blanja 2019
telkomsel halo

BAKTI ungkap alasan menangkan PSN di tender transponder HTS

10:42:31 | 04 Feb 2019
BAKTI ungkap alasan menangkan PSN di tender transponder HTS
Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Anang Latif. (dok)
telkomsat
JAKARTA (IndoTelko) - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) akhirnya mengumumkan pemenang tender penyediaan kapasitas satelit telekomunikasi (transponder) berbasis High Throughput Satellite (HTS).

Lima perusahaan menjadi pemenang dari lelang dengan total nilai kontrak sekitar Rp7,5 triliun untuk lima tahun itu.

Kelima perusahaan itu adalah PT Indo Pratama Teleglobal, PT Pasifik Satelit Nusantara, PT. Aplikanusa Lintasarta, Konsorsium Iforte HTS, dan Telkom.

Empat pemenang menggandeng satelit asing untuk penyediaan transponder HTS. Indo Pratama Teleglobal menggunakan satelit SES 12 di slot orbit 95 derajat Bujur Timur (BT), Lintasarta menggunakan satelit milik Intelsat di slot 169 BT, Konsorsium Iforte menggunakan satelit Telstar 18V di slot 138 BT, dan Telkom menggunakan satelit Apstar 5C di slot 138 BT.

Hanya PSN yang akan menggunakan satelit sendiri yakni Nusantara Satu. Satelit ini akan diluncurkan pada 18 Februari malam waktu Florida, Amerika Serikat (AS) atau 19 Februari 2019 pagi WIB dengan roket Falcon 9 milik SpaceX.

Banyak kalangan mempertanyakan penunjukkan PSN sebagai salah satu pemenang karena resiko satelit gagal luncur. (Baca: Pemenang tender transponder HTS)

"PSN memang baru akan luncurkan satelit pada Februari dan komersial di April. Kami tak ada masalah mereka baru bisa melayani BAKTI di April," ungkap Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Anang Latif belum lama ini.

Anang menjelaskan, konsep pembayaran yang dilakukan BAKTI adalah ketika layanan baru diterima dari penyedia transponder HTS. "Kontrak itu diberikan kalau layanan ready. Jadi efektif kala sinyalnya sudah ada sesuai target masing-masing," katanya.

Dikatakannya, jika dalam proses operasional nantinya satelit Nusantara Satu mengalami kendala hanya dimundurkan pemberlakuan pembayaran kontrak. "Tapi kalau satelitnya gagal luncur bisa kita batalkan kontraknya," pungkasnya.

Asal tahu saja, Satelit Nusantara Satu menggunakan platform SSL-1300 140 memiliki usia desain 15 tahun dan operasi 20 tahun dengan membawa 52 transponder yang terdiri atas 38 transpinder C Band dan 8 spotbeam KU Band dengan total kapasitas 15 Gbps. Khusus KU Band kapasitas yang dimiliki 13,6 Gbps. (Baca: Satelit Nusantara Satu)

Cakupan dari C Band satelit Nusantara Satu meliputi wilayah Asia Tenggara dan KU Band untuk 8 spot beam meliputi seluruh wilayah Indonesia. Satelit ini akan menempati slot orbit 146 Bujur Timur, tepat di atas Papua. Satelit ini dikendalikan melalui stasiun bumi di Jatilihur. Jasindo dipilih sebagai pihak asuransi dari satelit ini.

Angkasa Pura 2
Biaya pengadaan satelit tersebut sekitar US$ 230 juta. Export Development Canada (EDC), menanggung lebih dari setengah biaya proyek satelit tersebut.(dn)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma