telkomsel halo
finnet KTM

Digitalisasi optimalkan potensi ekonomi kelautan

09:38:28 | 02 Dec 2018
Digitalisasi optimalkan potensi ekonomi kelautan
Solusi Pointrek untuk nelayan.(dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan teknologi broadband berbasis satelit bisa meningkatkan potensi ekonomi kelautan di Indonesia.

Demikian salah satu hasil ujicoba proyek International Partnership Programme (IPP) Indonesia yang dihelat Inmarsat bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

IPP adalah program Kemitraan Internasional Badan Antariksa Inggris, atau UK Spacea selama lima tahun yang bernilai 152 juta euro.

Program ini dirancang untuk menggandengkan keahlian ruang angkasa Inggris dengan badan pemerintah dan organisasi di negara-negara berkembang di seluruh dunia untuk menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan bagi ekonomi dan masyarakat luas. Semua proyek IPP juga diselaraskan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (UN Sustainable Development Goals).

Inmarsat telah menerima dana IPP untuk tiga proyek di Nigeria, Indonesia dan Filipina yang dimulai pada tahun 2017.

Proyek IPP Indonesia dirancang untuk menguji berbagai manfaat dan tantangan yang dihadapi dalam memperluas penggunaan Sistem Pemantauan Kapal (Vessel Monitoring Systems (VMS)) berbasis satelit

Indonesia yang memiliki hampir 55,000 km garis pantai sangat sulit dan mahal untuk mengontrol pergerakan kapal di perairannya.

Program yang dibuat IPP ingin mendapatkan lebih banyak informasi mengenai posisi dan aktifitas kapal-kapal penangkap ikan yang saat ini tidak diwajibkan untuk membawa VMS (kapal-kapal yang tidak melebihi 30 gross tonnage/GT).

Tujuan keseluruhannya adalah untuk meningkatkan pengawasan dan penanganan terhadap penangkapan ikan ilegal serta area konservasi. Dengan demikian, industri perikanan Indonesia dapat dikembangkan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan.

Satu tantangan utama dalam proses ini adalah usaha untuk menjelaskan manfaat tambahan dari sistem berbasis satelit di atas kapal kepada kapal penangkap ikan yang berskala kecil agar mereka terdorong untuk memasang VMS di kapal mereka dan menjaga VMS tersebut tetap aktif.

Inmarsat dalam program ini di Indonesia menggandeng Satellite Application Catapult, Sisfo Indonesia, Poseidon Aquatic Resources Management Ltd, Hatfield Consultants, Marine Change Ltd, dan Dalberg Design Impact Group (DIG).

Solusi VMS+ yang pertama menggunakan aplikasi berbasis web yang bernama Pointrek.

Aplikasi ini didasari oleh sistem pesan singkat dua-arah IsaData Pro (IDP) milik Inmarsat yang menggunakan jaringan satelit global I-4.

Solusi tersebut diterapkan di 200 kapal < 30 GT untuk proyek percontohan yang dimulai pada bulan Juli 2017 dan menawarkan sejumlah fitur meliputi:
• Fungsi SOS/Mayday/Meminta pertolongan saat darurat
• Kapabilitas komunikasi langsung, melalui layanan pesan singkat (SMS) atau e-mail
• Logbook penangkapan ikan elektronik untuk pencatatan hasil tangkapan ikan
• Kemampuan untuk menggunakan aplikasi perangkat lunak seperti prakiraan cuaca, informasi lalu lintas kelautan, dan sistem pembayaran
• Rekaman data posisi kapal yang membolehkan pihak swasta yang telah diotorisasi maupun pemerintah untuk memantau pergerakan kapal

Satu lagi proyek percontohan bagi kapal-kapal > 30 GT juga diluncurkan pada bulan Juni 2018.

Perlengkapan VMS sudah diwajibkan bagi kapal-kapal pada ukuran tersebut. Jadi, proyek ini lebih mengutamakan manfaat-manfaat lain dari sistem komunikasi di atas kapal, yaitu operasi yang lebih efisien, berdaya saing, dan lebih aman.

Proyek ini menggunakan layanan broadband Inmarsat, Fleet One, yang menyediakan transmisi secara simultan data IP dan suara mencapai 100 Kbps dengan fitur panggilan gawat darurat 505 dan kapabilitas Wi-Fi untuk menghubungkan smartphone dan tablet.

Hasil
Enam bulan setelah IsatData Pro diterapkan dalam proyek percontohan, data dari kapal-kapal < 30GT yang berpartisipasi dikumpulkan.

Data tersebut menunjukkan bahwa para nelayan yang terlibat menggunakan sistem komunikasi dua-arah Pointrek dengan aktif untuk memperbaiki operasi penangkapan ikan mereka, misalnya terkait dengan pencarian lokasi penangkapan ikan yang tepat.

Mereka dapat mencapai target penangkapan dengan lebih cepat dan mampu mengurangi durasi perjalanan. Peningkatan keuntungan meningkat mencapai 12% dan tingkat retensi awak kapal jauh lebih baik dengan pergantian anak buah kapal (ABK) menurun hingga kurang dari 1%.

Dari aspek keselamatan juga sudah ditingkatkan. Empat kapal yang terlibat dalam proyek percontohan mengirimkan pesanan SOS. Salah satunya, Rizky Jaya 03, yang membawa enam awak kapal dapat terselamatkan setelah mengalami kerusakan yang disebabkan tertabraknya kapal tersebut oleh kapal tanker pada 120 mil laut dari pelabuhan.

Kapal yang rusak tersebut mengirimkan pesan Mayday dan diselamatkan oleh salah satu kapal penangkap ikan lain yang juga mengikuti proyek percontohan. Penyelamatan tersebut dikoordinasikan melalui sistem Pointrek.

Masa Depan
Pusat pengawasan dan komando KPP akan mulai menerima data pemantauan secara real time pada bulan Oktober 2018.

Hasil awal dari pengalaman kapal-kapal yang terlibat dalam proyek percontohan  menunjukkan bahwa solusi VMS+ membawa berbagai manfaat yang lebih dari sekedar peningkatan pemantauan. Salah satu di antaranya adalah operasi penangkapan ikan yang lebih efisien.

Meluasnya penerapan dan penggunaan VMS akan menghasilkan manfaat yang konkret bagi para nelayan yang menggunkan sistem ini.

Sekaligus, akan memperbaiki kapabilitas staf Kementerian untuk menghentikan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal. Sejumlah manfaat ini saling melengkapi dan menguatkan karena dengan berkurangnya kapal-kapal ilegal di perairan Indonesia, para nelayan akan mendapatkan hasil tangkapan ikan yang lebih baik.(id)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma