telkomsel halo

2030, Indonesia butuh 17 juta talenta digital

13:20:33 | 15 Okt 2018
2030, Indonesia butuh 17 juta talenta digital
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Indonesia sedang menyiapkan sejumlah langkah strategis guna memacu pertumbuhan ekonomi digital.

Salah satu caranya adalah meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang melek terhadap teknologi terkini.

“Di tahun 2030, agar Indonesia siap menjadi e-economy, dibutuhkan sebanyak 17 juta human talents yang melek teknologi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai ikut pertemuan antara Komite Pengarah Pelaksanaan Peta Jalan Sistem E-dagang dengan pendiri Alibaba Group, Jack Ma di Nusa Dua, Bali, seperti disiarkan situs Kemenperin Sabtu (13/10).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangkaian Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF-WBG) 2018. Anggota Komite Pengarah Pelaksanaan Peta Jalan Sistem E-dagang yang hadir, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menperin Airlangga, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, serta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso.

Menperin menyampaikan, Alibaba ingin membangun Jack Ma Institute of Entrepreneurs di Indonesia. Upaya ini bakal turut berkontribusi dalam menumbuhkan wirausaha dan SDM terampil melalui peran pendidikan sesuai kebutuhan di era ekonomi digital. “Tentunya mereka sudah punya model sendiri dan diharapkan menjadi prototype untuk menciptakan SDM kita lebih berkualitas,” tuturnya.

Saat ini, Alibaba sudah menerima beberapa pejabat Indonesia yang ikut pelatihan mengenai perkembangan teknologi digital di Tiongkok. Para peserta ini melihat langsung fasilitas di sana. Selanjutnya, akan disusul dengan pelatihan untuk para tech leaders. "Kemudian, Pemerintah Indonesia akan menyelenggarakan trainning lanjutannya,” terang Airlangga.

Mengenai materi yang akan diberikan dalam pelatihan di Jack Ma Institute of Entrepreneurs, menurut Menperin, masih digodok bersama dan nanti difinalkan oleh Jack Ma.

Beberapa materi yang menjadi fokus perhatian di antaranya terkait tentang pengelolaan komputasi awan (cloud computing), teknologi keuangan (termasuk blockchain), dan infrastruktur internet.

“Sedangkan, pemerintah akan menyiapkan regulasinya, seperti mengenai fintech. Tetapi untuk yang lain, Jack Ma hadir sebagai advisor pemerintah. Selain itu, kami juga sudah menyiapkan seandainya untuk mendorong sistem bantuan sosial melalui fintech,” paparnya.

Airlangga menegaskan, langkah kolaborasi dalam membangun kualitas SDM dan penerapan teknologi digital ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. “Di dalam roadmap, kita akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga 1-2 persen serta potensi penambahan sebesar US$200 miliar di tahun 2030,” ungkapnya.

Sementara itu, Jack Ma menjelaskan, pihaknya menargetkan setiap tahun dapat mencetak seribu pemimpin teknologi di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.

“Kami akan memberi banyak kesempatan bagi anak muda Indonesia untuk belajar, misalnya melalui pelatihan bagi 300 pengembang dan insinyur tentang pengelolaan komputasi awan,” ujarnya.

Ma menambahkan, penting bagi Indonesia untuk berinvestasi dalam meningkatkan kompetensi SDM. “Karena ketika orang semakin bertambah, pikiran orang berubah, dan keterampilan orang meningkat, maka kita harus dapat memasuki periode digital,” ucapnya. Ia pun menekankan pentingnya mengasah keberanian anak muda untuk terus berinovasi.

Dorong Adopsi
Asal tahu saja, Kementerian Perindustrian terus mendorong percepatan adopsi teknologi digital di sektor industri manufaktur nasional. Upaya ini penting untuk membuka kunci pertumbuhan dan produktivitas serta penghubung guna menghasilkan inovasi produk yang berkualitas dan kompetitif di pasar global.

“Lebih dari 60% kegiatan manufaktur dapat diotomatisasi dengan teknologi digital. Perubahan-perubahan ini mendorong dunia menuju masa depan produksi yang yang terintegrasi,” kata Airlangga.

Pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan inovasi menjadi ciri implementasi revolusi industri 4.0. Misalnya, nanti perusahaan manufaktur, pemasok peranti, dan pelanggannya akan terhubung pada platform internet of things (IoT).

“Berdasarkan beberapa hasil studi internasional, penerapan industri 4.0 dapat menambah total market ekonomi kita hingga USD200 miliar di tahun 2030. Selain itu, juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2%,” ungkapnya.

Bahkan, survei McKinsey (2018) menyebutkan, teknologi digital dapat memberi sumbangsih sebesar US$3 triliun untuk pasar ekonomi global pada 2030. Itu setara dengan 16% lebih tinggi dari total produk domestik bruto (PDB) sedunia pada saat ini.

Dipaparkannya, 17 juta tenaga kerja yang dimiliki Indonesia harus dimaksimalkan kemampuan dan kapasitas digitalnya pada tahun 2030. Total jumlah tenaga kerja tersebut meliputi satu juta profesional digital, termasuk insinyur perangkat lunak, ilmuwan komputer, dan analisis tingkat lanjut.

Selanjutnya, tiga juta fasilitator digital yang dapat memperkenalkan praktik digital kepada orang-orang dengan pengalaman digital terbatas, dan 13 juta pemimpin digital-savvy (akrab dengan teknologi) yang bisa menjadi memimpin timnya menjadi juara.

Lebih lanjut, teknologi industri 4.0 dinilai akan memberdayakan tenaga kerja di sektor manufaktur, dengan sepertiga tugas mereka hampir sepenuhnya mengalami otomatisasi. Hal ini dapat mengalihkan fokus dari pelaksanaan tugas yang berulang dan tidak efisien kepada penciptaan inovasi.

“Jadi, teknologi industri 4.0 akan menghasilkan pertumbuhan inklusif dan membawa manfaat ke luar dinding pabrik. Ada potensi produk dan layanan baru bagi masyarakat dan mendukung lingkungan dengan mengoptimalkan konsumsi sumber daya,” imbuhnya.

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, telah ditetapkan lima sektor manufaktur yang akan menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri keempat di Tanah Air. Kelima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronika.

“Dengan industri 4.0, sektor makanan dan minuman kita bisa kompetitif di Asean dan go global. Kita ingin membangun pusat inovasi dengan menggandeng Jepang dan Australia untuk peningkatan kualitas produk, layanan serta smart packaging, termasuk juga membuat standarisasi. Dan, Bali bisa jadi hub untuk innovation center di sektor ini,” ungkap Menperin.

Sementara, industri otomotif ditargetkan mampu memproduksi mobil sebanyak dua juta unit per tahun dan terjadi peningkatan utilitas sebesar 70 persen. “Beberapa industri otomotif kita sudah piloting industri 4.0. Saat ini, Indonesia dan Thailand menjadi pemain otomotif terbesar di Asean,” imbuhnya.

Untuk industri tekstil dan produk tesktil, Indonesia adalah salah satu negara terbesar eksportir bersama Vietnam dan Bangladesh. “Tetapi kita sudah meningkat ke level value chain yang lebih tinggi. Industri kita sudah produksi beberapa fashion product dan 3D printing or cutting. Saat ini banyak masyarakat kita yang bekerja di pabrik tekstil, pakaian, dan alas kaki. Ini menjadi sektor padat karya dan berorientasi ekspor,” jelas Airlangga.

Di samping itu, Indonesia tengah berupaya mengembangkan biofarmasi dan kimia. “Apalagi, Indonesia ada program BPJS yang mencakup 170 juta peserta, serta punya data yang spesifik untuk penyakit spesifik. Kalau ditambah dengan artificial intelligent dan data analisis, kita bisa riset untuk kesehatan dan penyediaan jasa di sektor ini,” lanjutnya.(ak)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
H_300x250.png
More Stories
telkom sigma
Kerjasama CSI