telkomsel halo
finnet KTM

Pemain VOD diperkirakan berinvestasi US$10,1 miliar di Asia

15:48:50 | 31 Okt 2018
Pemain VOD diperkirakan berinvestasi US$10,1 miliar di Asia
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Penyedia layanan video-on-demand (VoD) diperkirakan akan berinvestasi hingga US$10,1 miliar di Asia pada 2022.

Hal itu terungkap berdasarkan laporan berjudul “Asia-On-Demand: The Growth of Video-on-demand Investment in Local Entertainment Industries” yang dirilis firma konsultan strategi dan ekonomi AlphaBeta.

Nilai investasi hingga US$10,1 miliar itu meningkat 3,7x lebih tinggi dari nilai investasi pada 2017.

Hasil studi ini juga menunjukkan bahwa konsumen layanan VOD di Asia terus menunjukkan minat yang besar untuk mengonsumsi konten lokal, yang akan mendorong para pelaku industri untuk fokus dalam membuat konten yang lebih relevan secara lokal.

Sekitar US$4 miliar dari perkiraan investasi akan berupa investasi asing langsung (foreign direct investment) dari para pelaku industri di tingkat global.

Selain itu, manfaat ekonomi dari pemain VOD diperkirakan akan mencapai lebih dari 3x nilai pembelanjaan investasi.

Hal ini, terutama jika mengingat direct spending di industri untuk operasional utama (seperti perlengkapan, transportasi, katering, pemasaran, perhotelan, dan lain sebagainya), yang mendorong indirect spending oleh pemasok (seperti lensa kamera, katering, transportasi, bahan bakar, dan lain sebagainya), dan induced spending dari pekerja yang menghabiskan gaji mereka di Asia ini.

Pembelanjaan di 2022 dapat membuka lapangan pekerjaan hingga mencapai 736.000 dan akan ada keuntungan lebih dari industri lain, seperti pariwisata, musik, atau produk merchandise.

Pada waktu yang bersamaan, studi ini menemukan bahwa jumlah pelanggan berbayar di Asia diperkirakan akan bertambah dua kali lipat dalam lima tahun, dan bahwa penonton di negara-negara Asia mempunyai minat yang kuat untuk mengonsumsi konten lokal berkualitas tinggi.

Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, layanan VOD harus bisa menjadi lebih relevan secara lokal dengan meningkatkan investasi untuk mengembangkan lebih banyak konten lokal berkualitas tinggi yang bisa menarik dan mempertahankan pelanggan.

AlphaBeta Engagement Manager Konstantin Matthies mengatakan mengingat bahwa industri VOD masih dalam tahap awal, dampak ekonomi dari layanan VOD di Asia, khususnya industri hiburan, hanya mendapatkan perhatian yang terbatas hingga saat ini.

"Karena itu, riset ini bertujuan untuk melengkapi kekurangan yang ada dengan menyediakan fakta tentang nilai potensial industri ini. Laporan ini lebih jauh lagi mengidentifikasi praktik-praktik terbaik, selain langkah kebijakan utama untuk memastikan bahwa negara-negara Asia dapat mengambil peluang ini,” katanya.

Seiring berkembangnya industri VOD di Asia, permintaan terhadap konten yang relevan secara lokal akan mendorong para pemain untuk berinvestasi lebih banyak pada karya-karya dari Asia.Hal ini berlawanan dengan persepsi bahwa akses mudah yang dimiliki VOD ke konten luar (Hollywood) akan mengurangi permintaan lokal dan melemahkan nilai budaya. Dengan adanya permintaan konsumen yang besar untuk konten lokal, pemain VOD akan terdorong untuk meningkatkan konten lokal berkualitas tinggi agar selaras dengan pilihan konsumen,” katanya.

Dalam laporan itu terungkap, secara global, operator-operator VOD menghabiskan sekitar US$21 miliar pada 2017.

Asia hanya menyerap sekitar US$2,7 miliar dalam hal belanja konten, namun angka ini bisa meningkat hingga 3,7x pada 2022. Sekitar US$4 miliar dari pembelanjaan ini adalah dalam bentuk investasi asing langsung (foreign direct investment) oleh para pemain global.

Permintaan terhadap konten lokal akan memacu investasi, dimana penekanannya akan lebih pada kualitas dibanding kuantitas.

Berlawanan dari pemahaman umum, pemirsa di negara-negara Asia mempunyai permintaan yang tinggi terhadap cerita-cerita lokal dan menghabiskan waktu yang sama untuk menonton konten lokal dan asing. Dengan adanya perkiraan bahwa pelanggan Asia akan bertambah dua kali lipat dalam lima tahun, layanan VOD harus berfokus untuk memproduksi konten lokal berkualitas tinggi agar bisa menarik dan mempertahankan konsumen.

Saat ini VOD mempermudah tayangan hiburan dari Asia untuk menjangkau setidaknya 450 juta orang di seluruh dunia.

Lebih dari 80% eksekutif VOD mengatakan bahwa iklim investasi yang bersahabat, regulasi yang mendukung, serta infrastruktur untuk memproduksi konten yang berkualitas tinggi adalah kunci untuk memicu investasi di konten.

Reformasi kebijakan di bidang-bidang tersebut dapat mewujudkan “virtuous cycles” dimana investasi di konten lokal akan menghasilkan konten berkualitas tinggi, yang akan menumbuhkan permintaan, kemudian memperkuat insentif untuk investasi selanjutnya.

Semakin banyak pasar-pasar di Asia yang memetik manfaat-manfaat tersebut dengan berfokus pada rangsangan kebijakan dan bukannya pada kebijakan-kebijakan yang kontraproduktif. Contohnya, memasang kuota tertentu untuk konten lokal bisa memicu efek negatif dalam hal kualitas dan permintaan.

Menciptakan regulasi yang fleksibel. Berbagai negara-negara tersukses di Asia telah membentuk sektor digital yang berkembang pesat dengan menyederhanakan regulasi bagi perusahaan teknologi dan startup di ranah VOD online.

Mengingat cepatnya evolusi dari industri VOD, sangatlah penting untuk membuat regulasi yang tidak akan cepat ketinggalan jaman atau sejalan dengan karakter dari industri tersebut. Salah satu perangkap yang harus dihindari adalah menerapkan pendekatan regulasi di industri televisi dan film tradisional ke VOD, dengan kuota konten lokal sebagai salah satu contoh utama.

Berinvestasi di ekosistem lokal. Ada berbagai kesempatan bagi pembuat kebijakan untuk mendukung ekosistem hiburan lokal dimana VOD akan turut memberikan kontribusi, mulai dari program pelatihan, hingga festival film, dan investasi untuk fasilitas kelas dunia.(wn)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma