blanja.com
telkomsel halo
finnet KTM

Belanja TIK Indonesia diperkirakan Rp443 triliun di 2018

08:17:11 | 09 Feb 2018
Belanja TIK Indonesia diperkirakan Rp443 triliun di 2018
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - International Data Corporation (IDC) memperkirakan belanja Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sepanjang 2018 akan mencapai Rp 443 triliun di Indonesia.

"Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam keseluruhan ekosistem digital dan kami melihat lebih banyak organisasi lokal menjadi digitally-capable. Intensitas untuk berinovasi semakin meningkat, sehingga kami berharap lebih banyak organisasi menempatkan transformasi digital (DX) sebagai strategi inti untuk bisnis mereka. Pemimpin bisnis harus merangkul teknologi sehingga mereka tidak kehilangan peluang besar dengan bangkitnya ekonomi transformasi digital baru," kata Managing Director IDC ASEAN Sudev Bangah, kemarin.

Head of Consultant, IDC Indonesia Mevira Munindra mengungkapkan ada peningkatan 5% untuk belanja TIK di tahun 2018 dibandingkan 2017. "Hampir 70% belanja TIK untuk hardware," katanya.

IDC mendesak perusahaan untuk meningkatkan dan mempercepat inovasi karena transformasi digital (DX) telah mencapai skala makroekonomi di Indonesia. Meskipun dukungan inisiatif secara terus menerus datang dari pemerintah Indonesia untuk pengembangan ekonomi digital seperti program 1000 Technopreneurs dan eCommerce Road Map, kurangnya infrastruktur dan keterbatasan kapasitas talent DX tetap menjadi tantangan bagi percepatan DX di antara perusahaan lokal.

"Hanya ada 8% perusahaan lokal yang telah melakukan DX journey dan mendapatkan keuntungan penuh dari DX. Pelaku bisnis di Indonesia masih dalam tahap mengeksplorasi potensi teknologi dan model bisnis. Para pemimpin bisnis harus mengerti bahwa untuk memimpin di digital ekonomi, perusahaan harus menjadi digital native. Pelaku bisnis harus memanfaatkan teknologi teknologi baru dan dengan cepat mengintegrasikannya ke dalam strategi organisasi mereka saat mereka berkembang," katanya.

Selanjutnya, Mevira Munindra dan para analis IDC Indonesia mengungkapkan prediksi teknologi terbaik untuk tahun 2018 dan seterusnya yang akan memberikan dampak terbesar bagi organisasi di dalam negeri.

1. Momen kritikal untuk ekonomi digital - Pada tahun 2021, setidaknya 40% GDP Indonesia akan menjadi digital, dengan pertumbuhan di setiap industri yang didorong oleh digitally-enhanced offerings, operasi dan hubungan. Pada tahun 2021, para investor akan menggunakan platform / ekosistem, data value, dan metrik keterlibatan pelanggan sebagai faktor penilaian untuk semua perusahaan.

2. DX Platforms - Pada tahun 2021, 20% dari semua perusahaan akan sepenuhnya mengartikulasikan strategi platform transformasi digital (DX) secara organization-wide dan akan menerapkan strategi tersebut sebagai inti TI baru untuk bersaing dalam ekonomi digital.

3. Cloud 2.0: Distributed and Specialized - Pada tahun 2021, pengeluaran perusahaan untuk layanan cloud-enabling hardware, software dan layanan akan mencapai US 266 juta, memanfaatkan cloud environment beragam yang 10% di tepi, lebih dari 15% khusus compute (non-x86), dan multicloud 30%.

4. AI everywhere ― Pada 2021, 10% inisiatif transformasi digital akan menggunakan layanan artificial intelligence (AI); di tahun 2021, 20% aplikasi perusahaan komersil akan menggunakan AI, lebih dari industrial akan memanfaatkan AI. 30% konsumen akan berinteraksi dengan bot pendukung pelanggan, dan lebih dari 5% robot baru.

5. Aplikasi Hyperagile - Pada tahun 2021, aplikasi enterprise akan beralih ke arsitektur hyper-agile, dengan 15% pengembangan aplikasi pada platform awan (PaaS) menggunakan fungsi microservices dan fungsi cloud (misalnya, AWS Lambda, Azure Functions), dan lebih dari 25% dari microservices baru dikerahkan dalam containers (misalnya, Docker).

6. HD interfaces - Pada tahun 2021, interface human-digital (HD) akan beragam, karena 10% teknisi lapangan dan lebih dari 10% infoworker menggunakan 30% aplikasi mobile baru menggunakan suara sebagai primary interface dan 5% dari perusahaan yang menghadapi konsumen di Indonesia menggunakan sensor biometrik hingga augmented reality, sehingga seperti pengalaman personalisasi.

7. Blockchain and digital trust - Pada tahun 2021, setidaknya 10% perusahaan Indonesia akan menggunakan jasa blockchain sebagai landasan untuk skala digital trust; pada tahun 2020, 20% bank dan 20% organisasi supply-chain akan menggunakan blockchain dalam produksi.

8. Everyone a data provider - Pada tahun 2020, 15% perusahaan Indonesia akan menghasilkan pendapatan dari data-as-a-service - dari penjualan raw data, metrik, insights, dan rekomendasi turun hampir 2% di tahun 2017.

9. Everyone a developer - Perbaikan pada alat pengembangan sederhana ("low-/ no-code") akan secara dramatis memperluas jumlah pengembang non-teknologi selama 36 bulan ke depan; pada tahun 2021, pengembang nontradisional ini akan membangun 10% aplikasi bisnis dan 20% fitur aplikasi baru (50% pada 2027).

10. Open API ecosystems - Pada tahun 2021, lebih dari separuh perusahaan Indonesia akan melihat rata-rata 20% interaksi layanan digital mereka datang melalui ekosistem API terbuka mereka, naik dari 5% di tahun 2017 - memperkuat jangkauan digital mereka jauh melampaui kemampuan customer interaction mereka sendiri.

Prediksi IDC Indonesia FutureScape 2018 berfokus terutama pada empat bidang teknologi pilar; Cloud, Mobility, Social and Big Data and Analytics serta enam innovation accelerators; Augmented and Virtual Reality (AR / VR), Cognitive System / AI, Next-Gen Security, Internet of Things (IoT), 3D Printing and Robotics.(id)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
300x250-UNL5000-sahur.jpg
More Stories
telkom sigma