telkomsel halo
finnet KTM

Ericsson: 5G bukan hanya soal "G"

13:56:00 | 24 Nov 2018
Ericsson: 5G bukan hanya soal
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Jerry Soper.(dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – Penyedia jaringan dan solusi telekomunikasi, Ericsson, percaya kedatangan 5G tak  bisa ditolak, apalagi di Indonesia.

“5G bukan hanya G. Kami percaya ini akan menciptakan nilai bagi pelanggan kami dalam bisnis broadband seluler mereka, memungkinkan mereka untuk mengelola pertumbuhan lalu lintas yang sangat tinggi, lebih efisien. Tetapi yang lebih penting, ia memiliki potensi untuk menciptakan bisnis baru dan aliran pendapatan bagi penyedia layanan berdasarkan pada contoh penggunaan seperti aplikasi industri,” ungkap Presiden Direktur Ericsson Indonesia Jerry Soper kala ditemui Tim IndoTelko di kantornya, belum lama ini.

Dikatakannya, 4G juga merupakan fondasi dari 5G, dan operator Indonesia harus memastikan jaringan 4G mereka siap untuk 5G. “Kami merupakan pihak yang tepat untuk membantu operator memaksimalkan potensi 4G, membantu mereka berevolusi dari 4G ke 5G,” katanya.

Diungkapkannya, industri yang paling diuntungkan dari 5G adalah mereka yang dapat menggunakan kecepatan tinggi, ultra-lambat latensi atau keandalan ultra-tinggi untuk menciptakan produk atau layanan inovatif, meningkatkan efisiensi, atau meningkatkan keselamatan. 

Berbagai kasus penggunaan 5G misalnya jaringan besar sensor untuk pemeliharaan prediktif mesin robot di lantai pabrik, robot awan, dan pemeriksaan diagnostik kualitas jarak jauh dengan resolusi tinggi  video 3D atau umpan balik haptik, termal dan sensor lainnya.

Diprediksi pada akhir tahun 2023, akan ada 1 milyar pengguna 5G, terhitung sekitar 20% dari lalu lintas data mobile. Peningkatan besar dari pengguna 5G diharapkan akan didorong oleh chipset generasi ketiga, yang akan tersedia pada 2020 pada berbagai pita frekuensi.

Dalam Studi Ericsson Consumer Lab yang berjudul menuju masa depan konsumen 5G, terlihat gambaran apa yang dipikirkan konsumen Indonesia tentang teknologi 5G. 

Sebanyak 84% pengguna smartphone di Indonesia tertarik menggunakan layanan 5G. Bahkan 54% dari mereka siap dan bersedia untuk membayar.

Dalam riset ini juga dihasilkan bahwa 66% pengguna ponsel pintar di Indonesia mengatakan  bahwa mereka akan menggunakan 5G dalam waktu 2 tahun sejak diluncurkannya. Mereka pun memprediksi sebagian besar layanan 5G akan menjadi mainstream setelah 3-4 tahun dari waktu peluncuran.

Dari 64% pengguna smartphone di Indonesia akan mengakhiri pembayaran untuk setiap gigabyte yang dikonsumsinya saat menggunakan teknologi 5G di masa datang. Disimpulkan pula bahwa pengguna smartphone di Indonesia mereka lebih suka dengan pembayaran sekali bayar untuk layanan 5G atau untuk setiap perangkat yang terhubung 

Asal tahu saja, Indosat Ooredoo tengah menggandeng Ericsson menampilkan berbagai contoh penggunaan teknologi 5G. Solusi yang tenngah diuji coba yaitu test bed untuk 5G dan 3D-AR (Augmented Reality).

Kecepatan 5G test bed mencapai 10Gbps per UE (User Equipment) dari total 20Gbps, yang berarti jauh lebih cepat daripada LTE. 5G test bed juga memiliki beam tracking sebagai salah satu kemampuan unggulan 5G yang memungkinkan kapasitas serta kinerja yang lebih tinggi. 

Selain itu, teknologi ini juga memungkinkan streaming video 4K ke UE melalui radio 5G. Sementara itu, 3D-AR (Augmented Reality) menghadirkan pengalaman dan interaktivitas yang mendalam dengan objek virtual. Demo 3D-AR akan membawa peserta melihat dan berinteraksi dengan objek virtual yang terlihat hidup seperti anatomi manusia fotorealistik dan gambar 360 derajat dari planet Bumi. 

Selain menampilkan 5G test bed dan 3D-AR, baik Indosat Ooredoo maupun Ericsson juga menghadirkan demo lain, seperti; 5G deployment considerations dan connected drones yang dapat diuji coba dari jarak yang lebih jauh atau dengan jalur penerbangan yang telah ditentukan sebelumnya. 

Untuk melakukan itu, diperlukan konektivitas 5G nirkabel berlatensi rendah yang andal. Pada demo ini, drone nano terbang di atas model 3D-kota.

Ada juga LAA, yang merupakan solusi untuk hotspot berkapasitas tinggi (misalnya di bandara, stadion, pusat perbelanjaan), yang menggunakan spektrum unlicense untuk meningkatkan kecepatan/kapasitas tambahan untuk LTE dan kemungkinan koeksistensi dengan WiFi. Yang terakhir di demo adalah NB-IoT yang akan dipakai untuk berbagai kasus penggunaan oleh Indosat Ooredoo.

“Kami berharap bahwa demonstrasi ini akan memberikan gambaran yang jelas tentang manfaat 5G untuk kehidupan kita, dan bagaimana Ericsson dan Indosat Ooredoo akan terus bekerja sama untuk membawa kemampuan terbaik kita untuk meningkatkan kualitas jaringan di Indonesia,”pungkasnya.(sg)

Simak wawancara khusus Jerry Soper dengan Indotelko :

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma