blanja.com
telkomsel halo
finnet KTM

Accenture ungkap manfaat digitalisasi bagi industri perminyakan

05:17:00 | 04 Aug 2018
Accenture ungkap manfaat digitalisasi bagi industri perminyakan
Angkasa Pura 2
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Riset terbaru Accenture menunjukan bahwa perusahaan minyak dan gas bumi bisa mendapatkan manfaat finansial dari implementasi teknologi digital, namun banyak perusahaan yang belum menyadari nilai tambahan dari penggunaan teknologi mutakhir tersebut.

Accenture untuk kedua kalinya melakukan survei tahunan mengenai peran teknologi digital dalam mendukung industri minyak dan gas bumi.

Survei ini bertajuk "The Intelligence Refinery" dan melibatkan sekitar 170 eksekutif, pemimpin dan insinyur perusahaan minyak dan gas bumi di seluruh dunia.

Riset Accenture ini memperlihatkan manfaat finansial dari implementasi teknologi digital dan menunjukkan pentingnya investasi di bidang digital, terutama dalam upaya mencegah meningkatnya jumlah serangan siber yang diakibatkan penggunaan teknologi digital.

Sebanyak 41% dari responden menyebutkan bahwa perusahaan mereka sudah dapat menentukan hasil secara finansial dari implementasi teknologi digital, termasuk 30% responden yang mengungkapkan bahwa teknologi digital telah meningkatkan marjin keuntungan perusahaan mereka lebih dari 7 persen dalam 12 bulan terakhir.

Seperlima (20 persen) dari responden mengatakan bahwa implementasi teknologi digital dapat menambahkan nilai bisnis dari US$ 50 juta hingga US$100 juta atau lebih, dengan sepertiga (33 persen) dari responden yang menyatakan nilai tambahan sebesar US$5 juta hingga US$ 50 juta.

Manfaat finansial yang dapat langsung dirasakan ini menunjukkan mengapa lebih dari separuh (59 persen) perusahaan yang terlibat dalam survei yang sama tahun lalu saat ini tengah meningkatkan investasi mereka pada teknologi digital dibandingkan dengan 12 bulan yang lalu.

Selain itu, tiga perempat (75 persen) mempunyai niat akan meningkatkan pengeluaran mereka untuk implementasi digital dalam waktu tiga hingga lima tahun mendatang, meningkat 60% dari survei Accenture tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa tetap kuatnya permintaan akan teknologi digital.

Hampir setengah (48 persen) dari responden menilai implementasi teknologi digital dalam perusahaan mereka sudah cukup matang (mature) atau tengah diperkuat (semi-mature). Jumlah ini meningkat 44 persen dari hasil survei Accenture tahun lalu. Namun, pada saat yang sama, sebagian besar perusahaan minyak dan gas bumi masih dalam tahap belum memperkuat implementasi teknologi digital, seperti misalnya ke bidang analitik.

Terkait teknologi digital yang mempunyai pengaruh paling besar akan peningkatan marjin operasional perusahaan, 61 persen responden paling sering menyebutkan sistem kontrol proses tingkat lanjut (advanced process control) dan 50 persen menyebutkan sistem analisa data tingkat lanjut (advanced data analytics).

Para perusahaan minyak dan gas bumi berharap dapat mengalokasikan sebagian besar dari anggaran digital mereka selama 12 bulan mendatang untuk implementasi teknologi digital. Teknologi mutakhir yang dapat memberikan nilai tambah – termasuk di antaranya adalah teknologi sensor Internet of Things (IoT) dan teknologi edge-computing, gabungan realitas dan virtual (mixed reality), mobilitas (mobility) dan blockchain/smart contacts – belum diimplementasikan secara maksimal atau hanya sebagai program percontohan sehingga cenderung menerima investasi lebih sedikit dibandingkan dengan teknologi lainnya selama setahun kedepan.

Mengingat hal ini, sangat penting bagi perusahaan minyak dan gas bumi untuk menyusun strategi digital perusahaan secara lebih efisien, melihat bahwa seperempat (24 persen) dari eksekutif yang disurvei menyebutkan bahwa saat ini tidak ada peran yang jelas di dalam organisasi dalam mengarahkan strategi digital perusahaan.

Sebanyak 43% melaporkan bahwa strategi digital yang kurang jelas menjadi halangan akan meningkatnya implementasi teknologi digital di perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi.

Namun, saat ini perubahan ke arah positif sedang terjadi. Saat ini, 11 persen dari responden mengatakan bahwa di perusahaan mereka sudah ada Chief Digital Officer yang menentukan agenda digital perusahaan.

Banyak juga di antaranya sedang melakukan perubahan manajemen perusahaan untuk mendorong kemajuan transformasi digital dan untuk meningkatkan konvergensi antara teknologi informasi dan sistem operasional sebagai bagian proses bisnis. Secara lebih spesifik, sepertiga (34 persen) dari perusahaan yang disurvei tengah membangun struktur organisasi baru, lebih dari seperempat (28 persen) membentuk komite pengarah perusahaan (steering committee) dan 15 persen memperkuat jajaran manajemen puncak (C-level) baru.

Menurut Managing Director Resources Operating Group Accenture Mark Teoh saat ini, perusahaan minyak dan gas bumi hanya mendapatkan sebagian kecil dari nilai yang dapat dihasilkan perusahaan yang melakukan implementasi digital.

Langkah selanjutnya adalah menggabungkan dan mengimplementasikan berbagai macam teknologi tingkat lanjut untuk memperbarui proses bisnis perusahaan dan mendorong transformasi di seluruh lini pabrik minyak dan gas bumi.

Accenture Disruptability Index menunjukan bahwa di masa depan, industri energi akan paling rentan dalam menghadapi disrupsi digital. Meningkatkan investasi di bidang digital serta melakukannya secara berencana dapat lebih meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan, serta membantu perusahaan menghadapi disrupsi digital tersebut.

"Sudah terlihat bahwa perusahaan minyak dan gas bumi tengah menyadari hal ini, dan sedang mengambil tindakan untuk mendapatkan lebih banyak manfaat dari teknologi digital," katanya dalam keterangan, belum lama ini.

Serangan Siber
Lebih lanjut dikatakannya, seiring meningkatnya jumlah serangan siber, kebutuhan akan ketahanan dan tanggapan siber juga terus meningkat.

Memang, 28% dari responden menyatakan melihat lebih banyak serangan siber dibandingkan tahun lalu. Lebih menghawatirkan lagi adalah pada saat operasional perusahaan menjadi semakin terhubung (connected) dan lebih rentan akan ancaman siber, sepertiga (33 persen) responden mengatakan bahwa mereka tidak menyadari berapa jumlah serangan siber yang sedang mereka alami.

Kebutuhan akan investasi digital terus meningkat, seperti yang dinyatakan 38 persen dari responden yang mengemukakan bahwa keamanan data menjadi halangan akan adopsi teknologi digital dalam perusahaan. Responden menyatakan bahwa risiko yang paling sering dikaitkan oleh keamanan siber adalah dampak terhadap operasional perusahaan (67 persen), dampak terhadap kesehatan dan keamanan tenaga kerja (39 persen) dan serangan data (39 persen).

Namun, hanya 28 persen dari eksekutif yang disurvei menyatakan bahwa perangkat digital (digital tools) dapat meningkatkan keamanan siber (cybersecurity) di salah satu dari tiga bidang prioritas utama untuk investasi teknologi digital.

Telin
Responden lebih khawatir akan dampak kurangnya investasi digital akan daya saing perusahaan (dinyatakan oleh lebih dari 67 persen responden), bagaimana digital dapat membantu mengurangi pengeluaran dan meningkatkan marjin perusahaan (64 persen) dan dampak kurangnya investasi digital akan keandalan operasional perusahaan (58 persen).

Country Managing Director Accenture Indonesia Neneng Goenadi mengatakan teknologi digital memungkinkan perusahaan menjadi lebih terhubung, namun, sekaligus meningkatkan kerentanan perusahaan akan beragam risiko digital. "Kebutuhan akan investasi digital terus meningkat agar perusahaan dapat mempersiapkan diri terhadap ancaman-ancaman siber. Untuk menjaga operasional perusahaan, investasi dalam kemampuan keamanan dasar (fundamental security capabilities) sangat penting," pungkasnya.(ak)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Tcash Merdeka
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
300x250-UNL5000-sahur.jpg
More Stories
Smartfren Unlimited 4G
telkom sigma
Kerjasama CSI