blanja.com
telkomsel halo
finnet KTM

Juara 4G versi OpenSignal, Smartfren: Kami memang bagus!

07:15:09 | 13 Jun 2018
Juara 4G versi OpenSignal, Smartfren: Kami memang bagus!
Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys.(dok)
Angkasa Pura 2
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mengaku tak kaget dengan laporan tentang kondisi terkini dari layanan 4G di Indonesia untuk periode 1 Februari hingga 1 Mei 2018 yang dikeluarkan OpenSignal.

Dalam laporan "State of mobile network:Indonesia" terungkap OpenSignal melakukan penelitian di Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, dan Semarang menggunakan lebih dari 11 miliar hasil pengujian yang dikumpulkan dari 1,2 juta pengguna, lembaga ini membandingkan pengalaman 3G dan 4G yang ditawarkan oleh lima operator nasional di Indonesia.

Hasilnya, empat dari lima operator Indonesia menunjukkan peningkatan dalam metrik ketersediaan 4G sejak laporan terakhir yang dikeluarkan OpenSignal. Satu-satunya pengecualian adalah Telkomsel yang menunjukkan skor ketersediaannya tetap sedikit di bawah 70%.

Telkomsel memenangkan penghargaan kecepatan pengunduhan dan pengunggahan 4G OpenSignal, rata-rata 12,9 Mbps dan 7,3 Mbps untuk masing-masing kategori.

Meski begitu, dalam pengunduhan 4G, Smartfren telah melakukan lonjakan besar. Kecepatan rata-rata layanan LTE operator ini meningkat 44% menjadi 9,8 Mbps, melonjak melewati XL ke urutan dua.

Telkomsel sebenarnya memenangkan lima dari tujuh kategori yang dinilai dari laporan ini, seringkali dengan selisih yang lebar.

Namun, Smartfren terlihat menjadi pesaing kuat bagi Telkomsel untuk 4G setelah sepenuhnya keluar dari kepompong 3G.

Metrik yang disajikan OpenSignal pertama dengan melihat kecepatan pengunduhan 4G yang dimenangkan Telkomsel (12,9 Mbps), Smartfren (9,8 Mbps), XL (9 Mbps), Tri Indonesia, dan Indosat.

Telkomsel juga berada di urutan pertama dalam kecepatan pengunggahan 4G dan pengunduhan 3G. Rata-rata pengunggahan 4G Telkomsel yaitu 7,3 Mbps, lebih dari 2 Mbps lebih cepat daripada rata-rata XL dan Tri, dan lebih dari dua kali lipat lebih cepat dari Indosat dan Smartfren.

Dalam kategori pengunduhan 3G, Telkomsel kembali mengungguli dengan mudah para pesaingnya. Rata-rata pengunduhan HSPA-nya, yaitu 5 Mbps, tidak hanya lebih dari 2 Mbps lebih cepat daripada skor pesaingnya dalam pengukuran kami, namun kecepatan ini juga hampir satu megabit lebih cepat dari rata-rata global yaitu 4,1 Mbps.

Satu-satunya kategori kecepatan yang tidak dimenangkan oleh Telkomsel adalah kecepatan pengunduhan keseluruhan, yang mengukur kecepatan harian biasa yang dialami pengguna di jaringan data seluler operator mereka. (Baca: Laporan OpenSignal)

Dalam metrik ini, Telkomsel terbebani oleh lambatnya ketersediaan 4G, sementara Smartfren dibantu oleh ketersediaan 4G yang unggul dan peningkatan kecepatan 4G.

Hasilnya, menunjukkan bahwa Smartfren menggeser Telkomsel di urutan pertama dalam peringkat kecepatan keseluruhan dengan rata-rata pengunduhan 9,8 Mbps dibandingkan dengan rata-rata pengunduhan Telkomsel 8,4 Mbps.

OpenSignal berkesimpulan, meskipun Telkomsel memiliki kecepatan 3G dan 4G yang lebih tinggi dalam pengukuran, namun Smartfren mampu menyediakan koneksi 4G lebih sering kepada pengguna, yang pada akhirnya memberikan keunggulan dalam hasil kecepatan keseluruhan.

Tak Kaget
Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengaku tak kaget dengan laporan dari OpenSignal itu.

"Kami selama ini kerja keras untuk meningkatkan kualitas layanan. Kalau dipotret oleh pihak independen hasilnya seperti itu, masa kami membantah. Memang kita bagus kok," selorohnya kala berbuka bersama media, Selasa (12/6) malam.

Menurut Merza, OpenSignal menilai kinerja layanan data operator dengan menggunakan metriks yang sudah biasa secara global. "Kalau dilihat kan di metriks itu tak semuanya kami dominan. Tetapi untuk wilayah yang menjadi bagian ekspansi dan fokus Smartfren, kita memang bagus," katanya.

Merza mengharapkan, laporan dari OpenSignal bisa menjadi modal bagi Smartfren untuk mengembalikan hilangnya empat juta pelanggan akibat registrasi ulang prabayar beberapa waktu lalu.

"Per 30 April 2018 kita hanya tersisa 7 juta pelanggan dari 11 juta pelanggan sebelumnya. Persepsi di pasar kan layanan data Smartfren sekarang paling bagus, ini harus dikonversi menjadi tambahan pelanggan agar di akhir 2018 kita bisa di posisi 11 juta pelanggan lagi," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah menyarankan dalam membaca laporan OpenSignal lebih teliti. (Baca: Telkomsel dan OpenSignal)

Telin
"Kalau bandingin sesuatu itu harusnya apple to apple. Jangan apel dibandingin sama duren, jadinya gak nyambung kan. Mau bandingin 4G ya sama 4G, kenapa dibawa-bawa 3G. Jelas, sekali di 4G siapa yang menang," tegas Ririek.

Direktur Network Telkomsel Bob Apriawan menambahkan untuk urusan jaringan 4G saat ini bisa dikatakan Telkomsel paling unggul dibandingkan semua pesaing. "Di laporan itu jelas, kecepatan pengunduhan dan pengunggahan, kita paling unggul. Kita punya BTS 4G sebanyak 41 ribu, setahu saya belum ada yang punya di atas 30 ribu untuk BTS 4G selain kami di Indonesia," katanya.(dn)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Tcash Merdeka
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
300x250-UNL5000-sahur.jpg
More Stories
telkom sigma
IOT
Kerjasama CSI