telkomsel halo

Menyimak karya Len Industri selama 53 tahun

09:09:00 | 23 Okt 2018
Menyimak karya Len Industri selama 53 tahun
Suasana ground breaking proyek Palapa Ring Tengah dimana LEN menjadi bagian dari konsorsium.
telkomtelstra januari - maret
BANDUNG (IndoTelko) - Di era Volatile Ambiguity Complexity Ambiguity (VUCA), kunci bisnis berkelanjutan adalah inovasi.

Namun di sisi lain, tidak banyak yang bahwa tahu di Indonesia, ada satu BUMN yang telah banyak menelurkan inovasi-inovasi hebat. Bahkan inovasi dan teknologinya telah digunakan negara lain.

PT Len Industri (LEN) berada di balik perubahan besar di Indonesia dalam 7 tahun terakhir. Len Industri dipercaya Pemerintah menggarap proyek-proyek prestisius urban transport sejak 2016.

Perusahaan yang berdiri sejak 1965 inilah yang menggarap Skytrain atau APMS (Automatic People Mover System) Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta, Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan, LRT Jakarta dan  LRT Jabodebek.

Bahkan di tahun ini, Len Industri berhasil mengekspor produk persinyalan KA dan modifikasi sistem persinyalan ke Bangladesh.

Len Industri merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi panel tenaga surya pada 1998.

Len Industri berkarya dalam senyap selama 53 tahun berdiri (27 tahun sebagai BUMN), mencetak inovasi-inovasi yang bisa menjadi kebanggaan bangsa ini.

Proyek Palapa Ring Paket Tengah pada 2016 pun merupakan garapan anak usaha perusahaan ini di bawah bendera PT Len Telekomunikasi Indonesia. Anak usaha ini memang dipercaya mengelola pembangunan konstruksi jaringan satuan elektrikal dan telekomunikasi lainnya, penyelenggara jaringan tetap yang terintegrasi dan jasa telekomunikasi.

Karya-karya Len Industri yang menonjol dimulai pada 2011. Produk persinyalan KA SIL-02, yang merupakan sistem Interlocking Len Industri yang terus digunakan hingga kini.

Produk persinyalan KA SIL-02 ini selain mendapat sertifikasi dari Departemen Perhubungan, juga mendapat penghargaan dari pemerintah dalam ajang Rintisan Teknologi Industri 2012, Anugerah BUMN 2012, BUMN Innovation Award 2013, Anugerah IPTEK 2017 dan terbaru saat ini masuk dalam nominasi ASEAN Engineering Award 2018 yang akan diumumkan November mendatang.

Di tahun yang sama, Len Industri mulai berambisi membangun pabrik solar cell (fotovoltaik) yang pertama di Indonesia. Pabrik fotovoltaik merupakan bagian dari rencana strategis Len Industri dalam membangun “Len Technopark” yang merupakan kawasan industri berbasis teknologi tinggi.

Di Len Technopark ini bukan hanya ada industri fotovoltaik, juga akan dikembangkan Industri ICT (Information and Communications Technology), Industri Perkeretaapian, dan Industri Elektronika Pertahanan.

Pada tahun 2013, produk di bidang pertahanannya sudah diakui industri pertahanan internasional sebagai mitra strategis oleh Aselsan-Turki dan Thales-Prancis. Selain itu di tahun yang sama, Len Industri mulai memasuki pasar LTE (Long Therm Evolution) dan Pemancar TV Digital untuk bisnis ICT, Double-Double Track dan Urban Transport untuk bisnis perkeretaapian. Sebagai informasi, Len Industri adalah penggagas dibentuknya Organisasi International IRSE (Institution of Railway Signal Engineers) Indonesia Section pertama di Asia Tenggara.

Selanjutnya pada tahun 2014 Len Industri telah memulai bisnis investasinya di lini bisnis renewable energy dengan membangun IPP (Independent Power Producer) PLTS. Yakni pembangunan IPP PLTS di Kupang sebesar 5 MWp. Proyek ini merupakan IPP pertama dan hingga saat ini merupakan IPP PLTS terbesar di Indonesia saat itu yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo pada November 2015.

Tahun tersebut, juga merupakan perwujudan ambisi Len Industri dalam melakukan realisasi pengembangan pertama yaitu pembangunan Len Technopark di lahan seluas kurang lebih 10 hektar di Subang, Jawa Barat. Dalam pembangunan tahap pertama Len Technopark ini akan dibangun fasilitas produksi untuk pengerjaan Proyek Pertahanan Udara Rudal Starstreak (Multiyears).

Dalam bidang renewable energy, Len Technopark merupakan pengembangan fasilitas produksi panel surya dari yang sudah ada di Len Industri saat ini dengan kapasitas produksi  45 MWp per tahun dan ditargetkan menjadi  350MWp  per tahun. Diproyeksikan, selain memiliki nilai industri, Len Technopark ini juga akan menjadi kawasan wisata teknologi.

Lalu di lini bisnis perkeretaapian pada 2014, Len Industri sukses merampungkan proyek Double Track Lintas Utara Pulau Jawa sepanjang 435 km yang melintasi kurang lebih 55 stasiun dan sekitar 20 Intermediate Block yang juga dilengkapi dengan perangkat telekomunikasi berbasis serat optik.

Di tahun yang sama, tepatnya pada 8 Mei 2014, Len Industri mencatatkan sejarah penting dengan melakukan Switch Over sepanjang 60 km di jalur lintas utara secara serentak. Transportasi massal modern merupakan kunci sebuah negara maju. Peran Len Industri terlihat dalam mendorong kemajuan transportasi massal di Indonesia, terutama di infrastruktur perkeretaapian, utamanya dalam bidang persinyalan.

Pada 2015, Presiden RI Joko Widodo meresmikan Independent Power Producer Pembangkit Listrik Tenaga Surya (IPP PLTS), yang merupakan terobosan PT Len Industri (Persero) dalam melakukan bisnis investasi. Pembangkit listrik terbarukan ini berkapasitas 5MWp berlokasi di Kupang NTT yang merupakan IPP PLTS dengan kapasitas terbesar yang pernah dibangun di Indonesia hingga saat ini.

Produk panel surya besutan Len Industri telah digunakan di hampir seluruh pelosok Indonesia. Kali pertama penggunaan panel surya produksi Len Industri adalah dalam program 1 juta rumah berpanel surya. Proyek yang didanai Bank Dunia, AUSAID dan lembaga internasional lainnya itu bertujuan untuk menerangi masyarakat pedesaan. Proyek yang kemudian berhenti itu belakangan ‘dilanjutkan’ dengan model yang berbeda.

Dulu panel surya dipasang secara terpisah, di setiap rumah. Namun kini, panel surya dibangun tersentralisasi, menjadi semacam gardu pembangkit listrik tenaga surya.

Pendanaan dunia ini dilanjutkan oleh Kementerian ESDM melalui Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (LPE) untuk menjalankan proyek di daerah yang belum ada listrik.

Dua daerah yang dipasang panel surya Len Industri di tahun tersebut adalah di Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Di kedua daerah tersebut pembangunan PLTS dikelola oleh PT Surya Energi Indotama (SEI), anak usaha Len Industri yang khusus menangani tender dan instalasi PLTS. Ada perbedaan signifikan dalam proyek PLTS di Kupang dan Papua. Perbedaannya, IPP PLTS Len di Kupang dibangun dengan skema Independent Power Producer (IPP) dengan dana investasi mandiri. Sementara di Papua menggunakan dana dari APBN melalui Kementerian ESDM.

Proyek di Kupang menjadi IPP PLTS yang pertama dan terbesar di Indonesia yang menerapkan konsep investasi mandiri oleh Len Industri. Jangka waktu balik modalnya diperkirakan mencapai 7-8 tahun dengan perjanjian kerja sama jual beli (PPA) listrik selama 20 tahun dengan PLN.

IPP PLTS Len Industri di Kupang sekaligus memberi sumbangan daya yang cukup signifikan untuk kota yang hanya memiliki daya listrik efektif sebesar 68 MW tersebut. Dengan beroperasinya PLTS, Kupang juga mampu menghemat Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik jika dibandingkan dengan menggunakan pembangkit bermesin diesel (PLTD) yang berbahan bakar solar.

Sementara di Papua, proyek PLTS Len Industri terdapat di dua kawasan. Yang pertama pembangunan 8 PLTS di Kabupaten Keerom, sebesar 145 kilowatt peak (KWp) yang telah diresmikan pada 10 Maret tahun 2017. Kedua PLTS di Kabupaten Manokwari dengan daya 2 MW yang tengah dalam proses pembangunan. Dalam satu desa bisa mendapat daya 15 hingga 30 KW tergantung jumlah penduduknya.

Di tahun 2018, Menteri BUMN Rini Soemarno meresmikan BTS Tenaga Surya (Base Transceiver Station) untuk sistem telekomunikasi Pulau Terdepan Indonesia Timur di Desa Oebela, Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur pada hari Senin (13/08).

Len telah membangun perangkat BTS Tenaga Surya sebanyak 383 unit melalui anak perusahaannya, PT Surya Energi Indotama (SEI). Sebanyak 317 unit dibangun dalam kurun waktu tahun 2016-2017. Sedangkan di tahun 2018 ini, SEI telah membangun tujuh unit dan sedang melakukan investasi untuk 66 unit berikutnya.

Bertepatan dengan 27 tahun Len Industri menjadi bagian dari BUMN, pada bulan Oktober 2018 ini, Len Industri melalui anak perusahaannya, PT Surya Energi Indotama (SEI), memenangkan penghargaan Solar Power Portal Award 2018 untuk kategori Community Solar Installation of the Year 2018 di Hilton Metropole NEC, Birmingham, United Kingdom (17/10).

Ajang internasional bergengsi ini merupakan ajang internasional PV Installation yang ke-6 kalinya diselenggarakan oleh Solar Media, dimana 150 lebih peserta nominasi memperebutkan 16 kategori pemenang.

“Penghargaan ini menjadi salah satu wujud komitmen PT Len Industri dengan anak-anak perusahaannya untuk mengoptimalkan kemampuan anak bangsa menuju industri teknologi kelas dunia. Dalam waktu dekat ini, kami juga akan meluncurkan produk inovasi terbaru PT Surya Energi Indotama (SEI), Len Solar. Yaitu produk pemanfaatan PLTS yang dapat dinikmati oleh kalangan rumah tangga maupun perkantoran,” ujar Direktur Utama Len Industri Ir.Zakky Gamal Yasin MM.(wn)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
H_300x250.png
More Stories
telkom sigma
Kerjasama CSI