi dengan terus tumbuhnya kelas menengah di masa mendatang. Kebutuhan dan perubahan masyarakat ini harus dibaca oleh pembuat konten,” katanya.

Direktur Perencanaan dan Transformasi Telkomsel Edward Ying mengungkapkan, di tahun-tahun mendatang seiring kian tingginya adopsi smartphone, konten berisikan video akan banyak dilirik oleh pelanggan. “Para creator harus bisa menghasilkan konten nantinya yang bisa membawa suasana lokal. Orang Indonesia terkenal kreatif soal ini,” jelasnya.

Kekuatan Telco
Sementara itu, CEO NuMedia Andy Zain mengungkapkan, operator telekomunikasi memiliki kekuatan besar untuk menentukan berkembang atau tidaknya OTT lokal di Indonesia. Pasalnya, operator memiliki basis pelanggan yang bisa dijadikan pasar.

“Saya punya pengalaman kala  mengembangkan konten denngan memasarkan sendiri, lama take up-nya di pasar. Kala menggandeng operator, kontennya langsung mudah penetrasi di pasar,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, dalam bekerjasama dengan OTT lokal, operator sebaiknya tidak menerapkan model bisnis atau regulasi sesuai standar yang dimilikinya ke para kreator.

“Saya punya konten kala bekerjasama dengan satu operator dengan menerapkan model  bisnis Telco, trafik langsung turun. Ini bukti kalau untuk bisnis internet ini sebaiknya operator tidak menerapkan aturan terlalu ketat agar OTT lokal bisa berkembang,” jelasnya.

Hal lain yang disorotnya adalah banyak pengembang konten di Indonesia masih berbasiskan pada desktop, sementara kenyataan negeri ini adalah pasar mobile. “Indonesia pengadopsi yang cepat untuk aplikasi berbasis mobile. Twitter dan Facebook juga banyak diakses melalui mobile. Sekarang kreator harus jeli melihat itu sebagai peluang,” katanya.

President Director Ericsson Indonesia Sam Saba menyakini  kehadiran OTT,  apalagi pemain lokal, bisa  membuka peluang bisnis baru yang menguntungkan bagi para operator.
 
"Pelanggan bisa diberi pilihan mengakses OTT sesuai kebutuhannya. Dari situ bisa dibuatkan paket OTT yang sesuai keinginan pelanggan, dengan paket harga yang menarik. Survei kami membuktikan, pelanggan itu  mau membayar satu konten jika dibutuhkan," kata Sam.

Pada kesempatan sama, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menghimbau komunitas dan operator untuk lebih menghargai jaringan sendiri dengan lebih memberikan ruang pada konten lokal.

“Seharusnya secara kedaulatan konten lokal harus diberikan tempat. Sebagai anak bangsa,  kita harus mengharagai jaringan sendiri dengan mengakses konten lokal,” tegasnya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year