Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Bisnis Internet

Konten Asing Berkibar, Devisa Melayang Rp 1,5 triliun

30:22:53 | 11 Dec 2012
Konten Asing Berkibar, Devisa Melayang Rp 1,5 triliun
Ilustrasi
telkomsat
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (indotelko) – Penetrasi internet yang tinggi di Indonesia ternyata belum dinikmati secara utuh oleh anak bangsa.

Hasil kajian yang dilakukan Klik Indonesia, konten asing terlalu didominan di akses pengguna Internet dimana jumlahnya mencapai 70%. Alhasil ada biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 1,5 triliun sebagai kompensasi membayar 250 Gbps sambungan internasional (bandwidth) dari dan ke Indonesia ke luar negeri.

Angkasa Pura 2
Angka itu dianggap sebagai devisa yang melayang karena terlalu dominannya konten asing di Indonesia.

“Saat ini 70% konten internet di Indonesia dikuasai oleh konten asing. Kita hanya menjadi pengguna, menjadi objek dari sasaran konten asing, namun tidak menikmati nilai ekonomisnya. Kini saatnya kita untuk bergerak, bekerjasama, saling bahu membahu untuk membangun konten Indonesia, dan kita sadarkan bahwa KlikIndonesia untuk konten Indonesia,"  kata Ketua Umum Klik Indonesia Henri Kasyfi Soemartono melalui keterangan tertulisnya.
 
Dikatakannya, untuk menandai kebangkitan konten internet Indonesia, maka KlikIndonesia akan dideklarasikan pada hari Rabu tepat pukul 12.00 WIB di Gedung Cyber1 Lantai-7, Jl. Kuningan Barat, Jakarta Selatan.

Dalam deklarasi tersebut, selain tanda tangan kebangkitan konten Indonesia, juga akan diputar video berdurasi sekitar 5 menit yang berisi lagu KlikIndonesia serta dukungan dari berbagai tokoh dan selebritis yang peduli. Konten-konten pendukung gerakan ini antara lain Kaskus, detikcom, kompas.com, merdeka.com, indowebster, kapanlagi.com, mindtalk.com dan lain-lain.

Sejak dibuka pendaftaran pada 8 Desember lalu, sudah 150 lebih konten khas Indonesia mendaftar.

Salah Kaprah
Menurut  Henri, selama ini  masyarakat Indonesia salah kaprah. Bahwa pengguna twitter Indonesia merupakan terbesar ke-5, pengguna Facebook Indonesia terbesar ke-4 dunia, adalah kebanggaan yang semu.

Sebab, nilai ekonomisnya, pengguna Indonesia tidak menikmatinya, namun hanya sebagai objek semata.

"Seluruh nilai ekenomisnya, berupa pemasangan iklan dan lain-lain, semua milik asing, bukan kita. Kenapa kita tidak meningkatkan nilai ekonomis konten bangsa Indonesia dengan mengakses konten saudara-saudara sendiri," sesalnya.  

Dijelaskannya, tercatat hari ini di Indonesia ada sekitar 63 juta pengguna interneĀ, 70% diantaranya mengakses dari ponsel.

Dengan pasar ponsel yang kini mencapai 250 juta handsets aktif dan penjualan handsets mencapai hampir 100 juta unit per tahun, Indonesia merupakan pasar luar biasa untuk konten internet.

Ini belum memperhitungkan jumlah komputer desktop yang terhubung ke Internet maupun pesawat televisi yang semakin dapat menampilkan tidak hanya siaran tv konvensional tapi juga berbagai konten Internet dan beragam aplikasi.

"Begitu menariknya pasar Indonesia, selain karena jumlah pasar juga karena perilaku pasar yang begitu adaptif terhadap tersedianya berbagai hal baru di Internet. Namun, situs-situs yang dituju sebagian besar asing. Dan ini diperparah dengan operator yang memperjuangkan konten asing dalam memasarakan produknya. Kenapa tidak memasarkan konten lokal kita yang sudah membanggakan Indonesia," tambahnya.

Disayangkannya,  konten-konten asing yang bergerak di Indonesia, tidak membangun infrastruktur di Indonesia tapi justru hanya membuka kantor pemasaran dan sales. "Itu bukti bahwa mereka cuma menjadikan Indonesia sebagai pasar. Kita dijadikan objek, disedot ekonomi kita. Kita saja yang tidak sadar,” tegasnya.

Devisa Melayang
Ditambahkannya, saat ini sekitar 250 Gbps sambungan internasional (bandwidth) dari dan ke Indonesia ke luar negeri. Dari jumlah sambungan tersebut, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 1,5 trilliun per tahun devisa yang terbang ke luar negeri.
 
Dari jumlah bandwidth tersebut, yang didownload konten asing sebesar 70% sedangkan sisanya konten Indonesia yang diakses keluar, yakni konten Indonesia dan konten bisnis. Jadi, tambah Henri, setiap tahun uang yang keluar sekitar Rp 1,05 triliun.

"Ini pemborosan. Kenapa ekonomi itu justru lari keluar. Kalau yang diakses dalam negeri besar, maka bandwidth lokal akan semakin besar dan itu jauh lebih murah dan bandwidth internasional bisa dihemat. Sehingga uang yang mestinya keluar bisa dimanfaatkan untuk ekonomi nasional," kata Henri.(id)

 

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma