telkomsel halo

Menanti Kepak RTV di Udara

12:10:51 | 04 May 2014
Menanti Kepak RTV di Udara
Ilustrasi (Dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) – Riset yang dilakukan Media Partners Asia (MPA) lumayan membuat nglier para pemodal yang ingin bermain di media, khususnya televisi.

Dalam riset MPA diprediksi pada 2016 mendatang nilai bisnis iklan bisa mencapai US$ 3,6 miliar dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) dari 2013 hingga 2016 sekitar 14,8%. Pada 2014 ini diperkirakan nilai iklan yang diperebutkan mencapai US 2,6 miliar.

Pemilik stasiun televisi Free to Air (FTA) diyakini ketiban berkah besar karena alokasi belanja iklan banyak untuk sektor ini. Stasiun televisi FTA dalam prediksi MPA di 2012 menguasai sekitar 67,8% dari total belanja iklan yang mencapai US$ 2 miliar. Pada 2016, alokasi belanja iklan untuk stasiun FTA bisa mencapai 69% dari total belanja iklan.

Di FTA, para pemain besar dengan audience share-nya adalah CT Corp sebesar 22,8%, Elang Mahkota (24,1%), Grup MNC (64,8), Viva (11%), serta Metro TV sekitar 2%.

Hal yang menarik adalah di FTA tidak dikeluarkan lagi ijin oleh pemerintah. Alhasil, jika ada pemain baru ingin masuk strateginya melalui akuisisi TV berjaringan di daerah-daerah atau menjadi penyedia konten bagi TV-TV daerah dan TV berbayar.

RTV
Pilihan masuk melalui TV daerah ini dilakukan oleh pemain baru, kelompok usaha Rajawali dengan merek dagang Rajawali TV (RTV). Slogan yang dipilih adalah Untukmu Indonesia.

RTV resmi mengenalkan nama barunya pada Sabtu(3/5) kemarin. RTV merupakan televisi nasional berjaringan yang telah mengudara di lebih dari 30 kota di seluruh Indonesia. Sebelumnya, RTV dikenal dengan nama BChannel.

Nama Rajawali dipilih karena  melambangkan kekuatan di angkasa, selain mencerminkan grup usaha di belakang stasiun televisi ini.
 
Grup Rajawali adalah kelompok bisnis yang didirikan pada tahun 1984 oleh Peter Sondakh. Bidang-bidang yang digeluti dan menjadi bisnis utama grup ini adalah perkebunan, pertambangan dan properti. 

Bisnis media bukan merupakan hal baru bagi Grup Rajawali, karena pada tahun 1987 Peter Sondakh mendirikan stasiun televisi RCTI, yang merupakan TV swasta pertama di Indonesia.

CEO Grup Rajawali Peter F Sondakh mengharapkan RTV dapat berperan aktif, bukan hanya menyajikan hiburan tetapi juga memberi inspirasi, memberikan yang terbaik bagi bangsa dan dapat menjadi agen perubahan.

Fokus Pasar
“Kami ingin mengubah persepsi masyarakat karena RTV akan hadir membawa banyak perubahan dan pembaharuan,” kata Direktur Utama Rajawali Televisi, Maria Goretti Limi, belum lama ini.

Direktur Pengembangan Bisnis Rajawali Televisi Satrio Tjai menambahkan, RTV akan terus mengembangkan diri baik dalam kualitas konten, siaran dan juga jangkauan siaran. 

Untuk masyarakat yang menggunakan TV berbayar, RTV sudah dapat dinikmati di Telkomvision, Aora, Firstmedia,Skynindo, Nexmedia, TopasTV, BigTV dan Max3 Biznet. Kabarnya pihak RTV tengah menjajaki juga kerjasama dengan Indovision tak lama lagi.

Target utama pemirsa RTV adalah keluarga mulai dari anak-anak hingga dewasa, dengan titik berat wanita tanpa meninggalkan penonton pria. Proporsi pemirsa perempuan nasional diperkirakan 60%.

Sebelumnya sejak mengudara pada 1 November 2009, B Channel menyasar penonton dari kalangan keluarga lewat acara hiburan, soft news, dan variety show.

“Populasi wanita lebih besar dan wanita memiliki kesempatan menonton TV lebih banyak. Selain itu, wanita juga memiliki peran utama dalam pengambilan keputusan pembelian barang konsumsi,” jelas Satrio. 

Rajawali Televisi juga akan mengisi sebanyak 70%  tayangan hasil produksi sendiri. Strategi memperbanyak tayangan in-house production ini bertujuan untuk melekatkan citra dan ciri khas Rajawali Televisi di benak penonton.

Akankah kepak sayap RTV kuat bersaing di udara Indonesia? Kita lihat saja nanti.(id)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
H_300x250.png
More Stories
telkom sigma
Kerjasama CSI