telkomsel halo
finnet KTM

Sektor telekomunikasi tetap seksi, saham TLKM layak dikoleksi

13:56:00 | 28 Sep 2018
Sektor telekomunikasi tetap seksi, saham TLKM layak dikoleksi
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Sektor telekomunikasi tetap dianggap atraktif untuk berinvestasi seiring terus membaiknya margin layanan data dan potensi pertumbuhan jangka panjang yang ditawarkan bisnis Halo-halo bagi investor.

Mengutip riset yang diterbitkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Giovanni Dustin pada 28 September 2018, terungkap operator telekomunikasi di Indonesia belum melakukan perubahan tarif data setelah melakukan koreksi sejak sejak Juli 2018.

Telkom melalui Telkomsel terlihat berusaha mempertahankan yield yang tinggi dari layanan data. Untuk layanan Telkomsel Flash 1Gb Effective data yield (Rp/GB) sebesar Rp 55 ribu. Indosat untuk 5Gb sebesar Rp13 ribu, dan XL Axiata Rp11,800.

Telkomsel telah menaikkan tarif datanya sejak Juli lalu sekitar 4-11%. Sementara Indosat setelah Idul Fitri merevisi tarif datanya  bervariasi mulai 4%, 15%, 25%, hingga 40% tergantung jenis paket data yang dipilih pelanggan. Tantangan bagi Indosat adalah kualitas jaringannya, karena banyak menawarkan paket unlimited yang bisa membebani kinerja dalam akses data bagi pelanggan.

Saat ini Indonesia belum masuk ke tahap jenuh dalam konsumsi layanan data dimana. Strategi menerapkan "Bermacam tarif data" dikisaran 30% yang ditawarkan Telkomsel dianggap bisa menjaga basis data pelanggannya. 

"Kami percaya bahwa peningkatan data yield saat ini lebih didasarkan pada "itikad baik/good faith" antar operator, karena semua operator ingin registrasi SIM Card menjadi sukses dan bermanfaat untuk jangka panjang. Akan tetapi, apabila peraturan registrasi tidak diperketat, kami melihat adanya kemungkinan  registrasi SIM card gagal membawa perubahan jangka panjang dan persaingan akan kembali seperti sebelumnya," ulasnya.

Mengingat ketidakpastian yang tinggi, investor disarankan memilih saham milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), karena emiten ini menawarkan karakteristik saham defensif (fundamental kuat, risiko rendah), tetapi tetap dibarengi dengan potensi pertumbuhan yang tinggi.

Diperkirakan Telkom akan mengalami peningkatan marjin Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA) pada semester kedua 2018 didorong oleh pemulihan hasil data dan stabilisasi pertumbuhan biaya. Secara keseluruhan, diperkirakan marjin EBITDA TLKM akan stabil pada tingkat pertengahan 40% dalam tiga tahun ke depan.

Salah satu kunci keberhasilan meningkatkan EBITDA adalah kemampuan manajemen mengendalikan sebagian besar komponen biaya tetap, biaya operasi dan pemeliharaan.

Saham Telkom sendiri di akhir Agustus 2018 ditutup di kisaran Rp 3.490 per lembar dan 27 September 2018 ditutup di 3.580.(dn)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma