telkomsel halo
finnet KTM

Schneider Electric tawarkan pengelolaan listrik berbasis IoT

09:58:00 | 09 Nov 2018
Schneider Electric tawarkan pengelolaan listrik berbasis IoT
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko)  – Schneider Electric memperkenalkan inovasi terbaru Masterpact MTZ, generasi berikutnya dari high power low voltage air circuit breaker (ACB) pintar berbasis Internet of Things (IoT) dengan kemampuan analisa prediktif yang dipadukan dengan alat pengukur daya kelas 1 di industri.

Masterpact MTZ menjadi yang pertama untuk kategori air circuit breaker dengan tingkat akurasi pengukur daya teratas di kelasnya, dan tersertifikasi dengan standard internasional ISO 50001, IEC 61557-12 and IEC 60364-8.

“Sekarang masanya energi baru yang digerakkan oleh dekarbonisasi, desentralisasi dan digitalisasi, karena itu para pelaku bisnis perlu melakukan otomatisasi pengelolaan energi listrik dengan kemampuan analisa prediktif untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan mengontrol biaya operasional akibat gangguan listrik yang tak terduga,” ungkap Country President Schneider Electric Indonesia Xavier Denoly dalam keterangan, kemarin.”

Dikatakannya, pelaku bisnis tentunya mengharapkan distribusi listrik yang lebih aman, dapat diandalkan, efisien, berkelanjutan dan terhubung. Masterpact MTZ terbaru dari Schneider Electric menawarkan kemampuan digital yang terhubung dan dapat diintegrasikan dengan arsitektur EcoStruxure bagi pelanggan akhir, konsultan, pembuat panel listrik dan kontraktor listrik yang membutuhkan pemutus daya tinggi sebagai bagian dari low-voltage solution untuk lokasi industri dan bangunan yang kritikal. 

Solusi high power low voltage air circuit breaker (ACB) pintar berbasis Internet of Things (IoT) ini sangat cocok untuk bangunan-bangunan yang membutuhkan keandalan listrik setiap saat 24 jam / 7 hari dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap terjadinya gangguan listrik seperti Rumah Sakit dan Data Center.

“Bisnis seperti Rumah Sakit dan Data Center yang sangat sensitif dan bergantung terhadap keandalan listrik, memastikan tidak adanya downtime dan gangguan listrik sangatlah krusial karena berdampak langsung terhadap reputasi perusahaan, kerugian finansial, keamanan data serta kenyamanan dan kepuasaan klien/pasien. Oleh karena itu pengadopsian IoT dalam manajemen energi gedung menjadi sebuah keharusan,” tambah Xavier.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan, belanja perawatan kesehatan di Indonesia diprediksi mencapai US$37,7 milliar pada tahun 2020. Bisnis di sektor rumah sakit swasta juga akan semakin menggeliat dengan semakin banyaknya pembangunan rumah sakit swasta dari 917 rumah sakit swasta di 2015 diprediksi meningkat menjadi 1.017 rumah sakit di 2020.

Digitalisasi dalam pengelolaan energi listrik merupakan salah satu solusi yang saat ini mulai dilirik oleh manajemen rumah sakit di Indonesia untuk mencapai tujuan tersebut.

Sementara itu sektor Data Center juga memiliki prospek bisnis yang sangat besar. Data Ipsos Business Consulting mencatat adanya pertumbuhan pasar data center naik dua kali lipat sejak 2015 sampai dengan 2018 yaitu dari US$ 1,1 miliar menjadi US$ 2,3 miliar di tahun 2018, dan diperkirakan akan mencapai US$ 3,2 milliar pada 2020. 

Bahkan investasi nasional di bidang data center mencapai US$ 400 juta. Pertumbuhan Data Center yang pesat dipicu oleh tiga faktor yaitu penetrasi internet yang tinggi mencapai 52% dari total populasi di tahun Desember 2017, Peraturan Pemerintah No.82/2012 yang mewajibkan semua data yang terkait dengan Indonesia untuk dimuat di Data Center di dalam negeri, dan adanya solusi cloud computing yang memudahkan pelaku bisnis dan lebih terjangkau. 

Sebagai sektor dimana distribusi energi listrik menjadi faktor utama dalam keberlangsungan bisnis dengan tingkat konsumsi 10-100 kali lebih besar dibandingkan ruang kantor standard per meter persegi, Data Center membutuhkan perencanaan instalasi dan pengelolaan energi listrik yang terdepan dibandingkan sektor lainnya.

Berdasarkan data Asian Development Bank yang dirilis pada April 2017, kerugian finansial dari gangguan listrik atau downtime pada sektor Data Center diperkirakan serendah-rendahnya setara dengan US$ 90.000 per jam downtime di industri media hingga setinggi-tingginya setara dengan US$ 6,48 juta di industri keuangan atau perbankan. 

Downtime juga berdampak terhadap reputasi perusahaan, menurunnya kepercayaan investor dan konsumen yang akhirnya dapat menyebabkan gagalnya investasi dan pendapatan perusahaan. Dari sesi operasional, downtime dapat menyebabkan kerusakan data kritikal, resiko rusaknya peralatan serta asset lainnya dan besarnya biaya perbaikan dan pemulihan jaringan dan sistem.

“Solusi terbaru Masterpact MTZ berbasis IoT memungkinkan otomatisasi pemulihan daya bila terjadi gangguan listrik langsung melalui perangkat telepon genggam sehingga meminimalisir adanya jeda waktu, dan memiliki kemampuan analisa prediktif yang secara proaktif memberikan laporan bila terjadi penurunan performa peralatan listrik dan indikasi kemungkinan akan terjadinya gangguan listrik sehingga staf teknisi dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat sebelum terjadi kerusakaan yang lebih parah dan menekan pengeluaran biaya perawatan yang tinggi,” kata Vice President Building & Industrial Channel Schneider Electric Indonesia Martin Setiawan.(wn)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma